Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Presiden Prabowo Subianto (Instagram/@prabowo)
Fauzah Hs

Baru-baru ini, Sobat Yoursay, kita mendengar kabar melegakan dari Aceh. Presiden Prabowo Subianto, usai melaksanakan shalat Id di Masjid Darussalam, Aceh Tamiang, menyatakan bahwa pemulihan pascabencana banjir dan longsor Aceh hampir 100 persen rampung. Warga disebut sudah keluar dari tenda, listrik menyala, dan bantuan sudah sampai ke tangan yang berhak. Mendengarnya saja, hati kita pasti ikut adem, bukan? Rasanya tenang mengetahui saudara-saudara kita di sana sudah bisa berlebaran dengan layak.

Tapi, tunggu dulu. Mari kita lihat lebih dekat, Sobat Yoursay.

Masalahnya, klaim kesuksesan yang meluncur dari lisan orang nomor satu di Indonesia ini seperti menghantam tembok realitas yang sangat keras. Kritik netizen dan kesaksian warga di media sosial justru menceritakan kisah yang 180 derajat berbeda.

Ada laporan memilukan dari Desa Alur Jambu hingga Desa Sulum, di mana warga—termasuk lansia dan bayi—ternyata masih meringkuk di bawah tenda pengungsian dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Lantas, dari mana sebenarnya Presiden mendapatkan data keberhasilan tersebut? Mengapa ada jurang yang begitu lebar antara narasi resmi pemerintah dengan fakta yang dilihat langsung oleh mata rakyat di lapangan?

Hal yang paling menyesakkan dada adalah dugaan adanya upaya pencitraan demi menyambut kedatangan sang pemimpin. Ada suara-suara sumbang yang menyebutkan bahwa tenda-tenda pengungsian di pinggir jalan kota dipaksa bongkar agar terlihat rapi dan seolah-olah masalah sudah selesai.

Sobat Yoursay, jika ini benar terjadi, maka kita sedang menyaksikan sebuah tragedi kemanusiaan yang ditutup-tutupi oleh birokrasi yang hanya haus pujian. Menghapus jejak penderitaan dari pandangan mata Presiden tidak sama dengan menyelesaikan masalah. Itu hanyalah tindakan pengecut untuk menyembunyikan ketidakmampuan dalam mengelola pemulihan bencana secara tuntas.

Publik pun akhirnya skeptis terhadap kemampuan verifikasi data di lingkaran tertinggi kekuasaan. Seperti yang disuarakan oleh banyak pengamat, seorang pemimpin tidak akan bisa merumuskan solusi yang tepat jika ia sendiri tidak memahami kedalaman masalahnya.

Jika Presiden terus-menerus disuguhi laporan "Asal Bapak Senang" (ABS) oleh jajarannya, maka kebijakan yang diambil selanjutnya akan selalu meleset dari sasaran. Kejujuran data adalah harga mati dalam penanggulangan bencana. Mengklaim listrik sudah pulih sepenuhnya sementara warga masih gelap-gelapan di tenda adalah bentuk pengabaian yang sangat sistematis terhadap penderitaan rakyat. Apakah harga diri sebuah instansi lebih penting daripada nasib pengungsi yang tidak punya ketupat di meja Lebarannya?

Lebaran tahun ini di beberapa sudut Aceh sepertinya tidak dihiasi dengan kemeriahan, melainkan dengan harapan tipis yang mulai menguap. Sobat Yoursay, bayangkan rasanya menjadi pengungsi yang mendengar kabar di televisi bahwa daerahnya sudah pulih 100 persen, padahal untuk sekadar tidur nyenyak pun mereka masih harus berbagi ruang dengan air yang mungkin kembali naik kapan saja.

Pernyataan Presiden yang menyebut "hampir 100 persen rampung" seolah-olah menjadi penutup paksa bagi penderitaan mereka, padahal bab tentang pemulihan ekonomi dan tempat tinggal baru saja dimulai. Ini adalah bentuk kesalahan komunikasi sekaligus kegagalan empati yang dibungkus oleh data-data yang dipoles sedemikian rupa.

Melihat fenomena di Aceh ini, kita jadi bertanya-tanya tentang banyak hal lain dalam hidup kita sehari-hari. Berapa banyak masalah di negeri ini yang dianggap "sudah beres" hanya karena permukaannya sudah dicat ulang? Berapa banyak kebijakan yang diambil berdasarkan bisikan manis para pembantu yang takut berkata jujur pada atasannya?

Sebagai penutup, duka Aceh adalah pengingat bahwa transparansi masih menjadi barang mewah di birokrasi kita. Jangan biarkan narasi keberhasilan semu membungkam teriakan minta tolong dari mereka yang masih terjebak di pengungsian.

Mari kita terus suarakan kondisi saudara-saudara kita di Aceh. Jangan sampai sorak-sorai klaim kesuksesan menutup telinga kita dari suara lirih warga yang merayakan Lebaran di balik terpal pengungsian. Bagaimana menurut Sobat Yoursay, apakah kalian percaya dengan klaim "100 persen rampung" tersebut, atau kalian punya informasi lain dari rekan-rekan yang ada di sana?