Belakangan ini, ruang publik kita dipenuhi oleh rasa sesak yang luar biasa akibat kasus di daycare Little Aresha. Jujur, hati saya cukup miris mendengar ini, sampai akhirnya saya sampai di sebuah perenungan.
Bukan hanya karena kekerasan yang terjadi pada anak-anak tak berdaya itu, tapi karena kenyataan pahit bahwa kekejaman tersebut justru lahir dari instruksi seseorang yang memegang kendali institusi tersebut. Kejadian ini membawa saya pada sebuah perenungan mendalam: benarkah kasih manusia di zaman ini sudah semakin dingin?
Logika saya sederhana. Jika kepada anak-anak kecil yang polos dan tak berdaya saja seseorang tidak mampu menunjukkan belas kasih, lalu bagaimana mungkin ia bisa mengasihi mereka yang lebih tua atau yang sepantaran?
Anak-anak adalah ujian paling murni bagi nurani kita. Ketika seseorang mampu bertindak kejam kepada mereka, itu adalah sinyal bahwa ada kegelapan atau dendam yang tersembunyi di balik topeng yang ia kenakan.
Kasus ini mengajarkan saya bahwa "keagamisan" atau citra publik yang baik sama sekali bukan jaminan nyata adanya kasih. Kita sering kali terkecoh oleh label luar, padahal karakter asli seseorang seharusnya dinilai dari "buahnya".
Amati saja bagaimana seseorang memperlakukan makhluk yang tidak bisa memberikan keuntungan apa pun baginya, seperti hewan jalanan atau anak kecil. Jika di titik itu mereka gagal menunjukkan empati, maka semua citra baik yang mereka bangun hanyalah topeng belaka.
Kenyataan pahit ini membawa saya pada sebuah pemikiran yang mungkin terdengar sinis, tapi saya rasa sangat perlu di zaman sekarang: normalisasi negative thinking sebagai bentuk kewaspadaan.
Bukannya saya ingin kita menjadi pribadi yang pembenci atau menutup diri dari dunia. Namun, kita harus jujur bahwa orang yang benar-benar tulus kini mungkin tinggal segelintir. Sebagai orang tua atau wali, memiliki rasa waspada atau bahkan sedikit "nethink"—adalah sebuah keharusan. Kita tidak bisa lagi hanya bermodalkan positive thinking tanpa filter di zaman ini. Insting orang tua itu tajam; jika ada sesuatu yang terasa salah, kemungkinan besar memang ada yang salah.
Kewaspadaan ini harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Jika memang harus menitipkan anak ke daycare, transparansi adalah harga mati. Tempat pengasuhan yang tidak bisa dipantau CCTV 24/7 oleh orang tua adalah sebuah red flag besar.
Jangan pernah mempertaruhkan nyawa dan mental anak di tempat yang menutup diri dari pengawasan. Selain itu, belajarlah untuk mendengar suara anak. Sesingkat apa pun ucapan mereka, atau sekecil apa pun perubahan sikapnya, itu adalah kejujuran yang murni. Berdasarkan pengalaman saya saat menjaga adik-adik di keluarga, anak kecil tidak pernah punya motif untuk memalsukan rasa takut mereka.
Di tengah hiruk-pikuk kemarahan publik atas kasus ini, ada satu hal lagi yang membuat hati saya tersayat: fenomena sesama perempuan yang justru saling menghakimi di media sosial. Saya melihat banyak komentar yang menyalahkan keputusan sang ibu untuk bekerja atau menitipkan anaknya.
Ini sangat menyedihkan. Bukannya saling membela, kita justru saling menjatuhkan di saat yang paling berat. Ingatlah, para ibu di luar sana adalah pejuang. Menitipkan separuh jiwanya di tempat lain demi masa depan keluarga juga bukanlah keputusan yang mudah. Alih-alih melayangkan telunjuk, bukankah seharusnya kita membangun ekosistem yang saling menjaga dan menguatkan?
Terakhir, jika trauma sudah telanjur terjadi, kita tidak boleh membiarkannya mengendap. Pendampingan psikolog menjadi sangat krusial agar luka ini tidak merusak pondasi tumbuh kembang anak di masa depan. Kita berutang masa depan yang sehat secara mental bagi mereka yang sudah terlanjur terluka oleh kebiadaban orang dewasa.
Pada akhirnya, tragedi Little Aresha adalah pengingat keras bagi kita semua. Bahwa kasih tidak bisa hanya diucapkan melalui simbol atau status sosial. Kasih adalah perbuatan, dan di dunia yang semakin dingin ini, kewaspadaan adalah satu-satunya cara kita untuk tetap melindungi apa yang paling berharga.
Baca Juga
-
Beruang Kutub Dulu Putih Kini Kelabu: Tanda Alam yang Terabaikan dari Krisis Iklim Global
-
Ternyata Kita Salah, 19 Juta Lapangan Pekerjaan Itu untuk TNI dan Polisi
-
Kisah Dua Sisi di Lembah Hijau: Rahasia di Balik Rumah Busuk
-
Jangan Hanya Konsumen: Less Waste Juga Harus Dimulai dari Produsen
-
Tiru Cara Orang Jepang: Bawa Kantong Plastik Kecil untuk Wadah Sampah Kita
Artikel Terkait
-
Ketika Anak Menjadi Korban Daycare, Ibu Sudah Cukup Hancur Tanpa Perlu Dihakimi
-
Darurat Kekerasan di Daycare, HNW Desak Negara Hadir dan Tindak Tegas Pelaku
-
Little Aresha: Saat Bisnis Penitipan Anak Berubah Jadi Neraka Bagi Balita
-
Jurus Pengelola Daycare Little Aresha Tutupi Kekejaman: Tutur Manis hingga Topeng Agamis
-
Dosen Diduga Terlibat Kasus Daycare Little Aresha, Begini Respons UGM
Kolom
-
Bagaimana Sistem Transportasi Publik Melanggengkan Kemiskinan Waktu
-
Bukan Sekadar FOMO: Mengapa Anda Bisa Tergila-gila Piala Dunia Meski Tak Suka Sepak Bola?
-
Belum Pernah ke Negaranya, Ini Alasan Punya Tim Favorit di Piala Dunia
-
Lolos Seleksi Malah Kena Denda Rp100 Juta? Drama Rekrutmen Kopdes yang Bikin Geleng Kepala!
-
Diklat Manajer Kopdes Merah Putih Bernuansa Militer, Netizen: Mau Dagang atau Perang?
Terkini
-
Refleksi Film Toy Story 5: Apakah Teknologi dan Mainan Bisa Hidup Berdampingan?
-
Sering Dianggap Cerewet, Ini 5 Pesan Cinta di Balik Kisah Masa Lalu Orang Tua
-
Sosok yang Selalu Duduk di Kursi Kosong
-
Kadang Bukan Gagal, Hidup Memang Punya Rencana yang Berbeda
-
Mengatasi Kulit Dehidrasi: 5 Pilihan Moisturizing Cream untuk Dry Skin