M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi perempuan muda (Pexels/Polina Tankilevitch)
e. kusuma .n

Setiap Iduladha datang, saya selalu merasa momen ini punya makna yang lebih dalam dari sekadar perayaan tahunan. Ada pelajaran tentang keikhlasan, kepedulian, dan pengorbanan yang masih sangat relevan di zaman sekarang.

Namun jujur saja, belakangan saya juga melihat ada hal yang terasa berbeda. Di era media sosial, kurban bukan hanya menjadi ibadah, tapi juga simbol status sosial. Ada yang membahas harga hewan kurban, ukuran sapi terbesar, sampai dokumentasi untuk diunggah ke internet. Di titik itu saya mulai bertanya-tanya, apakah makna kurban perlahan mulai bergeser jadi soal gengsi?

Tekanan Sosial Anak Muda di Era Media Sosial

Saya merasa hidup sekarang memang penuh tekanan sosial yang tidak selalu terlihat. Ditambah media sosial membuat kita terus membandingkan diri dengan orang lain. Ada tekanan untuk terlihat sukses. Terlihat mapan. Terlihat mampu. Bahkan dalam urusan ibadah sekalipun. Hari raya yang seharusnya menjadi momen refleksi malah ikut berubah jadi ajang pencitraan.

Tidak sedikit orang yang merasa perlu menunjukkan hewan kurban, aktivitas berbagi, atau suasana keluarganya agar terlihat “wah”. Padahal menurut saya, ibadah seharusnya tidak perlu dijadikan kompetisi sosial. Namun, budaya flexing sekarang memang membuat banyak orang tanpa sadar ingin mendapat validasi dari apa yang dimiliki dan ditampilkan.

Ketika Kurban Mulai Dikaitkan dengan Status Sosial

Saya paham kalau tidak semua orang yang membagikan momen kurban punya niat pamer. Banyak juga yang sekadar berbagi kebahagiaan. Namun, media sosial mengaburkan batas antara berbagi dan menunjukkan status. Ada yang merasa bangga karena bisa membeli hewan kurban mahal, membandingkan ukuran sapi, atau menjadikan momen kurban seperti simbol keberhasilan finansial. Di situlah kita perlu berhati-hati.

Karena esensi ibadah kurban sebenarnya bukan tentang nominal, tapi keikhlasan hati dan niat berbagi kepada sesama. Kalau fokusnya mulai bergeser ke gengsi dan pengakuan sosial, makna pengorbanannya bisa ikut memudar.

Anak Muda dan Rasa Takut Dinilai “Kurang”

Banyak anak muda sekarang hidup dengan ketakutan untuk terlihat “kurang” di mata orang lain. Media sosial ikut berperan dalam membuat semua hal terasa seperti perlombaan tanpa akhir. Kalau orang lain bisa, kita juga merasa harus bisa. Kalau orang lain terlihat mampu, kita takut dianggap tertinggal. Tekanan seperti itu kadang masuk ke banyak aspek ibadah dan tradisi hari raya.

Padahal kemampuan setiap orang berbeda-beda. Tidak seharusnya ada rasa malu karena belum mampu melakukan sesuatu seperti orang lain. Sebab kurban bukan tentang siapa yang paling kaya atau paling dermawan.

Iduladha: Mengajarkan Ketulusan, Bukan Pencitraan

Hal yang paling saya pelajari dari Iduladha adalah tentang ketulusan memberi. Tentang rela berbagi tanpa harus selalu dilihat dan dipuji orang lain. Namun di era digital sekarang, menjaga ketulusan memang tidak mudah. Karena media sosial membuat manusia sangat dekat dengan budaya validasi.

Saya pun sadar, kadang manusia memang punya keinginan untuk diakui. Tapi menurut saya, ada hal-hal yang justru terasa lebih bermakna ketika dilakukan tanpa kebutuhan untuk dipamerkan.

Gengsi dan Budaya Konsumtif Anak Muda

Budaya gengsi juga berkaitan erat dengan gaya hidup konsumtif generasi sekarang. Banyak orang merasa harus tampil “mampu” demi menjaga image di lingkungan sosial maupun media sosial. Tidak sedikit yang memaksakan diri membeli sesuatu di luar kemampuan hanya agar terlihat setara dengan orang lain. Padahal hidup demi gengsi sering kali melelahkan. Kita jadi lebih sibuk memikirkan penilaian orang lain daripada kondisi diri sendiri.

Iduladha justru mengingatkan kita jika nilai seseorang tidak diukur dari seberapa mahal yang bisa ditampilkan, tapi dari seberapa tulus hati saat berbagi.

Belajar Merasa Cukup di Tengah Budaya Perbandingan

Saya merasa salah satu tantangan terbesar generasi sekarang adalah sulit merasa cukup. Selalu ada standar baru yang membuat kita merasa tertinggal. Padahal kalau terus mengikuti tekanan sosial, hidup tidak akan pernah benar-benar tenang. Hidup bukan soal siapa yang paling terlihat hebat, tapi siapa yang tetap punya empati dan ketulusan di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar validasi.

Kadang hal paling berharga justru bukan tentang apa yang kita tunjukkan, tetapi apa yang kita lakukan dengan hati yang ikhlas.

Kurban: Mendekatkan, Bukan Membandingkan

Bagi saya, Iduladha adalah momen untuk kembali mengingat bahwa ibadah bukan tentang pencitraan atau gengsi sosial. Kurban seharusnya menjadi bentuk kepedulian yang mendekatkan sesama, bukan perlombaan siapa yang saling membandingkan.

Mungkin kita memang perlu belajar lagi memaknai kesederhanaan. Karena pada akhirnya, nilai sebuah kurban terletak pada ketulusan yang mungkin hanya benar-benar diketahui oleh diri sendiri dan Tuhan.