Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi pekerja perempuan (Pexels/Chu Cuong)
e. kusuma .n

Setiap tanggal 1 Mei, linimasa saya selalu penuh dengan ucapan “Selamat Hari Buruh” dan potongan video aksi massa di jalan. Ada yang terasa hangat, ada juga yang terasa jauh dari realitas sehari-hari saya. 

Sebagai pekerja perempuan, May Day 2026 justru saya rasakan dengan cara yang lebih sunyi: menghitung pengeluaran, menahan keinginan, dan memastikan semuanya tetap cukup sampai akhir bulan.

Di tengah kenaikan harga yang semakin terasa, peringatan ini membuat saya bertanya—apakah kami benar-benar sedang diperjuangkan, atau hanya diingat setahun sekali?

Harga Kebutuhan Naik, Napas Makin Sesak

Saya masih ingat beberapa tahun lalu, belanja bulanan terasa lebih ringan. Sekarang, setiap kali ke pasar atau membuka aplikasi belanja, saya seperti sedang bersiap menerima kenyataan baru: semua lebih mahal.

Harga bahan pokok naik, ongkos transportasi ikut melonjak, bahkan kebutuhan kecil yang dulu dianggap sepele kini harus dipikir dua kali. Sementara itu, penghasilan saya tidak banyak berubah. Kenaikan gaji, jika ada, terasa tidak sebanding dengan laju kenaikan harga.

Saya jadi lebih sering membuat prioritas: mana yang benar-benar penting, mana yang bisa ditunda. Tapi jujur saja, hidup seperti ini melelahkan. Rasanya seperti terus berlari, tapi tidak pernah benar-benar sampai.

Beban Ganda yang Diam-diam Menggerus

Sebagai perempuan, pekerjaan saya tidak berhenti ketika jam kerja selesai. Ada tanggung jawab lain yang menunggu di rumah—entah itu mengurus keluarga, memastikan kebutuhan harian terpenuhi, atau sekadar menjadi “penjaga” stabilitas emosi di rumah.

Kadang saya bertanya, kapan saya benar-benar punya waktu untuk istirahat tanpa rasa bersalah? Ketika beban hidup meningkat, peran ini justru semakin terasa berat. Saya tidak hanya dituntut produktif di tempat kerja, tapi juga tetap hadir secara utuh di rumah. 

Tidak ada ruang untuk benar-benar lelah, karena selalu ada yang harus diselesaikan. Yang lebih membuat saya berpikir, semua ini sering dianggap biasa. Seolah memang sudah sewajarnya perempuan menjalani dua dunia sekaligus tanpa keluhan.

Antara Mandiri dan Diadili

Saya bekerja karena kebutuhan, tapi juga karena ingin mandiri. Namun, menjadi perempuan bekerja ternyata tidak pernah lepas dari penilaian. Ada momen ketika saya harus memilih antara lembur atau pulang lebih cepat. 

Ketika memilih bekerja lebih lama, ada rasa bersalah karena waktu untuk keluarga berkurang. Tapi ketika memilih pulang, ada kekhawatiran dianggap kurang profesional. Di sisi lain, ekspektasi sosial tetap tinggi. Perempuan diharapkan bisa “menjalankan semuanya dengan baik”—karier, keluarga, bahkan penampilan. 

Dalam kondisi ekonomi yang semakin sulit, ekspektasi ini terasa makin tidak realistis. Saya sering merasa seperti berjalan di garis tipis: apa pun pilihan saya, selalu ada kemungkinan untuk disalahkan.

May Day yang Terasa Jauh dari Realita

Setiap peringatan May Day, saya melihat tuntutan tentang upah layak, kesejahteraan pekerja, dan perlindungan tenaga kerja. Semua itu penting, tentu saja. Tapi jujur, saya jarang melihat pembahasan yang benar-benar menyentuh pengalaman pekerja perempuan secara spesifik.

Isu seperti cuti melahirkan, fasilitas ramah perempuan di tempat kerja, hingga perlindungan bagi pekerja informal sering kali hanya menjadi catatan kecil, bukan fokus utama. Akhirnya, peringatan ini terasa seperti milik semua orang, tapi tidak sepenuhnya mewakili perempuan.

Saya tidak bilang May Day tidak penting. Justru sebaliknya—momentum ini seharusnya bisa menjadi ruang untuk mendengar lebih banyak suara, termasuk suara perempuan yang sering kali tenggelam.

Bertahan, Tapi Sampai Kapan?

Di tengah semua tekanan ini, saya tetap bertahan. Saya belajar mengatur keuangan lebih ketat, mencari cara untuk tetap waras di tengah kesibukan, dan sesekali memberi ruang untuk diri sendiri meski sederhana.

Saya tahu saya tidak sendiri. Banyak perempuan di luar sana yang menjalani hal serupa, bahkan mungkin dengan kondisi yang lebih berat. Tapi pertanyaan yang terus muncul di kepala saya adalah: apakah bertahan saja cukup?

Karena bertahan tanpa perubahan hanya akan membuat kita terbiasa dengan ketidakadilan. Dan itu, menurut saya, jauh lebih berbahaya.

Lebih dari Sekadar Peringatan

May Day 2026 seharusnya tidak berhenti pada ucapan dan simbol. Bagi saya, ini adalah pengingat bahwa masih banyak hal yang perlu diperjuangkan—terutama bagi pekerja perempuan yang menghadapi tekanan berlapis.

Perubahan memang butuh proses, tapi setidaknya saya ingin ada pengakuan yang lebih nyata, kebijakan yang lebih berpihak, dan ruang yang lebih adil. Karena perempuan bukan hanya ingin bertahan, tapi juga hidup dengan layak, tanpa harus terus-menerus merasa tertekan.