Belakangan ini, gaya hidup ramah lingkungan semakin populer di kalangan generasi muda. Banyak anak muda mulai membawa tumbler sendiri, memakai tote bag, mengurangi sedotan plastik, hingga ikut tren thrifting dan zero waste.
Media sosial juga penuh dengan konten sustainable lifestyle yang terlihat estetik dan menarik. Tidak heran kalau gaya hidup peduli lingkungan sekarang dianggap modern hingga lekat dengan identitas Gen Z.
Menurut saya, tren ini sebenarnya perkembangan yang positif. Setidaknya generasi sekarang mulai sadar kalau bumi sedang menghadapi masalah lingkungan yang serius dan harus ambil bagian di dalamnya.
Namun, di balik kesadaran tersebut, ada satu hal yang cukup ironis. Di saat tren peduli lingkungan meningkat, budaya konsumtif digital juga berkembang sangat cepat, terutama kebiasaan belanja impulsif dengan paylater.
Tumbler Dibawa, Keranjang Belanja Tetap Penuh
Fenomena ini sering terlihat sekarang cukup unik: banyak orang sudah membawa tumbler sendiri ke mana-mana, tapi di waktu yang sama tetap rutin checkout barang online hampir setiap minggu.
Media sosial dipenuhi konten tentang hidup sustainable, tapi juga penuh dengan racun belanja, haul produk, dan promo tanggal kembar yang terus menggoda. Di sinilah letak kontradiksi terbesar gaya hidup era digital.
Di satu sisi ingin hidup lebih ramah lingkungan. Namun di sisi lain juga masih sulit lepas dari budaya konsumsi digital yang sangat agresif. Apalagi teknologi membuat semuanya terasa mudah.
Tinggal klik, bayar, bahkan kalau uang belum cukup pun ada fitur paylater yang membuat belanja tetap bisa dilakukan. Akibatnya, konsumsi menjadi semakin sulit dikontrol dan mengaburkan kebutuhan dengan keinginan sesaat.
Paylater dan Budaya Konsumsi Instan
Kemunculan paylater membuat kebiasaan belanja online semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak anak muda merasa lebih mudah membeli sesuatu karena pembayaran bisa dicicil atau ditunda.
Awalnya mungkin hanya digunakan untuk kebutuhan tertentu. Namun lama-lama, paylater juga dipakai untuk “kebutuhan” mengikuti tren atau sekadar self-reward. Menurut saya, sistem seperti ini membuat budaya konsumtif semakin terasa normal.
Masalahnya, semakin mudah membeli sesuatu, semakin besar pula potensi konsumsi berlebihan. Dan tentu saja, semakin besar konsumsi, semakin besar pula dampaknya terhadap lingkungan.
Sustainable Lifestyle yang Kadang Hanya Jadi Estetika
Hal lain yang cukup menarik adalah bagaimana gaya hidup ramah lingkungan sekarang sering tampil sangat estetik di media sosial. Tumbler dan tote bag lucu, alat makan reusable, sampai produk eco-friendly terlihat menarik untuk dimiliki.
Tanpa sadar, kepedulian lingkungan malah berubah menjadi bagian dari lifestyle dan citra diri. Kondisi ini membuat sebagian orang lebih fokus pada tampilan “aku peduli lingkungan” dibanding benar-benar mengurangi kebiasaan konsumtif.
Akhirnya, budaya belanja tetap berjalan seperti biasa, hanya saja barang yang dibeli memiliki label sustainable atau eco-friendly. Padahal inti dari hidup ramah lingkungan adalah belajar mengurangi konsumsi yang tidak perlu.
Generasi Sadar Lingkungan, Tapi Sulit Lepas dari Konsumtif
Saya rasa kontradiksi ini muncul karena generasi muda sekarang hidup di tengah dua arus besar sekaligus. Di satu sisi ada kesadaran lingkungan yang terus berkembang, di sisi lain sistem digital juga terus mendorong konsumsi tanpa henti.
Promo muncul setiap hari. Media sosial penuh rekomendasi barang viral. Tren berubah sangat cepat. Ditambah lagi ada paylater yang membuat belanja terasa lebih mudah dan instan.
Pada akhirnya banyak anak muda akhirnya sadar soal lingkungan, tapi tetap sulit benar-benar lepas dari gaya hidup konsumtif. Bukan tidak peduli, tetapi karena budaya digital sekarang memang sangat kuat mempengaruhi kebiasaan sehari-hari.
Peduli Lingkungan Tidak Harus Sempurna
Meski begitu, saya rasa generasi muda juga tidak perlu merasa harus langsung sempurna untuk hidup ramah lingkungan. Karena jujur saja, hidup minim sampah di era digital memang tidak mudah.
Yang paling penting sebenarnya adalah mulai lebih sadar terhadap kebiasaan konsumsi sendiri. Bukan menjaga lingkungan dengan cara paling estetik atau sustainable di media sosial, tapi konsisten dalam kebiasaan sehari-hari.
Ingat, peduli lingkungan juga bukan hanya soal memakai produk eco-friendly, tapi belajar membeli seperlunya. Karena Bumi membutuhkan generasi yang benar-benar berani mengurangi budaya konsumtif di era digital ini.
Baca Juga
-
Saat Stres dan Belanja Mulai Sulit Dipisahkan, Paylater Jadi Pelarian?
-
Australian Open 2026: Wajah Indonesia Terselamatkan Gelar Tunggal Putra
-
AI Memang Tidak Menghakimi, Tapi Apakah Curhat ke ChatGPT Benar-benar Menyehatkan?
-
Harga BBM Naik, Gaya Hidup Tetap Jalan: Tanda Pola Konsumtif Sulit Lepas?
-
Cantik di Layar, Terlilit Cicilan di Dunia Nyata: Bahaya FOMO Bagi Perempuan
Artikel Terkait
Kolom
-
Niatnya Healing, Kok Malah Berujung Kantong Kering?
-
Emisi Tersembunyi di Dapur: Mengapa Sampah Makanan Lebih Berbahaya dari Karbon Dioksida?
-
Saat Stres dan Belanja Mulai Sulit Dipisahkan, Paylater Jadi Pelarian?
-
Timnas Qatar dan Satu Poin di Piala Dunia yang Layak Dirayakan
-
Komedi Adalah Kunci: Ketika Humor Menjadi Cara Bertahan di Tengah Tekanan
Terkini
-
ASUS ExpertBook Ultra 2026 Masuk Indonesia, Laptop Pebisnis Sultan dengan Intel Core Ultra Series 3
-
IHR: Naga Sembilan Rebut Piala Paku Alam, Karnaval Meriah dan Inul Daratista Hibur Ribuan Penonton
-
Aksi Memukau Joe Taslim dan Yayan Ruhian dalam Film 'The Furious', Kapan Tayangnya?
-
5 Rekomendasi Sabun Cair Anti Jerawat untuk Mengatasi Bruntusan di Badan
-
Kisah Romansa Antara Mei Li dan Lung di Film Bangkok Traffic (Love) Story