Hayuning Ratri Hapsari | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Side Hustle (Magnific.com/freepik)
Ukhro Wiyah

Dulu, satu pekerjaan dengan penghasilan tetap sering dianggap sebagai simbol kestabilan. Kini, pemandangannya mulai berbeda. Semakin banyak anak muda yang memiliki lebih dari satu sumber penghasilan. Ada yang bekerja penuh waktu, lalu masih menjadi freelancer, content creator, afiliator, reseller, hingga membuka usaha kecil-kecilan di sela-sela kesibukannya.

Saya sendiri mengenal orang yang memiliki cukup banyak sumber penghasilan. Pekerjaan utamanya adalah guru. Namun, di luar itu ia juga menjadi affiliator, live streamer, reseller, content creator, dan masih banyak lagi. Ketika berselancar di media sosial, saya menyadari bahwa fenomena seperti ini ternyata bukan lagi sesuatu yang langka.

Fenomena seperti ini membuat saya bertanya-tanya: bagaimana seseorang bisa memiliki begitu banyak energi untuk menjalani banyak pekerjaan sekaligus? Dan mengapa semakin banyak Gen Z yang merasa satu pekerjaan saja tidak lagi cukup?

Jika kita pikirkan lagi, sebenarnya Gen Z memilih menjalani hidup dengan banyak pekerjaan bukan semata-mata karena mereka terlalu ambisius atau terlalu mencintai uang. Kondisi ekonomi dan gaya hidup anak muda kini telah mengalami banyak perubahan. Biaya hidup terus meningkat. Pendapatan dari satu pekerjaan sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dari sana, akhirnya banyak orang yang mengambil pekerjaan tambahan demi bertahan hidup ataupun mencapai target finansial yang direncanakan.

Selain itu, media sosial pun turut mengubah standar yang ada. Setiap hari kita disuguhkan konten orang-orang yang memiliki banyak sumber pemasukan. Berbagai istilah seperti side hustle, passive income, hustle culture, dan semacamnya semakin akrab terdengar. Tanpa disadari, semua itu membentuk persepsi bahwa memiliki satu pekerjaan saja seolah belum cukup.

Perubahan standar inilah yang akhirnya membuat ukuran kesuksesan turut mengalami pergeseran. Dulu seseorang dianggap berhasil ketika sudah memiliki pekerjaan tetap. Namun, lain halnya dengan yang terjadi sekarang. Tidak sedikit anak muda yang merasa harus memiliki banyak sumber penghasilan agar terlihat berkembang.

Padahal jika kita pikirkan lagi, setiap orang berada dalam kondisi yang tidak sama. Ada yang memang membutuhkan pekerjaan tambahan karena tuntutan ekonomi, tetapi ada pula yang melakukannya karena merasa tertinggal jika hanya memiliki satu pekerjaan. Di sinilah kita perlu berhati-hati agar tidak menjadikan standar orang lain sebagai ukuran keberhasilan diri sendiri.

Sebenarnya fenomena ini juga mempunyai sisi positif yang tak bisa kita nafikan begitu saja. Ketika seseorang mempunyai sumber penghasilan yang beragam, ia tidak akan bergantung pada satu pendapatan saja. Selain menambah pemasukan, memiliki lebih dari satu pekerjaan juga membuka kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru, memperluas relasi, dan membangun karier yang lebih fleksibel.

Meskipun demikian, tetap ada harga yang harus dibayar dari fenomena hustle culture ini. Banyaknya pekerjaan yang dilakukan tentu secara tidak langsung juga menuntut kita meluangkan lebih banyak waktu untuk bekerja. Waktu istirahat pun akhirnya menjadi berkurang. Belum lagi jika mengalami burnout dan kesulitan membagi waktu. Hubungan sosial dan keluarga juga bisa ikut terdampak. Dan faktanya, tingginya tingkat produktivitas yang dimiliki oleh seseorang belum tentu sebanding dengan kualitas hidupnya.

Lantas, di tengah maraknya fenomena hustle culture ini, apakah semua anak muda harus mempunyai side hustle?

Tidak ada kewajiban bagi siapa pun untuk memiliki banyak pekerjaan. Kita tetap punya kendali memilih menjalani satu, dua, tiga, atau berapa pun pekerjaan yang kita mampu jalani. Menurut saya, yang lebih penting dalam hal ini adalah bukan jumlah pekerjaan yang kita miliki, melainkan bagaimana kita bisa menikmati pekerjaan yang kita pilih dengan menyesuaikan kondisi, tujuan, dan kapasitas masing-masing.

Di sisi lain, kebutuhan setiap orang pada setiap fase kehidupan juga tidak sama. Ada yang masih tinggal bersama orang tua sehingga merasa satu pekerjaan sudah cukup. Ada pula yang harus membantu ekonomi keluarga, membayar cicilan, atau mengejar target finansial tertentu sehingga memilih mengambil pekerjaan tambahan. Karena itu, keputusan memiliki side hustle tidak selalu bisa dibandingkan begitu saja antarindividu.

Orang-orang yang kita lihat di media sosial maupun di sekitar kita mungkin mampu menjalani berbagai pekerjaan sekaligus, tetapi kita tidak bisa lantas menjadikan itu sebagai standar hidup. Sebab akhirnya, memiliki satu atau banyak pekerjaan bukan simbol kesuksesan maupun kegagalan. Yang terpenting adalah pekerjaan tersebut benar-benar membantu mencapai tujuan tanpa mengorbankan kesehatan dan kualitas hidup secara berlebihan.