Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Mahasiswa Perguruan Tinggi (Unsplash/@rutmiit)
Oktavia Ningrum

Banyak dari kita mungkin punya prasangka yang sama. Orang yang mencantumkan gelar akademik di belakang namanya adalah orang yang sedang pamer.

Terlalu formal, terlalu ingin terlihat pintar, atau bahkan terlalu ingin diakui. Namun seiring waktu, cara pandang itu sepertinya perlu diubah. Di balik deretan huruf kecil setelah nama seseorang, ternyata tersimpan cerita panjang yang tidak sesederhana yang kita kira.

Bagi sebagian orang, gelar bukan sekadar simbol pendidikan. Ada orang tua yang tak pernah merasakan bangku sekolah, tetapi menyimpan harapan besar agar anaknya bisa melangkah lebih jauh.

Ada mimpi yang tidak sempat mereka wujudkan sendiri, lalu dititipkan diam-diam kepada anak-anaknya. Betapa bangganya nama singkat mereka dipanggil dan bersanding dengan nama anaknya yang bergelar. 

Di titik inilah gelar menjadi lebih dari sekadar identitas akademik. Ia berubah menjadi bentuk penghormatan. Bukan kepada diri sendiri semata, tetapi kepada orang tua yang mungkin tak pernah mengucapkan harapan itu secara langsung. Mereka yang dulu berhenti sekolah sejak SD, yang hidupnya dihabiskan untuk bekerja, bertahan, dan memastikan anak-anaknya tidak mengalami hal yang sama.

Sering kali kita lupa, tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Bagi sebagian orang, kuliah adalah hal yang wajar. Namun bagi yang lain, itu adalah kemewahan.

Bahkan, sekadar membayangkannya pun mungkin dulu terasa mustahil. Maka ketika seseorang akhirnya berhasil meraih gelar sarjana, magister, atau doktor, itu bukan sekadar capaian pribadi. 

Lebih jauh lagi, ada cerita tentang mereka yang harus berjuang sendiri. Kuliah sambil bekerja, membagi waktu antara tugas akademik dan tuntutan hidup. Bangun pagi untuk bekerja, pulang malam untuk belajar.

Menahan lelah, menunda kesenangan, bahkan sering kali menahan rasa putus asa. Gelar yang mereka dapatkan mungkin hanya “sebaris huruf”, tetapi proses di baliknya adalah bertahun-tahun ketekunan.

Minimal tiga setengah tahun untuk sarjana dan itu pun sering kali lebih lama. Waktu yang dihabiskan bukan hanya untuk belajar teori, tetapi juga untuk bertahan.

Bertahan dari tekanan, dari kegagalan, dari rasa ingin menyerah. Maka ketika gelar itu akhirnya disematkan, wajar jika ia ingin ditampilkan. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk mengakui bahwa perjalanan itu nyata dan layak dihargai.

Ada juga dimensi emosional yang jarang dibicarakan. Ketika seseorang melihat namanya diikuti gelar akademik, ia tidak hanya melihat dirinya sendiri. Ia melihat wajah orang tuanya. Ia mengingat bagaimana mereka bekerja keras, mungkin tanpa banyak kata, demi memberi kesempatan yang dulu tidak mereka miliki. Gelar itu menjadi semacam jembatan, antara masa lalu yang penuh keterbatasan dan masa depan yang lebih terbuka.

Dalam konteks ini, rasa malu untuk mencantumkan gelar justru terasa tidak tepat. Bukan karena gelar harus selalu ditonjolkan, tetapi karena di baliknya ada cerita yang pantas dihormati. Menghapusnya seolah menghapus sebagian dari perjalanan itu sendiri.

Tentu saja, ada orang yang memang menggunakan gelar untuk mencari pengakuan. Itu tidak bisa dimungkiri. Namun menggeneralisasi semua orang dengan cara pandang yang sama adalah bentuk ketidakadilan lain. Kita sering kali melihat hasil, tanpa benar-benar memahami proses.

Hari ini, mungkin kita perlu belajar melihat lebih dalam. Bahwa gelar bukan hanya tentang pendidikan, tetapi tentang kesempatan. Tentang perjuangan. Tentang mimpi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan ketika suatu hari nama kita diikuti oleh gelar itu, mungkin yang kita rasakan bukan kebanggaan semata. Melainkan rasa syukur, karena telah sampai di titik yang dulu hanya bisa dibayangkan oleh mereka yang datang sebelum kita.

Maka, mencantumkan gelar bukanlah soal pamer. Ia adalah cara sederhana untuk berkata: kami berhasil sampai di sini bersama semua perjuangan yang menyertainya.