Gen Z sering dianggap sebagai generasi yang lebih sadar terhadap isu lingkungan, mulai dari masalah sampah plastik, fast fashion, hingga gaya hidup sustainable di media sosial. Kesadaran ini pun mendorong tren ramah lingkungan.
Kebiasaan seperti membawa tumbler, memakai tote bag, thrifting, atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai mulai menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Tentu saja hal ini menjadi perubahan yang positif.
Setidaknya generasi sekarang mulai menyadari kalau kondisi lingkungan memang sedang tidak baik-baik saja. Media sosial juga membantu edukasi lingkungan jadi lebih mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan anak muda.
Konten tentang zero waste atau sustainable living sekarang jauh lebih sering. Namun di sisi lain, ada satu hal yang cukup ironis. Generasi peduli lingkungan ini ternyata juga sangat dekat dengan budaya konsumtif digital, terutama kebiasaan berburu flash sale.
Flash Sale dan Godaan Belanja Cepat
Di era digital seperti sekarang, flash sale sudah seperti “hiburan” bagi banyak anak muda. Promo besar, diskon terbatas, gratis ongkir, hingga hitung mundur checkout membuat belanja terasa seru dan memicu rasa penasaran.
Bahkan banyak orang rela begadang demi mendapatkan barang murah saat tanggal kembar atau live shopping. Menurut saya, sistem seperti ini memang dirancang untuk membuat orang membeli lebih cepat tanpa banyak berpikir.
Ketika melihat tulisan “stok hampir habis” atau “promo tinggal 5 menit”, orang jadi takut kehilangan kesempatan. Akibatnya, keputusan belanja sering dilakukan secara impulsif meski barang yang dibeli belum tentu benar-benar dibutuhkan.
Peduli Lingkungan, Tapi Paket Datang Terus
Salah satu ironi terbesar Gen Z sekarang adalah hidup di tengah dua kebiasaan yang saling bertabrakan. Di satu sisi ingin hidup lebih ramah lingkungan. Namun di sisi lain, keranjang belanja online juga terus penuh.
Banyak anak muda sudah membawa tumbler sendiri dan memakai tote bag ke mana-mana, tapi tetap rutin checkout barang saat flash sale datang. Akhirnya, setiap paket yang datang membawa sampah kemasan.
Kondisi ini terlihat familier bagi Gen Z yang memang hidup di era penuh kontradiksi. Kesadaran lingkungan tumbuh lewat media sosial, tapi budaya konsumsi digital juga berkembang sangat agresif seolah sulit lepas dari kebiasaan konsumtif.
Media Sosial dan Budaya Takut Ketinggalan
Media sosial punya pengaruh besar terhadap fenomena ini. Timeline dipenuhi rekomendasi barang viral, racun belanja, hingga konten haul yang membuat orang merasa ingin ikut membeli sesuatu hanya karena takut ketinggalan tren atau promo.
Menurut saya, budaya FOMO memang menjadi salah satu alasan kenapa flash sale sangat efektif di kalangan Gen Z. Semua terasa cepat dan sementara. Kalau tidak checkout sekarang, takut nanti menyesal karena harga naik atau barang habis.
Akibatnya, konsumsi menjadi semakin impulsif dan sulit dikontrol. Padahal semakin banyak barang dibeli, semakin besar pula limbah yang dihasilkan.
Kesadaran yang Masih Setengah Jalan
Meski begitu, fenomena ini bukan berarti Gen Z tidak benar-benar peduli lingkungan. Justru generasi sekarang sedang berada di fase belajar memahami bagaimana cara hidup lebih sadar di tengah sistem yang sangat konsumtif.
Karena jujur saja, hidup ramah lingkungan di era digital memang tidak mudah. Promo ada setiap hari, tren terus berubah, dan media sosial selalu memberi alasan baru untuk membeli sesuatu.
Akhirnya banyak anak muda yang sadar soal lingkungan belum sepenuhnya bisa mengurangi kebiasaan konsumtif mereka. Ini adalah bentuk kesadaran “setengah jalan”, peduli lingkungan tapi belum lepas sepenuhnya dari kebiasaan konsumsi lama.
Ironi yang Bisa Jadi Awal Perubahan
Pada akhirnya, ironi Gen Z di era konsumtif memang nyata. Generasi yang paling sering bicara soal lingkungan ternyata juga hidup sangat dekat dengan budaya belanja digital yang cenderung impulsif.
Namun, justru dari kesadaran terhadap kontradiksi itulah perubahan bisa mulai muncul. Karena menjaga lingkungan bukan soal menjadi generasi paling sempurna, tapi tentang kemauan mengurangi kebiasaan konsumsi berlebihan.
Dan mungkin, salah satu langkah kecil paling realistis di era sekarang adalah belajar menahan diri sebelum checkout barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, meski flash sale terlihat sangat menggoda.
Baca Juga
-
Tren No Buy Challenge: Mampukah Gen Z Cegah Keinginan Belanja Impulsif?
-
Fear of Missing Content: Tren Media Sosial yang Diam-diam Bikin Gen Z Lelah
-
AI Makin Canggih, Apakah Kreativitas Manusia Masih Punya Nilai Jual?
-
Hobi Menulis Jadi Cuan: Masihkah Menyenangkan Saat Passion Ketemu Deadline?
-
Saat Media Sosial Terasa Tak Menyenangkan Lagi: Serangan Digital Fatigue?
Artikel Terkait
-
Tren No Buy Challenge: Mampukah Gen Z Cegah Keinginan Belanja Impulsif?
-
Masa Depan Koperasi di Era Digital Kini di Tangan Gen Z
-
Kiat Gen Z Tampil Percaya Diri dengan Busana Syar'i Tanpa Mengorbankan Kenyamanan dan Estetika
-
Fear of Missing Content: Tren Media Sosial yang Diam-diam Bikin Gen Z Lelah
-
Kerja Sesuai Passion atau Demi Uang? Dilema Gen Z saat Memilih Karier
Kolom
-
Kolombia dan Para Seniman Lapangan Hijau
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Generasi Tanpa Ruang Tumbuh: Tekanan Sistem yang Memaksa Anak Muda Berlari
-
Tren No Buy Challenge: Mampukah Gen Z Cegah Keinginan Belanja Impulsif?
-
Bukan Malas, Ini Alasan Logis Mengapa Generasi Sekarang Sulit Punya Rumah di Usia 25
Terkini
-
Dominasi Tanpa Efisiensi Itu Bahaya: 3 Kunci Spanyol Sebelum Lawan Prancis
-
Tas Ajaib Ema
-
Lagu "Tenang Saja (Ini Hanya Fase)" Idgitaf: Obat untuk Kamu yang Sering Kecewa dengan Ekspektasi
-
Perempuan Pembawa Sial: Sajian Teror Psikologis Tanpa Jumpscare Berlebih
-
Sinopsis Blossoms of Power, Drama Terbaru Meng Zi Yi dan He Yu di WeTV