Hayuning Ratri Hapsari | Aryo Akhmad Maulana
Ilustrasi sampah organik dari dapur (pixabay.com/Alexas_Fotos)
Aryo Akhmad Maulana

Sampah rumah tangga tidak hanya terbatas pada plastik, tetapi juga sisa-sisa makanan. Jika dibiarkan begitu saja, limbah organik ini bisa mencemari lingkungan. Selain itu, tumpukan sampah ini juga akan mengeluarkan aroma busuk yang menusuk hidung.

Sayangnya, banyak yang masih tutup mata terhadap masalah ini. Mereka menganggap bahwa sampah dapur akan hancur dengan sendirinya. Padahal, ketika menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), limbah ini akan menghasilkan gas metana yang dapat memperparah pemanasan global.

Untungnya, beberapa sampah dapur masih bisa kita manfaatkan. Alih-alih berakhir di tempat sampah, mereka bisa kita gunakan untuk menyuburkan tanaman. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Cangkang telur yang dihaluskan

Cangkang telur mengandung banyak nutrisi di dalamnya. Dilansir Distanpangan Provinsi Bali, produk hewani ini tersusun oleh kalsium karbonat sebanyak 98,5 persen. Nutrisi ini dapat meningkatkan pH tanah dan memperkuat akar tanaman.

Sayangnya, nutrisi dari cangkang telur sulit diserap oleh tanaman. Hal ini karena bahan tersebut sulit terkikis di tanah. Sebagai solusinya, The Spruce menyarankan agar sampah organik ini digiling terlebih dahulu sebelum digunakan. Dengan begitu, pemanfaatannya dapat lebih optimal.

2. Air bekas cucian beras (air leri)

Tidak hanya beras, air bekas cuciannya juga bisa kita manfaatkan. Bukan untuk diminum, melainkan untuk dibuat pupuk organik cair (POC). Limbah satu ini kaya akan kandungan pati (karbohidrat) dan mineral yang mampu menutrisi tanaman. 

Cara membuatnya pun cukup mudah. Setelah membersihkan beras, air bekas cuciannya kita tampung ke dalam wadah tertutup. Lalu, difermentasi sekitar 5–7 hari. Agar hasilnya lebih optimal, bisa juga dengan ditambahkan satu sendok gula merah.

Untuk penggunaannya, pupuk cair ini perlu diencerkan terlebih dahulu. Perbandingannya 1 liter air beras untuk 5 liter air bersih. Campurkan hingga merata, lalu siram ke akar tanaman secukupnya.

3. Kulit pisang yang dikeringkan

Dilansir Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLKH) Kabupaten Mamuju, kulit pisang yang sudah dikeringkan mengandung 42 persen kalium. Unsur mikronutrien ini berguna untuk meningkatkan jumlah bunga dan memperkuat akar tanaman.

Tidak hanya itu, magnesium juga bisa ditemukan pada kulit pisang. Dilansir Agrocares, magnesium merupakan komponen utama dari klorofil (zat hijau daun). Jika jumlahnya terlalu sedikit, proses fotosintesis pada tumbuhan akan terganggu. Tentu ini juga akan memengaruhi pertumbuhannya.

Sebelum dimanfaatkan sebagai pupuk, kulit buah ini perlu dikeringkan terlebih dahulu. Terlebih lagi, jika ia akan digiling dan didistribusikan. Tujuan dari tahap ini yaitu mencegah pertumbuhan jamur dan melindungi kandungan nutrisinya.

4. Ampas kopi yang dikeringkan

Tidak hanya air leri saja, ampas kopi juga bisa kita olah menjadi pupuk penyubur tanaman. Kedua produk sisa ini memiliki kandungan unsur hara esensial yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Bahkan, ampas kopi juga bisa untuk mengusir hama, seperti siput dan bekicot.

Penggunaannya pun cukup mudah. Setelah dikeringkan, ampas ini bisa langsung ditaburkan ke tanah. Sebarkan secara tipis dan rata, lalu tutup dengan tanah agar tidak hanyut ketika hujan. Ulangi cara ini sebanyak 1–2 minggu sekali.

Sayangnya, pupuk ini tidak cocok untuk beberapa tanaman. Pasalnya, ia memiliki pH yang rendah alias asam. Oleh karena itu, hindari penggunaan pada tanaman sukulen dan rosemary.

5. Potongan sayur-sayuran

Potongan sayur yang tidak terpakai bisa kita manfaatkan sebagai pupuk organik. Langkah-langkahnya pun tidak jauh berbeda dengan bahan sebelumnya. Sampah dapur ini perlu dipotong dengan ukuran kecil, lalu dimasukkan ke dalam air cucian beras untuk difermentasi.

Supaya proses fermentasi ini maksimal, tambahkan pula bahan aktivator seperti EM4 atau satu sendok gula merah. Lalu, diamkan di wadah tertutup selama kurang lebih selama 14 hari.

Penting untuk diingat, tahap ini akan menghasilkan gas karbondioksida. Jika dibiarkan, gas ini akan menumpuk dan bisa meledakkan wadah fermentasi. Oleh karena itu, kita perlu membuka tutup wadahnya setiap pagi hari. Sebentar saja, asalkan gas ini bisa keluar dari wadah.

Langkah sederhana dari dapur ini merupakan wujud kepedulian kita terhadap sekitar. Dengan konsisten mendaur ulang, kita tidak hanya berkontribusi pada pengurangan sampah, tetapi juga penghijauan di bumi.