Kasus daycare Little Aresha di Jogja sempat membuat saya berhenti sejenak dari rutinitas karena reaksi yang muncul setelahnya. Alih-alih fokus pada evaluasi sistem pengasuhan anak di daycare, saya justru melihat banyak komentar yang menyudutkan para ibu.
“Ibu kok tega nitipin anak?”. “Harusnya ibu itu di rumah saja”. Kalimat-kalimat seperti itu terasa tidak asing. Dan jujur, cukup mengganggu. Karena di saat yang sama, perempuan juga didorong untuk mandiri, bekerja, bahkan berkarier.
Lalu, sebenarnya perempuan ini diharapkan menjadi apa? Harus mandiri dan independen bahkan setelah menyandang “gelar” sebagai ibu, atau diam di rumah untuk mengurus anak dengan beban finansial?
Dorongan untuk Mandiri yang Tidak Setengah-setengah
Hari ini, perempuan didorong untuk mandiri. Punya penghasilan sendiri. Punya karier. Punya pencapaian. Bahkan sering kali, perempuan yang tidak bekerja justru dipertanyakan.
“Kenapa tidak kerja?” hingga “Sayang kan kalau cuma di rumah?” sering terdengar dan menjadi nada sumbang saat memilih fokus sebagai fulltime mom. Seolah-olah, bekerja adalah bentuk aktualisasi diri yang wajib.
Saya setuju, perempuan punya hak untuk itu. Namun, pada kenyataannya, ibu yang bekerja juga memiliki dilemanya sendiri soal pengasuhan anak yang masih ditambah adanya penghakiman sosial saat sesuatu terjadi pada anak.
Pengasuhan Tetap Dianggap Tanggung Jawab Utama
Masalahnya, ketika perempuan memilih untuk bekerja, tanggung jawab pengasuhan tidak ikut terbagi. Tetap saja, ibu yang jadi pusatnya. Anak sakit? Ibu yang dicari. Anak butuh perhatian? Ibu yang dianggap kurang hadir. Anak dititipkan? Ibu yang disalahkan.
Fenomena ini yang membuat saya merasa ada ketimpangan yang jelas. Perempuan diminta untuk maju, tapi tidak diberi ruang untuk berbagi beban. Pada akhirnya, daycare menjadi solusi yang dianggap terbaik dalam situasi ini.
Daycare Jadi Solusi, Tapi Juga Sumber Penghakiman
Daycare seharusnya menjadi solusi. Tempat yang membantu orang tua, khususnya ibu bekerja, agar tetap bisa menjalankan perannya tanpa harus mengorbankan semuanya. Tapi ironisnya, memilih daycare justru sering jadi alasan untuk dihakimi.
Kasus seperti Little Aresha memperparah stigma itu. Seolah-olah, menitipkan anak sama dengan “tidak bertanggung jawab”. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Saya yakin meninggalkan anak dalam pengasuhan orang lain juga berat bagi ibu bekerja.
Realita yang Tidak Selalu Ideal
Tidak semua keluarga punya pilihan ideal. Tidak semua ibu bisa berhenti bekerja. Tidak semua keluarga punya dukungan penuh di rumah. Ada kebutuhan ekonomi dan ada tanggung jawab yang harus dipenuhi.
Dan dalam kondisi itu, daycare bukan pilihan egois tapi solusi realistis. Dan menghakimi tanpa memahami konteks hanya membuat masalah semakin rumit. Bukannya menyelesaikan penemuan kasus, tapi malah menciptakan beban baru.
Kontradiksi yang Terus Berulang
Yang paling terasa adalah kontradiksi di mana perempuan didorong untuk mandiri, tapi dihakimi saat menjalani konsekuensinya. Diharapkan sukses di luar rumah, tapi tetap dituntut sempurna di dalam rumah.
Dan ketika tidak bisa memenuhi keduanya secara maksimal, perempuan yang disalahkan. Saya sering bertanya, apakah standar ini realistis? Atau kita memang terlalu terbiasa membebani perempuan dengan dua peran tanpa kompromi?
Fokus yang Seharusnya Diperbaiki
Menurut saya, kasus seperti daycare di Jogja ini seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki sistem. Bagaimana daycare bisa lebih aman? Bagaimana regulasi bisa lebih ketat? Bagaimana pengawasan bisa lebih baik?
Bukan malah mengalihkan fokus dengan menyalahkan ibu. Karena masalah utamanya bukan pada pilihan menitipkan anak, tapi pada kualitas dan keamanan tempat penitipan itu sendiri. Dan diakui atau tidak, masyarakat dan pemerintah sudah kecolongan.
Perlu Cara Pandang yang Lebih Adil
Saya percaya, perempuan tidak seharusnya terus berada di posisi yang serba salah. Apa pun pilihannya—bekerja atau fokus di rumah—semuanya valid. Yang dibutuhkan bukan penghakiman, tapi dukungan. Karena pada akhirnya, pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya ibu.
Di sisi lain, kasus daycare Little Aresha Jogja membuka mata saya tentang satu hal penting. Bahwa perjuangan perempuan hari ini bukan hanya soal mendapatkan kesempatan, tapi juga soal menghadapi ekspektasi yang tidak seimbang.
Perempuan diminta untuk mandiri, tapi tidak diberi ruang untuk menjalani perannya tanpa tekanan. Dan itu bukan hal yang adil. Mungkin sudah saatnya kita berhenti menyalahkan pilihan perempuan, dan mulai memperbaiki sistem yang membuat mereka tidak punya banyak pilihan.
Karena menjadi ibu bukan berarti harus mengorbankan segalanya. Dan menjadi perempuan mandiri bukan berarti harus siap dihakimi kapan saja. Perlu cara pandang yang lebih adil dari seluruh tatanan sosial.
Baca Juga
-
Berhenti Menyalahkan Ibu: Tragedi Daycare Bukan Salah Mereka, Tapi Kegagalan Sistem!
-
Antara Takut Daycare dan Realita Finansial: Haruskah Ibu Bekerja Resign?
-
Dilema Ibu Bekerja dan Isu Daycare Nakal: Antara Bertahan, Percaya, & Cemas
-
Realita Perempuan di Media Sosial: Antara Eksistensi dan Tekanan
-
Kerja Keras, tapi Kurang Diakui: Nasib Perempuan di Dunia Profesional
Artikel Terkait
Kolom
-
Self-Service di Rumah Makan: Benarkah Pelanggan Kini Semakin Dimudahkan?
-
Bukan Sekadar Belasan Ribu, Ini Masalah Struktural di Balik Penjualan LKS
-
Ketika Kesempatan Tidak Pernah Setara: Pendidikan Inklusif atau Ilusi?
-
Dipaksa Cukup untuk Segala Hal, Ironi Pendidikan Masyarakat Menengah
-
Atas Nama Pembangunan: Menggugat Praktik Sumbangan Wajib di Sekolah
Terkini
-
Drama Korea Hotel Del Luna: Hilang dari Mata, Tapi Tetap Terasa
-
5 HP Samsung dengan Kamera Paling Gahar 2026, Hasil Foto Bikin Takjub
-
Setelah 4 Tahun, Sword Art Online Bagikan Update Film Anime Original Baru
-
Membantu Tanpa Membedakan: Membaca Kehidupan dari Sisi yang Jarang Disapa
-
4 Rekomendasi Toner dengan Hyalu-Cica, Rahasia Kulit Tenang dan Terhidrasi