Kota bukan sekadar deretan bangunan, jalan raya, atau pusat keramaian. Kota adalah ruang hidup yang menyimpan kenangan, kegelisahan, percintaan, kesepian, hingga suara-suara kecil yang sering luput diperhatikan. Hal itulah yang terasa kuat dalam buku Apakah Kota Ini Kamar Tidurku?, kumpulan puisi yang diterbitkan dalam rangka Festival Sastra Kota Malang 2025.
Antologi ini diterbitkan oleh Pelangi Sastra bekerja sama dengan Festival Sastra Kota Malang X. Dengan tema besar “Simpang Kata, Simpang Kota”, buku ini menjadi ruang bagi para penyair Malang Raya untuk menafsirkan kota melalui bahasa puisi. Para penulis yang terlibat berasal dari latar berbeda. Ada yang lahir dan menetap di Malang, ada pula perantau yang mengenal kota lewat jarak dan kerinduan. Perbedaan pengalaman itu justru membuat antologi ini terasa kaya dan hidup.
Isi Buku
Buku setebal 76 halaman ini memuat karya dari banyak nama seperti Agyl Ramadhan, Lalu Ahmad Albani Atsauri, Akmal Nurdwiyan Sasangka, Alfaizi, Ariv R. Hakim, Baitiyah, Berliana Cinta Trisciandini, Candra SW, Eko Rody Irawan, hingga Yesaya Agan. Masing-masing menghadirkan sudut pandang unik tentang kota, terutama Malang, yang dihadirkan bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga ruang emosional.
Judul Apakah Kota Ini Kamar Tidurku? sendiri terasa sangat puitis sekaligus mengandung pertanyaan eksistensial. Kota digambarkan seperti kamar tidur: tempat manusia pulang, beristirahat, menyimpan mimpi, tetapi juga tempat kegelisahan tumbuh diam-diam. Pertanyaan itu seolah mengajak pembaca merenungkan hubungan pribadi dengan kota tempat mereka hidup. Apakah kota benar-benar memberi rasa nyaman? Atau justru membuat penghuninya merasa asing?
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberhasilannya menangkap wajah kota dari detail-detail sederhana. Kota tidak digambarkan secara romantis semata, tetapi juga penuh retakan sosial. Jalan berlubang, kendaraan yang sesak, ruang publik yang terpecah, hingga manusia-manusia yang berjalan dengan kesunyian masing-masing menjadi bagian dari lanskap puisi dalam buku ini.
Puisi “Benteng Terakhir” karya Yesaya Agan menjadi salah satu contoh yang kuat. Dalam puisinya, kota hadir lewat citra jalanan Klojen, lenguh sapi, pedati, dan benteng rumah sakit yang menjadi tempat orang-orang sakit menunggu giliran periksa. Ada suasana muram, tetapi sekaligus sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kota.
“Lenguh sapi menyusuri arteri Klojen, meminta jalan di tengah sesak.”
Larikan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan banyak tafsir. Kota modern yang penuh kendaraan dan kredit seolah bertabrakan dengan sisa-sisa kehidupan lama yang masih bertahan. Ada benturan antara tradisi dan modernitas, antara manusia dan sistem kota yang semakin padat.
Kelebihan dan Kekurangan
Selain kritik sosial, banyak puisi dalam buku ini juga berbicara tentang rasa asing di kota sendiri. Tema perantauan terasa cukup dominan. Beberapa penyair menghadirkan kota sebagai ruang yang melelahkan, tetapi tetap dirindukan. Kota menjadi tempat orang tumbuh sekaligus kehilangan.
Yang menarik, gaya bahasa para penyair dalam antologi ini cukup beragam. Ada yang menggunakan metafora-metafora lembut dan melankolis, ada pula yang memilih diksi lugas dengan nuansa urban yang keras. Keberagaman itu membuat pembacaan antologi ini tidak terasa monoton. Pembaca seperti diajak berpindah dari satu sudut kota ke sudut lainnya, dari gang kecil yang sunyi hingga jalan raya yang bising.
Secara visual, buku ini juga terasa rapi dan sederhana. Desain sampul karya M. Dandy mendukung nuansa reflektif yang dibawa keseluruhan isi buku. Penyuntingan oleh Alra Ramadhan juga berhasil menjaga identitas masing-masing penyair tanpa menghilangkan benang merah antologi.
Lebih dari sekadar kumpulan puisi, Apakah Kota Ini Kamar Tidurku? terasa seperti arsip emosional tentang kota dan manusia-manusia di dalamnya. Buku ini mengingatkan bahwa sastra tidak selalu harus berbicara tentang hal-hal besar. Kadang, kegelisahan tentang jalanan, lampu kota, rumah sakit, atau rasa lelah pulang kerja pun bisa menjadi puisi yang menyentuh.
Bagi pembaca yang menyukai puisi kontemporer dengan nuansa urban dan reflektif, antologi ini layak dibaca. Ia tidak menawarkan jawaban pasti tentang kota, tetapi justru mengajak pembaca terus bertanya: di tengah hiruk-pikuk dan kesibukan, apakah kota masih bisa menjadi tempat pulang yang nyaman?
Identitas Buku
- Judul: Apakah Kota Ini Kamar Tidurku?
- Penulis: Agyl Ramadhan, dkk.
- Penerbit: Pelangi Sastra
- Tahun Terbit: November 2025
- Tebal: xii + 76 halaman
- QRCBN: 62-1759-8501-614
- Genre: Sastra, Puisi Kontemporer Indonesia
Baca Juga
-
Efisiensi atau Pindah Beban? APBN Hemat di Kertas, Rakyat Mahal di Lapangan
-
Televisi Canggih Jadi Pajangan, ke Mana Prioritas Anggaran Pendidikan?
-
Paradoks Negara Tropis: Mengapa Buah Mahal tetapi Makanan Tepung Melimpah?
-
Mengenal Herkansing dan Herexamen: Bukti Bahwa Pendidikan Butuh Ruang untuk Gagal
-
Koperasi Desa Merah Putih: Mau Jadi Apa Sebenarnya?
Artikel Terkait
-
Serunya Hidup Tanpa Rasa Benci di Buku Ismail Fajri Alatas
-
Traveling for Healthy dan Pentingnya Jeda dari Rutinitas Hidup
-
Kritik Ekologi dalam Fabel Camar dan Kucing Karya Luis Seplveda
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Novel Komsi Komsa, Melihat Sisi Lain Sejarah Lewat Pengembara Lintas Negara
Ulasan
-
Ulasan Film Pendek "Berdoa, Mulai": Mengurai Mayoritas di Sekolah Negeri
-
5 Buku Romance yang Diadaptasi ke Film dan Series Tahun Ini, Sudah Nonton?
-
Review Film Other Mommy: Adaptasi Novel Josh Malerman yang Penuh Ketegangan
-
Review Film It Ends: Sajian Sensasi Horor Psikologis yang Bikin Merinding!
-
Review Atonement: Saat Perang Usai, Rasa Bersalah Berubah Jadi Medan Tempur
Terkini
-
Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis
-
Sinopsis Life Trade, Drama Jepang Dibintangi Baba Fumika dan Maki Yoko
-
Stop Kebanyakan Scroll! Saatnya Kamu Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
-
Exynos 2700 Sudah Diproduksi, Apakah Galaxy S27 Ultra akan Pakai Chip Ini?
-
Tanpa Kita Sadari, Politik Mempengaruhi Kehidupan Lingkungan dan Satwa