Dulu saya menganggap sampah hanyalah sesuatu yang selesai ketika dibuang ke tempatnya. Setelah itu, urusannya seperti hilang begitu saja tanpa benar-benar saya pikirkan ke mana perginya atau dampaknya pada lingkungan.
Tapi semakin sering melihat berita tentang gunungan sampah, banjir akibat saluran tersumbat, sampai laut yang dipenuhi plastik, saya mulai sadar jika sampah tidak pernah benar-benar “hilang” tapi hanya berpindah tempat.
Ironisnya, perpindahan tempat tadi ternyata malah dampaknya kembali ke kita di masa depan. Saya pun merasa generasi muda sekarang tidak lagi punya pilihan untuk bersikap acuh terhadap masalah ini.
Hidup Praktis yang Menghasilkan Banyak Sampah
Saya sadar kalau gaya hidup saya sehari-hari ikut menyumbang masalah. Pesan makanan online datang dengan kemasan sekali pakai. Belanja online ada bubble wrap. Bahkan hal membeli minuman kemasan masih sering saya lakukan tanpa berpikir panjang.
Masalahnya, semua itu terasa normal. Di era yang serba praktis dan cepat, kemudahan itu menciptakan sampah yang terus bertambah setiap hari. Lalu saya tersadar, berapa banyak sampah yang saya hasilkan dalam seminggu saja?
Sampah Bukan Sekadar Masalah “Kotor”
Saya sempat mengira sampah hanya soal kebersihan lingkungan. Tapi ternyata dampaknya jauh lebih besar. Sampah plastik bisa mencemari laut, merusak ekosistem, bahkan masuk ke rantai makanan manusia.
Gunungan sampah di tempat pembuangan juga menghasilkan polusi dan memperburuk kondisi lingkungan. Yang membuat saya semakin khawatir adalah pola konsumsi masyarakat justru makin tinggi.
Jika tidak ada kesadaran yang tumbuh untuk mulai peduli pada isu lingkungan, maka mungkin generasi mendatang harus bersiap menanggung dampaknya.
Gen Z Hidup di Tengah Kontradiksi
Menurut saya, Gen Z berada di posisi yang cukup unik. Sebagai generasi yang paling sering membicarakan isu lingkungan di media sosial dengan kampanye zero waste, mereka juga hidup dalam budaya konsumsi cepat.
Tren berganti sangat cepat. Belanja impulsif dianggap biasa. Produk murah dan instan lebih mudah diakses. Lalu, muncul pikiran kontradiktif: ingin peduli lingkungan, tapi tetap terjebak dalam pola hidup yang menghasilkan banyak sampah.
Merasa Kecil di Tengah Masalah yang Besar
Jujur saja, saya pernah merasa percuma. Apa pengaruhnya kalau saya membawa tumbler sendiri, sementara sampah industri terus ada? Apa bedanya kalau saya mengurangi plastik, sedangkan jutaan orang lain masih buang sampah sembarangan?
Pikiran seperti itu sempat membuat saya pesimis. Tapi lama-lama saya sadar kalau perubahan besar memang tidak datang dari satu orang saja. Ia dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan banyak orang secara konsisten.
Dan mungkin, masalahnya bukan soal dampaknya langsung terlihat atau tidak, tapi soal kesadaran untuk mulai bertanggung jawab. Mulai dari kita, mulai dari sekarang, dan mulai konsisten.
Masa Depan Itu Dibentuk Hari Ini
Hal yang paling membuat saya berpikir adalah kenyataan bahwa dampak lingkungan tidak selalu terasa sekarang juga. Sampah yang dibuang hari ini mungkin baru menjadi masalah besar beberapa tahun lagi.
Namun, ketika dampaknya benar-benar terasa, bisa jadi semuanya sudah jauh lebih sulit diperbaiki. Dan generasi muda saat ini akan hidup di masa itu.
Karena itulah saya merasa Gen Z tidak bisa lagi hanya menjadi penonton. Karena Gen Z menjadi generasi yang akan paling lama hidup dengan konsekuensi dari kerusakan lingkungan hari ini.
Mulai Peduli Sebelum Terlambat
Saya tidak percaya kalau semua beban menjaga bumi hanya ada di tangan individu, tapi tanggung jawab kolektif. Hanya saja, saya juga menyadari jika perubahan tidak akan terjadi kalau semua orang terus merasa masalah ini bukan urusannya.
Mungkin saya belum bisa melakukan hal besar, tapi setidaknya sekarang saya mulai berpikir dua kali sebelum membuang, membeli, dan mengonsumsi sesuatu. Karena sampah hari ini adalah ancaman yang sedang kita tinggalkan untuk masa depan.
Baca Juga
-
Gen Z dan Keputusan Tunda Pernikahan: Pilihan Pribadi atau Tekanan Zaman?
-
Perempuan dan Standar Ganda: Apa Pun yang Dipilih Tetap Salah, Harus Gimana?
-
Privasi Semakin Tipis di Era Digital: Ketika Hidup Jadi Konsumsi Publik
-
Selalu Ingin Sempurna: Tekanan Tak Terlihat pada Perempuan yang Saya Rasakan
-
Saat Menabung Terasa Mewah: Bisa Bertahan Hidup Saja Sudah Bentuk Prestasi
Artikel Terkait
-
Gen Z dan Keputusan Tunda Pernikahan: Pilihan Pribadi atau Tekanan Zaman?
-
Jaga Wilayah Kelola Adat, UNDP Gandeng GEF-SGP Buka Proposal Hibah ICCA-GSI Phase 2
-
Ironi Tumpukan Sampah Makanan di Negeri yang Kelaparan
-
Endus Bau Amis Korupsi RDF Rorotan, Massa Geruduk Gedung DPRD DKI: Pansus Jangan Mati Suri!
-
Dosa Lingkungan di Balik Label 'Ramah Bumi' yang Estetik
Kolom
-
Content Creator Semakin Menjamur, Sekadar Hobi atau Profesi Serius?
-
Diary Seorang Digital Slaves: Saat Notifikasi Lebih Mengatur Saya daripada Alarm
-
Di Balik Rupiah yang Melemah, Ada Kecemasan Finansial yang Nyata
-
Gen Z dan Keputusan Tunda Pernikahan: Pilihan Pribadi atau Tekanan Zaman?
-
Dari Sangkar ke Rekening: Jalan Sunyi Side Hustle Jual Beli Burung
Terkini
-
Rilis 1 Juli, Elle akan Hadirkan Masa SMA Elle Woods sebelum Legally Blonde
-
Wow! Yamaha XMAX Disulap Jadi Motor Cyberpunk dari Serial Tokyo Override
-
Dinamika Tukar Raga dan Misteri Itomori dalam Your Name karya Makoto Shinkai
-
Bukan Vespa, Scomadi Technica 200i Hadir dengan Gaya Adventure Klasik Retro
-
Eona: Ketika Punggawa Naga Terakhir Menentukan Nasib Sebuah Kekaisaran