Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
Ilustrasi dua perempuan (Pexels.com/cottonbro studio)
e. kusuma .n

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi selalu terasa berat bagi perempuan saat dihadapkan pada pilihan karier atau keluarga? Saya sudah mendengarnya sejak lama, terlebih saat masuk ke fase hidup di mana pilihan itu terasa nyata.

Dulu saya menganggapnya sebagai pertanyaan klasik yang mungkin tidak lagi relevan di zaman sekarang. Tapi ternyata, saya salah. Pertanyaan tersebut masih menjadi dilema klasik bagi perempuan.

Semakin saya tumbuh, semakin saya sadar bahwa dilema ini tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk—lebih halus, lebih personal, tapi tetap terasa menekan.

Seolah Harus Memilih, Padahal Ingin Keduanya

Sebagai perempuan, saya sering merasa seperti berada di persimpangan. Di satu sisi, saya punya mimpi. Saya ingin berkembang, punya karier yang jelas, dan merasa “jadi seseorang”. Tapi di sisi lain, ada bayangan tentang keluarga.

Tuntutan peran, tanggung jawab, dan ekspektasi yang tidak pernah benar-benar diucapkan itu selalu ada. Masalahnya, kenapa seolah-olah saya harus memilih salah satu? Kenapa tidak bisa keduanya berjalan berdampingan?

Pertanyaan ini sering muncul, tapi jawabannya tidak pernah sesederhana itu. Perempuan, meski sudah melalui jalan emansipasi, tetap saja “dipaksa” memilih.

Ekspektasi yang Tidak Pernah Benar-benar Pergi

Meskipun zaman sudah berubah, tapi saya masih merasakan bagaimana ekspektasi terhadap perempuan tetap kuat. Ketika fokus pada karier, muncul pertanyaan: “Kapan menikah?”, “Tidak takut terlambat?”

Namun, saat  mulai memprioritaskan keluarga, muncul pertanyaan lain: “Sayang banget, padahal potensinya besar” atau “Kenapa tidak lanjut lagi?”. Seolah-olah, apa pun yang dipilih, selalu ada yang kurang di mata orang lain. Dan jujur, itu melelahkan.

Tekanan yang Datang dari dalam Diri

Yang lebih sulit adalah ketika tekanan itu tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam diri sendiri. Saya pernah merasa bersalah saat terlalu fokus bekerja seolah saya mengabaikan hal lain yang “seharusnya” penting.

Tapi di sisi lain, saya juga pernah merasa kehilangan arah saat tidak berkembang secara personal. Perasaan ini seperti tarik-menarik yang tidak ada ujungnya. Saya ingin menjadi versi terbaik dari diri saya—tapi definisi “terbaik” itu sendiri sering berubah tergantung situasi.

Realita yang Tidak Selalu Ideal

Banyak orang bilang, “semua bisa diatur”, tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Ada fase di mana karier menuntut lebih banyak waktu dan energi. Ada juga fase di mana keluarga membutuhkan kehadiran yang lebih utuh.

Dan di titik itu, saya mulai memahami kalau hidup tidak selalu tentang keseimbangan sempurna. Kadang, kita memang harus condong ke satu sisi. Bukan karena gagal menyeimbangkan, tapi karena memang itu yang dibutuhkan saat itu.

Belajar Mendefinisikan Ulang “Sukses”

Dulu, saya punya gambaran tentang sukses yang cukup jelas: karier yang stabil, pencapaian yang terlihat, dan pengakuan dari orang lain. Tapi sekarang, definisi itu mulai berubah. Saya mulai melihat bahwa sukses tidak selalu harus terlihat “besar”.

Bisa jadi sukses itu adalah saat saya merasa cukup. Saat saya bisa menjalani hari tanpa tekanan berlebih dan tidak lagi terus-menerus membandingkan pilihan saya dengan orang lain. Dan mungkin, itu lebih realistis.

Tidak Semua Harus Tuntas Sekarang

Salah satu hal yang paling melegakan yang saya pelajari adalah tidak semua harus selesai sekarang. Saya tidak harus punya semua jawaban hari ini sebab hidup punya fase.

Ada waktu untuk fokus pada diri sendiri. Ada waktu untuk memberi ruang pada orang lain. Dan itu tidak membuat saya tertinggal. Justru itu bagian dari perjalanan.

Dilema karier atau keluarga mungkin tidak akan pernah benar-benar tuntas karena ini bukan soal memilih satu dan mengorbankan yang lain. Ini soal bagaimana saya memahami diri sendiri, kebutuhan saya, dan apa yang benar-benar penting dalam hidup saya.

Hari ini, saya mungkin belum punya jawaban pasti, tapi saya mulai berdamai dengan itu. Sebab saat ini mungkin yang paling penting bukan memilih dengan sempurna, tapi berani menjalani pilihan yang sudah diambil dengan sadar, tanpa terus merasa bersalah.

Dan mungkin, di situlah letak ketenangan yang selama ini saya cari. Untuk semua perempuan yang sedang ada di persimpangan, tidak pernah ada pilihan yang salah. Kita hanya memilih dan setiap pilihan pasti yang terbaik sesuai kebutuhan saat itu.