Sekar Anindyah Lamase | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Shopping and Traveling (magnific.com/freepik)
Ukhro Wiyah

"Shopping is healing."

"Traveling is healing."

Pernah dengar dua kalimat itu?

Banyak orang mungkin sering mendengar pernyataan tersebut dari orang di sekitarnya. Dalam beberapa tahun terakhir, kesehatan mental dan healing kerap menjadi pembicaraan masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Dari sana muncul pemahaman baru tentang healing yang sering diidentikkan dengan liburan atau belanja. Mereka menganggap bahwa mengeluarkan uang untuk membahagiakan diri sendiri adalah cara untuk melepas penat dan memperbaiki suasana hati.

Namun, apakah benar demikian makna dari kata healing itu sendiri?

Mengutip dari beberapa situs kesehatan, healing diartikan sebagai proses pemulihan diri dari luka emosional. Proses ini bertujuan untuk membebaskan seseorang dari emosi yang terpendam, serta membangun ketahanan, kesadaran, dan keseimbangan emosional agar mampu membuat keputusan yang baik tanpa dikuasai emosi.

Namun, dewasa ini, sepertinya makna healing sudah sedikit mengalami pergeseran, terutama di kalangan Gen Z. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal SABANA (Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara) tahun 2026 menemukan bahwa Gen Z memaknai healing sebagai upaya mengambil jeda dari berbagai rutinitas. Dalam praktiknya, aktivitas healing dianggap identik dengan kegiatan santai, seperti liburan, menikmati suasana alam, menonton film atau acara hiburan, serta aktivitas lain untuk beristirahat dari beban akademis maupun tuntutan sosial.

Akan tetapi, penelitian yang sama juga menemukan adanya anggapan bahwa budaya healing merupakan bagian dari gaya hidup. Pandangan ini terbentuk akibat tren yang muncul di berbagai media sosial. Anak muda yang banyak terpapar media digital kerap mengonsumsi konten traveling sebagai upaya penyembuhan luka emosional. Tak hanya itu, penelitian lain dari UIN Sunan Gunung Djati yang dipublikasikan pada 2021 menyebutkan bahwa tidak sedikit anak muda yang menganggap belanja sebagai bentuk healing. Shopping dinilai dapat meredakan stres karena memicu respons yang berkaitan dengan perasaan senang di otak.

Namun demikian, perlu disadari bahwa aktivitas seperti shopping dan traveling dapat berubah menjadi perilaku konsumtif yang tidak sehat bagi kondisi finansial di masa depan. Ketika shopping digunakan sebagai pelampiasan emosi, seseorang bisa kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Belanja seolah hanya menjadi cara untuk memperbaiki suasana hati tanpa pertimbangan yang matang. 

Traveling pun demikian. Karena menganggapnya sebagai healing, seseorang bisa berakhir memaksakan diri untuk pergi liburan di tengah kondisi finansial yang belum memungkinkan. Lebih parahnya lagi, mereka bisa mengabaikan perencanaan anggaran, bahkan mengambil pinjaman demi gengsi atau konten healing yang diunggah ke media sosial.

Dampak dari dua persoalan tersebut dapat melahirkan pola "healing sekarang, pusing belakangan". Setelah euforia healing yang katanya menyenangkan itu berakhir, tekanan finansial mulai muncul. Saldo di rekening mulai menipis sehingga kebutuhan sehari-hari menjadi sulit terpenuhi. Jika sudah seperti ini, akhirnya pilihan berbahaya seperti gali lubang tutup lubang pun bisa diambil demi memenuhi kebutuhan sekaligus gaya hidup.

Pada saat yang sama, alih-alih merasa senang, healing yang semacam itu justru membuat orang semakin stres. Kebiasaan konsumtif yang berulang dalam jangka panjang bisa membuat seseorang sulit membangun dana darurat dan menunda tujuan keuangan yang jauh lebih penting.

Meskipun demikian, shopping dan traveling tidak lantas menjadi sesuatu yang salah dan tidak boleh dilakukan. Tidak semua pengeluaran yang bertujuan untuk kesenangan bersifat negatif. Yang lebih penting, kita perlu mampu membedakan antara healing yang sehat dan pelarian sesaat yang berdampak negatif pada kondisi finansial.

Sebaliknya, jika aktivitas belanja dan traveling dilakukan secara terencana, kita dapat mengurangi pemborosan dan terhindar dari stres finansial. Selain itu, pengeluaran juga menjadi lebih optimal. Kita bahkan dapat memperoleh pengalaman yang lebih bermakna dan mendapatkan barang dengan kualitas terbaik karena melakukan riset sebelum traveling maupun berbelanja.

Kembali pada makna healing, aktivitas penyembuhan luka emosional sebenarnya tidak harus diwujudkan melalui aktivitas konsumtif. Kita bisa memilih alternatif lain yang lebih hemat, seperti berjalan kaki di ruang terbuka, membaca buku, menonton film, menjalankan hobi, berkumpul dengan keluarga atau teman, istirahat yang cukup, dan berbagai aktivitas sederhana lainnya yang dapat memberikan ketenangan tanpa harus mengeluarkan banyak uang.

Sebab healing yang sesungguhnya bukan tentang seberapa banyak uang yang dihabiskan, melainkan tentang ketenangan yang diperoleh setelah melewati kelelahan emosional. Mengeluarkan banyak uang untuk shopping dan traveling memang dapat memberikan kebahagiaan sesaat. Namun, yang sebenarnya lebih dibutuhkan adalah ketenangan jangka panjang. Bukan senang sebentar, lalu kembali stres saat melihat saldo yang berkurang secara signifikan.