Piala Dunia 2026 terus menghadirkan kejutan. Fase gugur menyisakan banyak cerita, mulai dari tim-tim unggulan yang bertahan hingga negara-negara yang harus mengakhiri perjuangannya lebih cepat. Di tengah hiruk-pikuk hasil pertandingan itu, ada satu tim yang selalu berhasil membangkitkan nostalgia saya: Kolombia.
Piala Dunia kali ini memang terasa berbeda. Pesertanya bertambah menjadi 48 negara, sementara penyelenggaranya ada tiga. Saya sendiri masih perlu membiasakan diri dengan format baru ini. Apalagi sistem peringkat tiga terbaik dipakai lagi seperti pada Piala Dunia 1994. Kadang selesai menonton satu pertandingan, saya masih harus membuka klasemen lagi untuk menghitung peluang masing-masing tim.
Di antara semua peserta, entah kenapa perhatian saya justru sering mengarah ke Kolombia.
Mungkin karena saya tumbuh pada masa ketika Kolombia selalu menghadirkan pemain-pemain yang tidak biasa. Mereka bukan tim yang langganan juara dunia, tetapi hampir selalu punya sosok yang membuat orang berhenti sejenak di depan televisi.
Kalau orang lain mengenal Kolombia lewat kisah Pablo Escobar atau kartel narkoba, saya justru lebih dulu mengingat rambut kribo pirang Carlos Valderrama. Setelah itu baru teringat René Higuita yang terkenal dengan aksi tendangan kalajengkingnya serta sering membuat jantung penonton ikut berdebar setiap kali meninggalkan gawang. Saya kira banyak penggemar sepak bola generasi 1990-an yang merasakan hal serupa.
Padahal kalau melihat prestasinya, perjalanan Kolombia di Piala Dunia tidak selalu mulus.
Menjelang Piala Dunia 1994, mereka justru datang dengan kepercayaan diri yang luar biasa. Bagaimana tidak? Di babak kualifikasi mereka mempermalukan Argentina 5-0 di Buenos Aires. Hasil sebesar itu jelas membuat dunia sepak bola menoleh. Bahkan Pele sempat menjagokan Kolombia sebagai calon juara.
Saya masih ingat, kemenangan itu terasa seperti penanda bahwa akan lahir kekuatan baru dari Amerika Latin. Argentina yang saat itu sedang goyah akhirnya kembali memanggil Diego Maradona. Banyak yang menganggap kehadirannya dibutuhkan untuk mengangkat mental tim.
Sayangnya, yang terjadi di putaran final justru berkebalikan.
Kolombia tampil jauh di bawah harapan. Permainan mereka tidak lagi lepas seperti saat kualifikasi. Lalu datanglah momen yang sampai sekarang masih sulit dilupakan.
Andrés Escobar mencetak gol bunuh diri ketika melawan Amerika Serikat.
Di atas lapangan itu memang hanya sebuah gol bunuh diri. Hal seperti itu bisa terjadi kepada siapa saja. Akan tetapi, beberapa hari setelah pulang ke Medellín, Escobar ditembak hingga meninggal dunia.
Buat saya, itulah salah satu kisah paling menyedihkan dalam sejarah Piala Dunia. Sepak bola seharusnya selesai ketika peluit panjang dibunyikan, tetapi yang dialami Escobar justru sebaliknya.
Kalau mengingat Kolombia era itu, pikiran saya malah sering kembali ke Piala Dunia 1990 di Italia.
Di sana ada René Higuita.
Sekarang orang mengenal istilah sweeper-keeper. Namun jauh sebelum istilah itu populer, Higuita sudah melakukannya. Ia sering keluar jauh dari kotak penalti, ikut mengalirkan bola, bahkan sesekali nekat menggiring bola melewati penyerang lawan. Kadang berhasil, kadang juga membuat pendukung Kolombia menahan napas.
Banyak pelatih mungkin menganggap gaya seperti itu terlalu berisiko. Akan tetapi justru di situlah letak daya tariknya. Higuita bermain seperti orang yang sedang menikmati sepak bola, bukan sekadar menjalankan tugas sebagai penjaga gawang.
Lalu ada Carlos Valderrama.
Buat saya, Valderrama bukan pemain yang harus mencetak banyak gol agar terlihat hebat. Ia cukup menyentuh bola beberapa kali, lalu pertandingan seperti berubah arahnya. Cara dia mengatur tempo permainan selalu terlihat tenang. Seolah-olah pertandingan berjalan sesuai irama yang ia inginkan.
Kolombia juga punya Faustino Asprilla. Waktu bermain di Eropa namanya cukup besar, tetapi di Piala Dunia penampilannya tidak pernah benar-benar meledak. Begitulah sepak bola. Tidak semua pemain hebat bisa bersinar di panggung yang sama.
Setelah generasi itu habis, Kolombia sempat menghilang dari percakapan.
Baru pada 2014 mereka kembali mencuri perhatian lewat James Rodríguez. Saya rasa hampir semua penggemar sepak bola masih ingat gol voli James ke gawang Uruguay. Sampai sekarang gol itu masih layak ditonton berulang kali.
Di Brasil tahun itu Kolombia akhirnya dihentikan tuan rumah di perempat final. Pertandingan tersebut juga dikenang karena benturan yang membuat Neymar cedera. Akibatnya, ia tidak bisa tampil ketika Brasil dibantai Jerman 1-7 di semifinal.
Sekarang waktunya sudah berbeda.
James Rodríguez memang tidak semuda dulu, tetapi ia masih menjadi simbol generasi emas sepak bola Kolombia. Pengalaman bermain di Real Madrid tentu memberi nilai lebih bagi pemain seperti dirinya. Kadang sebuah tim memang membutuhkan sosok yang sudah kenyang menghadapi pertandingan besar.
Langkah Kolombia di Piala Dunia 2026 memang akhirnya harus terhenti lebih cepat dari yang diharapkan. Namun hasil itu tidak menghapus kesan bahwa mereka tetap membawa identitas sepak bola yang khas. Tidak setiap generasi melahirkan pemain seunik René Higuita, Carlos Valderrama, atau James Rodríguez, tetapi tradisi menghadirkan pesepak bola yang bermain dengan imajinasi tampaknya masih menjadi bagian dari karakter Kolombia.
Saya tidak tahu kapan Kolombia kembali mampu menembus persaingan menuju empat besar Piala Dunia. Namun setiap kali mereka tampil, saya selalu merasa sedang menyaksikan sesuatu yang berbeda. Mereka mengingatkan saya pada masa ketika sepak bola bukan hanya soal efisiensi dan statistik, tetapi juga keberanian bereksperimen, kreativitas, dan karakter yang begitu kuat.
Mungkin itulah sebabnya Kolombia akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati banyak penggemar sepak bola, termasuk saya. Karena sejak dulu mereka tidak hanya menghadirkan kemenangan atau kekalahan, melainkan juga para seniman yang membuat sepak bola terasa lebih indah untuk dikenang.
Baca Juga
-
Perang Anglo-Saxon vs Viking: Ujian Mental Juara Inggris Era Tuchel
-
Ketika Brasil Tumbang, Piala Dunia Mulai Kehilangan Logikanya
-
Mengapa Hati Saya Tak Pernah Hanya untuk Argentina saat Piala Dunia
-
Suatu Malam bersama Tiga Peronda Misterius
-
Piala Dunia 2026: Akankah Messi dan Argentina Kembali Berpesta?
Artikel Terkait
-
Tak Punya Gelar Piala Dunia, Apakah Cristiano Ronaldo Sah Disebut Legenda Terbesar Portugal?
-
Respons Prabowo, PSSI Fokus Perluas Talent Pool Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030
-
Ogah Sesumbar, Spanyol Fokus Lawan Belgia Sebelum Bicara Semifinal Piala Dunia 2026
-
Kylian Mbappe Cetak Rekor Bersejarah usai Bawa Prancis ke Semifinal, Kini Setara Lionel Messi
-
PSSI Respons Keresahan Prabowo Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia: Butuh APBN
Kolom
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Generasi Tanpa Ruang Tumbuh: Tekanan Sistem yang Memaksa Anak Muda Berlari
-
Tren No Buy Challenge: Mampukah Gen Z Cegah Keinginan Belanja Impulsif?
-
Bukan Malas, Ini Alasan Logis Mengapa Generasi Sekarang Sulit Punya Rumah di Usia 25
-
Merasa Butuh Membeli Sesuatu? Bisa Jadi Kamu Cuma Terpengaruh Algoritma
Terkini
-
Tas Ajaib Ema
-
Lagu "Tenang Saja (Ini Hanya Fase)" Idgitaf: Obat untuk Kamu yang Sering Kecewa dengan Ekspektasi
-
Perempuan Pembawa Sial: Sajian Teror Psikologis Tanpa Jumpscare Berlebih
-
Sinopsis Blossoms of Power, Drama Terbaru Meng Zi Yi dan He Yu di WeTV
-
Humor Satir Lintas Generasi di Buku Menertawakan Akal Menghitung Bintang