M. Reza Sulaiman | Sukatman Sukatman
Foto ilustrasi pekerja muda yang mengalami stres finansial. (Foto: Pexels/Tiger Lily)
Sukatman Sukatman

Pernahkah Anda menghadiri acara kumpul keluarga lalu pulang dengan kepala pening? Pertanyaan seperti “Kapan lulus?”, “Sudah kerja di mana?”, hingga “Kapan nikah, mumpung umur pas?” seolah menjadi peluru penembak mental yang rutin dilesatkan.

Di Indonesia, ada sebuah timeline kehidupan yang tidak tertulis, namun disepakati bersama secara turun-temurun. Masyarakat seolah memiliki blueprint bahwa pada usia 22 tahun seseorang harus lulus kuliah. Kemudian di usia 23 tahun mendapat pekerjaan tetap dengan gaji mapan, usia 25 tahun menikah, dan usia 27 tahun sudah mencicil rumah sendiri.

Jika gagal memenuhi salah satu target tersebut, masyarakat dengan cepat menyematkan label "telat" atau bahkan "gagal". Namun, adilkah kita terus menghakimi generasi muda hari ini dengan standar masa lalu, tanpa melihat bagaimana fondasi ekonomi kita telah berubah total?

Standar Orde Baru vs Lanskap Ekonomi Modern

Untuk memahami akar masalah ini, mari kita bandingkan realitas generasi orang tua kita (Milenial awal atau Gen X) dengan Gen Z dan Milenial akhir saat ini. Pada era 1980-an hingga 1990-an, seseorang berbekal ijazah SMA atau Diploma sudah bisa masuk ke instansi atau perusahaan besar. Mereka bisa mendapatkan status karyawan tetap dan memperoleh upah yang cukup untuk menghidupi satu keluarga.

Saat itu, harga tanah belum meroket ugal-ugalan dan inflasi properti masih ramah di kantong. Seseorang yang menikah di usia 23 tahun pada masa itu masih sangat mungkin membeli rumah petak dengan skema yang masuk akal.

Bagaimana dengan hari ini? Pola ekonomi telah bergeser secara struktural. Persyaratan kerja semakin ketat, bahkan lowongan administrasi sederhana saja kini banyak menuntut gelar sarjana (S1). Akibatnya, usia masuk ke dunia kerja secara mandiri otomatis mundur ke angka 23 atau 24 tahun.

Tantangan tidak berhenti di sana. Kita kini hidup di era gig economy, di mana status karyawan kontrak, freelancer, atau outsourcing menjadi pemandangan lumrah. Menuntut kemapanan finansial instan dari anak muda yang baru merangkak di tengah ketidakpastian kerja jelas sebuah anomali berpikir.

Paradoks Properti dan Beban Generasi Roti Lapis

Mari kita bicara angka dan fakta yang paling mencekik: harga hunian. Kenaikan gaji rata-rata pekerja muda di kota besar tidak pernah bisa mengejar laju kenaikan harga tanah dan rumah. Ditambah lagi, generasi hari ini banyak yang terjebak menjadi sandwich generation—harus membiayai diri sendiri sekaligus menopang ekonomi orang tua yang tidak memiliki jaminan pensiun.

Ketika seorang anak muda usia 25 tahun belum menikah atau belum memiliki rumah, itu bukanlah tanda bahwa mereka malas atau tidak berniat. Itu adalah keputusan rasional untuk bertahan hidup. Menunda pernikahan atau memilih mengontrak rumah alih-alih mengambil KPR bertenor 30 tahun yang mencekik adalah bentuk kalkulasi matang, bukan pemberontakan terhadap adat.

Menulis Ulang Narasi Sukses yang Lebih Manusiawi

Sudah saatnya kita menghentikan glorifikasi terhadap timeline usang yang tak lagi relevan dengan dompet generasi hari ini. Masyarakat perlu dididik untuk memahami bahwa jalan hidup seseorang bukanlah balapan lari, melainkan perjalanan maraton yang medannya berbeda bagi setiap orang.

Sukses tidak lagi bisa didefinisikan secara tunggal lewat resepsi pernikahan yang mewah atau kepemilikan sertifikat tanah di usia muda. Keberhasilan anak muda hari ini yang mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan kerja, terhindar dari jeratan pinjaman daring, dan tetap menjaga kesehatan mentalnya adalah sebuah pencapaian luar biasa yang patut diapresiasi.

Jadi, ketika timeline tak tertulis itu kembali menghantui pikiran Anda, tanyakan pada diri sendiri: Apakah kita ingin hidup demi memuaskan ekspektasi masa lalu orang lain, atau hidup realistis demi mengamankan masa depan kita sendiri?

Untuk lingkungan sekitar, bukankah sudah waktunya kita mengganti pertanyaan "Kapan?" dengan kalimat yang lebih peduli, seperti "Bagaimana kabarmu hari ini?"