Bagi yang belum kenal, mungkin mengira Lomba Sihir adalah sekadar "multiverse" lain dari Baskara Putra (Hindia). Padahal, Baskara sendiri pernah bilang kalau band ini terbentuk sesimpel karena ia senang menulis lagu bersama kawan-kawannya.
Nah, Lomba Sihir baru saja merilis music video untuk lagu yang judulnya sama dengan nama band mereka: "Lomba Sihir!". Visualnya sangat eye-catching. Satu hal yang konsisten dari MV mereka, seperti di "Ribuan Memori" adalah konsepnya yang terasa low budget tapi klasik. Isinya potongan video seru-seruan yang digabung jadi satu. Estetika "apa adanya" inilah yang justru jadi kekuatan mereka.
Yuk, kita bedah maknanya bareng-bareng!
Mencari Kawan Seirama di "Ujung Dunia"
Selamat datang di ujung dunia!
Seperempat masa lamanya, mencari kawan seirama
Mencoba peruntungan, mencoba ‘tuk selaras
Semua semua dijalani, basa-basi, basa-basi
Tak terasa hingga hari ini, tak terpikirkan ‘tuk pergi
Lirik "seperempat masa" ini relatable banget buat kita yang ada di usia 25-an (quarter-life). Katanya, makin dewasa lingkaran pertemanan kita makin mengecil, dan itu nyata. Jadi, sekalinya ketemu yang "seirama" setelah melewati berbagai basa-basi dunia kerja atau tongkrongan, rasanya ingin bertahan selamanya.
Berjalan Meski Tak Ada di Suratan
Dan jika bukan suratannya
Akankah kau usahakan
Tuk kita terus berjalan
Hidup itu seperti buku; kita buka lembar demi lembar dan setiap bab punya kisahnya sendiri. Lirik ini mempertanyakan: kalau memang takdir nggak berpihak, sejauh mana kita mau berusaha buat tetap bareng?
Melawan Takdir Biar Tetap Waras
Selamat datang di ujung dunia
Kita tak sengaja bersama
Melawan takdir kalahkan dunia
Semoga selalu hingga ujung usia
Di sinilah peran sahabat di masa twenties diuji. Mereka adalah alasan kita tetap waras di tengah kacaunya dunia. Menghadapi rintangan bareng-bareng bikin dunia yang berat jadi terasa lebih ringan.
Potret Gen Z yang Sangat Relate
Dia tertawa di tempat-tempat yang sepi yang satu lagi dikit sedikit emosi
Yang satu lupa cara berhemat yang satu bisnisnya tak kunjung berbuah
Coba tanyakan cara dia kendalikan cuaca
Dulu party berlari cari jati diri lagi dan lagi dan lagi
Ada yang lagi cari jati diri lewat hobi baru (kayak lari, mungkin?). Ada yang suka self-reward tapi tiba-tiba dompet kering? Atau yang bisnisnya masih naik-turun? Lomba Sihir berhasil memotret fenomena Gen Z dengan sangat jujur di bagian ini.
Visual yang Mengobati Kesepian
Eits, buat kamu yang merasa belum punya "circle" atau sedang merasa sendirian, jangan sedih. Menurutku lagu ini juga cocok banget buat kamu yang mau bangkit dari kesedihan.
MV-nya lucu banget! Ada tambahan meme kucing dan momen-momen natural tiap personel. Aku paling suka pas bagian Baskara kayak nahan ketawa. Konsepnya mengingatkan kita pada zaman pandemi dulu, saat orang-orang sering menggabungkan video pendek jadi satu cerita. Rasanya seperti sedang diajak mengembara bareng mereka. Tiap personel menunjukkan mimik wajah yang natural sebagai teman, bukan sekadar rekan band.
Terima Kasih untuk Hal-Hal Kecil
Terima kasih telah singgah hari ini
Terima kasih kau hangatkan ruang ini
Terima kasih terima kasih terima kasih oh oh
Di bagian bridge, ada ungkapan terima kasih yang tulus. Ini adalah apresiasi untuk segala hal yang menjaga kewarasan kita hari ini, entah itu teman, pasangan, keluarga, atau bahkan idola kesukaanmu. Apa pun itu, mereka adalah "penghangat" di ruang yang dingin.
Kesimpulan: Nikmati Hari Ini
Pada akhirnya, dengan genre pop yang segar dan visual yang eye-catching, lagu ini sukses bikin pendengarnya merasa "punya banyak teman". Pesannya sederhana: nikmati apa yang kita punya sekarang. Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi besok, jadi syukuri hubungan yang ada sampai ujung usia.
Gimana, kamu sudah nonton MV-nya belum? Siap-siap senyum-senyum sendiri, ya!
Baca Juga
-
Cara Dengerin Musik Cermin Cara Mencintai: Si Telinga Detail Pasti Relate
-
May Day dan Nasib Lulusan Baru: Gaji Dipotong Paksa, Kerja Borongan
-
Dari Gubuk Seng di Pinggir Rawa ke Universitas Glasgow: Perjalanan Hengki Melawan Keterbatasan
-
Menakar Urgensi Jurnal Tulis Tangan di Era Digital, Masih Relevan?
-
Bukan Gratis, tapi Sulit: Jeritan Pendidikan di Namorambe
Artikel Terkait
-
Anti-Burnout Club: 4 Cara Sederhana Ciptakan Momen 'Zen' ala Naomi Zaskia di Tengah Kesibukan
-
7 Kebiasaan Gen X Sejak Kecil yang Berbeda dengan Gen Z
-
Gen Z Ramai Pakai Fintech, Tapi Minim Literasi
-
Berhenti Menunggu Sempurna! Ini Alasan Mengapa 'Overthinking' Adalah Musuh Terbesar Karier Gen Z
-
Dear Gen Z, Ini Tips dari Menkeu Purbaya untuk Investasi ke Pasar Saham
Ulasan
-
Ulasan Film My Father's Shadow: Narasi Surealis Tentang Identitas Bangsa
-
Saat Crush Mengetahui Rahasia Terbesarmu dalam Web Series To Two
-
Novel Kotak-Kotak Ingatan: Kotak yang Tak Pernah Benar-Benar Terkunci
-
Drama Korea Live On: Di Balik Sorotan, Ada Sisi yang Tidak Ingin Terlihat
-
Review Soewardi Soerjaningrat: Melacak Jejak Bapak Pendidikan di Belanda
Terkini
-
May Day Vibes: Kerja Jalan, Harga Naik, Pekerja Perempuan Makin Overthinking
-
5 Rekomendasi Micellar Water Buat Remaja: Aman di Kulit, Pas di Kantong!
-
Antara Adab dan Inferioritas: Membaca Ulang Warisan Mentalitas Kolonial
-
Perempuan dalam Dunia Pendidikan: Dari Murid hingga Penggerak Perubahan
-
Hardiknas, Masa Depan Guru, dan Pertarungan Melawan 'Mesin Pintar'