M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi memilah sampah (Pexels/SHVETS production)
e. kusuma .n

Belakangan ini, saya semakin sering mendengar istilah less waste. Mulai dari membawa tumbler sendiri, mengurangi plastik sekali pakai, sampai memilih membeli barang yang lebih tahan lama.

Di media sosial, gaya hidup ini terlihat menarik—estetik, sadar lingkungan, dan terasa “lebih baik”. Apalagi kampanye yang dilakukan juga semakin masif hingga mulai banyak yang terpengaruh tren positif ini.

Awalnya saya mengira less waste hanya tren baru di kalangan anak muda. Tapi semakin saya melihat kondisi sekitar, saya mulai sadar kalau isu ini sebenarnya jauh lebih serius dari sekadar gaya hidup.

Masalahnya, di saat yang sama, saya juga hidup di generasi yang serba cepat. Semuanya instan, praktis, dan konsumtif. Dan jujur saja, menjalani hidup less waste di tengah pola hidup seperti itu tidak semudah yang terlihat.

Generasi yang Ingin Cepat dan Praktis

Saya merasa generasi muda sekarang, terutama Gen Z, tumbuh di era yang sangat mengutamakan kecepatan. Makanan bisa dipesan dalam hitungan menit, belanja tinggal checkout, dan hampir semua hal dibuat sepraktis mungkin.

Sistem ini memang memudahkan hidup, tapi juga menghasilkan banyak limbah. Saya sendiri sebenarnya sering memilih hal yang praktis karena lebih hemat waktu dan tenaga.

Awalnya terasa biasa saja. Sampai akhirnya saya sadar kalau kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus ternyata punya dampak besar untuk lingkungan. Banyak kemasan plastik akhirnya menumpuk.

Peduli Lingkungan, Tapi Tetap Konsumtif

Yang membuat saya berpikir ulang adalah kenyataan kalau banyak anak muda sekarang sebenarnya cukup sadar isu lingkungan. Mulai dari membahas perubahan iklim, sampah plastik, hingga kerusakan bumi.

Tapi di sisi lain, kita semua hidup dalam budaya konsumsi yang sangat kuat. Tren berganti cepat. Barang viral muncul terus-menerus. Media sosial juga membuat kita mudah tergoda membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Saya pernah merasa ironis sendiri. Di satu sisi ingin hidup lebih ramah lingkungan, tapi di sisi lain masih sering tergoda belanja impulsif. Dan ternyata, kesadaran tidak selalu langsung mengubah kebiasaan.

Less Waste Sering Terlihat “Mahal”

Jujur saja, salah satu alasan banyak orang sulit memulai gaya hidup less waste adalah karena terlihat mahal. Produk ramah lingkungan sering punya harga lebih tinggi. Barang reusable membutuhkan modal awal yang tidak sedikit.

Bahkan makanan organik atau produk lokal kadang lebih mahal dibanding opsi biasa. Terlebih saat masih bergelut dengan kondisi finansial, saya mulai berpikir: bagaimana bisa peduli lingkungan kalau kebutuhan sehari-hari saja sudah cukup berat?

Pertanyaan ini seolah menampar kita dengan realita bahwa isu lingkungan juga berkaitan dengan kondisi ekonomi dan akses. Dan terjun untuk mendukung less waste seolah jadi semakin sulit.

Tidak Harus Sempurna untuk Mulai Peduli

Dulu saya sempat merasa jika menjalani less waste berarti harus langsung berubah total. Tidak pakai plastik sama sekali, tidak belanja sembarangan, atau hidup sangat minimalis. Tapi lama-lama saya sadar, pola pikir seperti itu justru membuat saya mudah menyerah.

Sekarang saya mencoba melihatnya dengan lebih realistis. Tidak harus sempurna untuk mulai peduli. Saya pun mulai dari hal kecil, seperti membawa botol minum sendiri, memakai tote bag, mengurangi belanja impulsif, dan mencoba memakai barang lebih lama.

Less Waste Bukan Sekadar Tren Estetik

Menurut saya, salah satu tantangan terbesar adalah ketika less waste hanya terlihat sebagai tren media sosial. Kontennya memang menarik dan estetik. Tapi kalau hanya berhenti di estetika, maknanya jadi hilang.

Padahal inti dari less waste itu bukan kampanye estetik tapi soal mengurangi konsumsi berlebihan dan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dan itu sering kali tidak selalu terlihat “instagramable”.

Idealisme yang Perlahan Menjadi Kebutuhan

Semakin saya melihat kondisi bumi sekarang—cuaca ekstrem, sampah yang menumpuk, dan perubahan lingkungan yang makin terasa—saya mulai percaya bahwa less waste bukan lagi sekadar idealisme.

Ini perlahan menjadi kebutuhan. Mungkin kita memang tidak bisa langsung mengubah sistem besar sendirian. Kebiasaan kecil tetap punya arti, termasuk mengubah pola konsumsi cepat tanpa kesadaran demi masa depan yang lebih baik.

Belajar Lebih Sadar di Tengah Hidup yang Serba Cepat

Saya masih jauh dari kata sempurna dalam menjalani gaya hidup less waste. Kadang masih tergoda belanja, masih memilih praktis, dan masih sering lupa. Tapi sekarang saya lebih sadar kalau setiap pilihan kecil punya dampak.

Dan mungkin, di tengah hidup Gen Z yang serba cepat, tantangan sebenarnya bukan hanya tentang mengurangi sampah. Justru belajar berhenti sejenak dan lebih sadar terhadap apa yang kita konsumsi setiap hari jadi inti kampanye less waste.