Umat muslim di seluruh dunia sebentar lagi akan segera menyambut Hari Raya Iduladha yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.
Saat saya masih SD dulu, guru agama selalu menceritakan bahwa ibadah kurban berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS yang menerima perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail AS.
Dengan ketaatan yang luar biasa kepada Sang Pencipta, Nabi Ibrahim ikhlas dan merelakan sang anak untuk disembelih.
Namun saat Nabi Ibrahim bersiap menyembelih, Allah kemudian menggantikan Ismail dengan seekor domba. Kisah tersebut kemudian menjadi dasar pelaksanaan kurban dalam Islam yang hingga kini dijalankan oleh umat muslim di seluruh dunia.
Seiring dengan majunya perkembangan zaman, makna kurban kini semakin luas dan tak hanya berfokus kepada kisah ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Begitu banyak hikmah dan pelajaran yang diambil dari ibadah kurban di era modern ini.
Mengajarkan anak berbagi sejak dini lewat berkurban
Anak pertama saya yang duduk di bangku kelas 3 bahkan sudah mulai memaknai hari raya kurban dengan penuh antusias.
Pada hari ini di sekolahnya, guru-guru mengajarkan bagaimana kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi pelajaran tentang keikhlasan, kepatuhan, serta rasa percaya kepada Allah SWT.
Jika zaman dahulu mungkin guru-guru hanya memberikan penjelasan soal pengertian kurban, zaman modern ini para guru bisa memberikan praktik berkurban dengan cara yang menarik.
Seperti yang hari ini didapat anak saya dari sekolahnya. Murid-murid diajari bagaimana menyembelih hewan kurban dengan sebuah simulasi mulai dari tata cara memilih hewan kurban, hingga pembagian daging hewan kurban.
Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak terlihat begitu antusias dan gembira dengan rasa penasaran yang begitu tinggi bagaimana cara berkurban.
Dengan praktik kurban tersebut, anak-anak itu tahu bahwa ibadah kurban tidak hanya menjadi simbol ketaatan kepada Allah, tapi bagaimana kita bisa berbagi dengan sebagian rezeki yang kita miliki untuk orang-orang yang membutuhkan.
Pelajaran sederhana itu mungkin tampak kecil, tetapi dampaknya bisa sangat besar dalam membentuk karakter anak agar lebih empati terhadap sesama.
Berbagi kepada sesama
Banyak muslim yang kini berlomba-lomba menabung dan menyisihkan sebagian rezekinya untuk berkurban. Karena tentu saja, selain menjalankan perintah Allah, umat muslim juga ingin memanfaatkan momentum Iduladha untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
Di sinilah saya merasa bahwa kurban memiliki makna sosial yang sangat kuat.
Di tengah kehidupan modern yang sering membuat orang sibuk dengan urusan pribadi, ibadah kurban mengingatkan bahwa rezeki yang kita miliki juga memiliki hak untuk dibagikan.
Tak sedikit masyarakat yang mungkin hanya dapat menikmati daging saat momentum Iduladha tiba. Karena itu, pembagian daging kurban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk nyata kepedulian sosial.
Masjid Istiqlal setiap tahunnya menerima banyak sekali hewan kurban untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar. Masyarakat yang mendapatkan kupon mengantre untuk sekadar mendapatkan potongan daging yang jumlahnya mungkin tak seberapa.
Di saat orang-orang dengan finansial cukup bisa kapan saja mengonsumsi daging, tentu di momen Idul Adha ini banyak masyarakat kurang mampu merasa bersyukur karena bisa mencicipi nikmatnya olahan daging kurban.
Oleh sebab itu, kurban mengajarkan bahwa ketakwaan bukan hanya hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Ketakwaan juga tercermin dari bagaimana kita memandang dan memperlakukan sesama manusia.
Jalin silaturahmi
Coba deh diingat-ingat, kira-kira dalam momen apa biasanya kita kumpul bareng keluarga untuk acara bakar-bakar? Yup! Salah satu esensi dari kurban juga ternyata menghadirkan kebersamaan yang mungkin mulai jarang kita rasakan di tengah kesibukan sehari-hari.
Saat Idul Adha tiba, halaman rumah atau lingkungan sekitar masjid sering berubah menjadi tempat penuh canda dan kehangatan. Ada yang sibuk membumbui sate, membakar daging, menyiapkan nasi, hingga sekadar duduk mengobrol sambil menikmati aroma bakaran yang menggoda.
Momen sederhana seperti inilah yang menurut saya sering terlupakan. Kurban bukan hanya soal ibadah dan pembagian daging, tetapi juga menghadirkan ruang untuk mempererat silaturahmi, saling membantu, dan menciptakan kenangan hangat bersama keluarga maupun tetangga.
Lalu bagaimana menurut kalian? Apa makna kurban dalam kehidupan sehari-hari?
Baca Juga
-
Less Waste More Future: Cara Bijak Kurangi Sampah Plastik dari Belanja Online
-
Sinopsis A Good Girls Guide to Murder Season 2, Pip Pecahkan Kasus yang Lebih Rumit
-
Avatar The Last Airbender Season 2 Tayang Juni 2026, Intip Sinopsis dan Daftar Pemainnya
-
Tom Kane, Pengisi Suara di Star Wars dan Powerpuff Girls Meninggal Dunia
-
Band Aqua Pelantun Lagu 'Barbie Girl' Umumkan Bubar, Fans 90-an Auto Kehilangan
Artikel Terkait
Kolom
-
Kurban yang Paling Sulit Bukan Materi, Tapi Ego Sendiri: Begini Cara Menaklukannya
-
Gen Z dan FOMO Hari Raya: Haruskah Momen Iduladha Juga Diposting?
-
Refleksi: Di Tengah Hidup Serba Cepat, Iduladha Mengajarkan untuk Melambat
-
Dampak Impulsive Buying Berkedok Self Reward pada Penyebab Sampah Kemasan
-
Iduladha Zaman Now: Memaknai Ulang Arti Rela Berkorban di Era Flexing
Terkini
-
Sepotong Luka di Dalam Manisnya Pasta Kacang Merah Durian Sukegawa
-
Bridge to Terabithia: Film Fantasi Masa Kecil yang Mengajarkan Kehilangan
-
Diusir dari Tanah Sendiri: Luka Kemanusiaan dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari
-
Ulasan Alien: Romulus, Hadirkan Klimaks Gravitasi Nol yang Penuh Adrenalin!
-
Sebelum Beli, Yuk Simak 5 Tips Menemukan Serum Wajah yang Pas untukmu!