Idulfitri selalu identik dengan momen saling memaafkan dan berkumpul bersama keluarga. Mulai dari chat “mohon maaf lahir batin” sampai tradisi sungkeman, semuanya terasa seperti hal yang wajib dilakukan setiap Lebaran.
Namun di balik itu, ada satu hal yang sering terlewat. Banyak orang menjalani Idulfitrisebagai rutinitas tahunan, tanpa benar-benar memahami apa makna utama dari hari raya tersebut.
Jika ditarik dari makna dasarnya, Idulfitri sebenarnya tidak hanya soal hubungan antar manusia. Lebih dari itu, ada kaitannya dengan proses pribadi setelah menjalani satu bulan penuh di Ramadan.
Selama Ramadan, umat Muslim menahan banyak hal, mulai dari makan dan minum hingga emosi dan keinginan diri. Maka, Idulfitri seharusnya menjadi penanda bahwa proses tersebut menghasilkan sesuatu, bukan sekadar selesai puasa.
Dalam konteks ini, Idulfitri bisa dipahami sebagai momen “kembali”. Bukan hanya kembali makan, tetapi juga kembali ke kondisi diri yang lebih terkontrol dan lebih sadar.
Penjelasan ini juga disampaikan oleh Ustaz Felix Siauw dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Raymond Chin, Rabu (25/03/2026).
“Idul itu artinya hari raya. Fitri itu artinya berbuka. Hari raya berbuka,” ujarnya.
Dari definisi tersebut, terlihat bahwa makna “fitri” tidak hanya dimaknai sebagai suci seperti yang sering dipahami. Ada arti yang lebih sederhana, tetapi justru jarang disadari, yaitu kembali berbuka setelah menahan diri.Pemahaman ini sekaligus meluruskan anggapan yang selama ini berkembang di masyarakat.
“Sebenarnya Idulfitri itu adalah hari berbuka. Makanya orang bilang Idulfitri adalah hari maaf-maafan. Sebenarnya enggak sih, itu hari berbuka, hari raya berbuka,” jelasnya.
Artinya, tradisi maaf-maafan bukanlah inti utama dari Idulfitri. Meskipun begitu, praktik tersebut tetap memiliki nilai positif sebagai bentuk menjaga hubungan sosial.
“Itu budaya bagus, tapi sebenarnya Idulfitri itu adalah hari berbuka,” lanjut Felix Siauw. Ia juga menegaskan, “Mohon maaf lahir dan batin... itu budaya.”
Selain soal makna, Idulfitri juga erat kaitannya dengan konsep kemenangan. Namun, kemenangan yang dimaksud bukan seperti perayaan pada umumnya.
“Jadi Idulfitri karena sudah kemenangan kita itu. Nah, menang atas apa? Menang melawan hawa nafsu,” ungkap Felix Siauw.
Ini menunjukkan bahwa “menang” di sini adalah soal mengendalikan diri, bukan sekadar merayakan.Jika dilihat dari sudut pandang ini, Idulfitri jadi terasa lebih dalam. Bukan hanya momen untuk berkumpul atau libur panjang, tapi juga refleksi apakah seseorang benar-benar berubah setelah Ramadan.
Menariknya, beberapa hal yang dianggap wajib saat Lebaran ternyata tidak selalu berasal dari ajaran utama. Salah satunya adalah ucapan yang sangat populer di Indonesia.
“Minal aidin wal faizin itu cuma ada dalam bahasa Indonesia, minal aidin itu nggak ada dalam bahasa Arab” ujar Felix Siauw. Hal ini menunjukkan bahwa ada unsur budaya lokal yang melekat kuat dalam perayaan Idulfitri di Indonesia.
Fenomena ini membuat Lebaran di Indonesia terasa sangat khas. Ada campuran antara nilai agama dan budaya yang akhirnya membentuk tradisi unik yang tidak selalu ditemukan di negara lain.
Dengan begitu, tidak ada yang salah dengan maaf-maafan atau tradisi lainnya. Hanya saja, penting untuk memahami bahwa itu bukan inti dari Idulfitri.
Pada akhirnya, Idulfitri bukan hanya soal apa yang dilakukan di hari H. Lebih dari itu, maknanya justru terlihat dari bagaimana seseorang menjalani kehidupan setelah Ramadan berakhir.
Baca Juga
-
Gara-Gara Ban, Verstappen Kehilangan Kemenangan di Balapan NLS2 Nurburgring
-
Cuma di Bali! Saat Nyepi, Bandara Internasional Bisa Tutup Total Seharian
-
Awalnya Cuma Lelucon April Mop, BMW Sulap M3 Touring Jadi Mobil Balap
-
Sony WF-1000XM6: TWS Bentuk Kacang dengan ANC Paling Nyaman
-
Kawasaki KLE 500, Moge Adventure Murah Siap Bikin Pabrikan Lain Ketar-ketir
Artikel Terkait
Kolom
-
Hemat Pangkal Kaya? Masihkah Relevan di Era Ini atau Perlu Dievaluasi
-
Produk Desa Masuk Marketplace: Rahasia Produk Naik Kelas Jalur Branding
-
WFA Pasca Lebaran: Cara Halus Negara Bilang "Santai Dikit Tapi Tetap Kerja"
-
Lebaran Selesai, Overthinking Dimulai: Cara Saya Hadapi Pasca Hari Raya
-
Di Balik Amplop THR: Lebaran Sebagai Ruang Kelas Sunyi yang Membentuk Karakter Anak
Terkini
-
Papa Zola The Movie Bikin Banjir Air Mata: Kisah Nyata Perjuangan Ayah yang Menguras Emosi!
-
Gara-Gara Ban, Verstappen Kehilangan Kemenangan di Balapan NLS2 Nurburgring
-
Otak-atik Skuad Timnas di FIFA Series Tanpa Gelandang Serang: Apa Siasat John Herdman?
-
Gelombang THR Usai, Saatnya Serbu Lowongan! 5 Jurus Ampuh Dapat Pekerjaan Baru Pasca-Lebaran
-
Menabung Bisa Bikin Kaya? Intip Tips di Buku Good With Money