Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Presiden melangsungkan diskusi dan wawancara bersama sejumlah jurnalis, pengamat, dan pakar di Hambalang pada Selasa (17/3). (Instagram/presidenrepublikindonesia)
Fauzah Hs

Sobat Yoursay, pernah nggak sih kamu ditantang taruhan yang nilainya nggak main-main? Misalnya, mempertaruhkan reputasi atau jabatan demi satu ide yang belum tentu semua orang setuju. Rasanya pasti deg-degan, kan? Nah, suasana serupa muncul saat Presiden Prabowo Subianto membahas program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam video wawancara eksklusif "Presiden Prabowo Menjawab". Di sana, beliau melontarkan pernyataan yang cukup bikin publik mengernyitkan dahi karena ambisi dan kontroversinya.

Bayangkan saja, beliau secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk "mempertaruhkan" segalanya demi sepiring makan gratis. Prabowo menegaskan dengan nada bicara yang mantap:

"Saya akan bertahan sedapat mungkin untuk mempertahankan MBG. Daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan. Saya pertaruhkan kepemimpinan saya, 2029 kita lihat."

Kutipan ini menarik sekaligus memancing tanda tanya besar di kepala kita. Kenapa? Karena di balik kalimat heroik "daripada dikorupsi lebih baik buat makan rakyat," tersimpan sebuah logika yang sangat berisiko. Pak Presiden seolah-olah memberikan kita dua pilihan saja, antara uangnya dikorupsi atau pilih uangnya buat makan gratis. Tapi, bukankah seharusnya pilihannya adalah uang tidak dikorupsi dan dikelola secara sehat untuk semua sektor secara adil?

Presiden seolah menjadikan korupsi sebagai "pemakluman" atau komparasi untuk menguras anggaran demi program populis. Sobat Yoursay, memberantas korupsi itu kewajiban hukum dan harga mati, bukan sekadar alasan pembenaran untuk membenarkan pengeluaran ratusan triliun rupiah yang secara riset belum teruji efektivitas jangka panjangnya bagi ekonomi makro.

Ambisi ini terasa seperti perjudian besar; jika program ini gagal atau justru menjadi "lapangan korupsi baru" di tingkat pengadaan katering pelosok desa, maka pertaruhan kepemimpinan yang beliau sebutkan tadi bisa menjadi bumerang yang menghantam stabilitas ekonomi kita sendiri.

Namun, menariknya, Pak Presiden tampaknya sadar bahwa di lapangan, "niat baik" saja tidak cukup. Beliau memberikan informasi tambahan yang cukup mengejutkan soal betapa kacaunya eksekusi di tingkat bawah. Beliau bercerita bahwa pemerintahannya sudah mulai bertindak keras terhadap pengelola yang nakal. Bayangkan, Sobat Yoursay, ada lebih dari 1.000 SPPG yang harus disetop karena dianggap tidak memenuhi standar.

Ketegasan ini memang patut diapresiasi, tapi di sisi lain, ini adalah pengakuan dosa yang nyata soal rapuhnya pengawasan. Jika ribuan dapur harus ditutup karena sertifikasi atau sanitasi yang buruk, bukankah itu sinyal bahwa mesin birokrasi kita sebenarnya belum siap mengelola katering raksasa ini tanpa ada "nasi basi" atau penyimpangan anggaran di tengah jalan?

Masalahnya, ambisi yang begitu menggebu ini sering kali mengabaikan realitas angka di atas kertas. Secara logika, menghentikan korupsi tidak otomatis membuat dompet negara langsung tebal dan siap membiayai makan siang jutaan orang setiap hari secara cuma-cuma.

Jika Presiden "keukeuh" mempertahankan MBG sebagai harga mati, sektor krusial lain seperti riset teknologi, kenaikan kualitas guru, atau layanan kesehatan primer bisa saja dipaksa mengalah demi menjaga piring makan tetap terisi. Apakah kita rela kualitas rumah sakit menurun atau subsidi transportasi dipangkas hanya agar semua orang dapat makan gratis yang kualitas menunya pun masih terus "bongkar pasang" seperti yang kita lihat sekarang?

Sobat Yoursay, kita perlu waspada apakah ini murni upaya mewujudkan keadilan sosial atau sekadar ambisi mercusuar yang dipaksakan demi legasi politik. Menjadikan MBG sebagai tolak ukur tunggal keberhasilan di 2029 adalah langkah yang sangat berani, namun sekaligus menunjukkan gaya kepemimpinan yang cenderung sentralistik dan sangat personal. Seolah-olah seluruh nasib bangsa ini hanya digantungkan pada satu program makan-makan. Padahal, kemajuan sebuah bangsa besar bukan cuma soal perut yang kenyang hari ini, tapi soal otak yang cerdas lewat pendidikan bermutu, sistem hukum yang bersih tanpa pandang bulu, dan anggaran yang dikelola secara profesional.

Jangan sampai ambisi pasang badan Presiden ini malah berakhir menjadi beban bagi generasi mendatang. Kita semua ingin anak-anak Indonesia sehat, tapi kita juga ingin mereka memiliki sekolah yang bagus, pekerjaan yang layak, dan negara yang tidak terlilit utang hanya karena keinginan penguasanya yang terlalu menggebu dalam satu aspek saja.

Jadi, menurut kamu, Sobat Yoursay, apakah pertaruhan Pak Prabowo ini adalah bentuk cinta yang tulus dan berani kepada rakyat, atau justru sebuah ambisi kontroversial yang berpotensi membenturkan keinginan politik dengan kemampuan nyata dompet negara kita? Bisakah sebuah piring makan benar-benar menjadi tameng sakti melawan korupsi, atau justru piring itu sendiri yang nantinya bakal diperebutkan oleh para "tikus" koruptor baru di daerah-daerah?