Bagi beberapa orang, musim penghujan memang agak merepotkan karena sedikit menghambat pekerjaan sih. Namun, tahukah kamu bahwa hujan ternyata adalah momentum healing gratis yang bisa dinikmati semua orang?
Hujan adalah Siklus Alami Air
Sejak SD, kita sudah mempelajari siklus air, yakni air dari berbagai sumber di bumi entah air tanah, air laut, air danau, air sungai, sampai air mata pun menguap kena sinar matahari hingga menggumpal menjadi awan. Lama-lama, awan ini menjadi penuh dan turun kembali ke bumi sebagai air hujan.
Sewaktu kecil, bermain hujan-hujanan adalah wajib meski harus berjibaku dengan omelan ibu sih. Kalau sekarang, lebih baik menikmati hujan dari balik jendela saja. Selain karena gampang kena flu dan meriang, hujan zaman sekarang tidak sebersih hujan masa lampau juga, kan.
Bunyi Hujan Membantu Meredakan Stres, Sekaligus Mendatangkan Kantuk
Melansir laman Pluviophile, dengan mendengarkan suara hujan, tubuh akan secara nggak sadar menjadi rileks. Otak lantas mulai memproduksi gelombang alfa yang bisa menstimulasi kondisi otak sewaktu tidur.
Ritme hujan yang stabil dan konstan pada kisaran frekuensi 0 hingga 20 kHz pun turut membantu menjernihkan pikiran, dan menciptakan rasa kantuk karena zat melatonin meningkat di otak kita. Ditambah lagi, situasi mendung dan sinar matahari yang tertutup awan berhasil menyajikan suasana yang agak redup. Pas banget untuk rebahan di kasur. Begitu terpejam, mata ikut berkontribusi untuk memproduksi protein yang berhubungan dengan tidur.
Mungkin itulah alasannya kenapa setiap hujan turun, badan berasa malas dan maunya gegoleran saja sepanjang hari.
Aroma Petrikor sebagai Toping Tambahan
Setiap kali hujan turun, maka akan tercium aroma segar alam yang lazim disebut petrikor. Suatu aroma menenangkan, penuh kesegaran, dan rasa syahdu yang diikuti bunyi rintik hujan di atas genting.
Aroma ini sendiri sebetulnya berasal dari tiga aktivitas alamiah, yakni:
- Aktivitas bakteri tanah saat memproduksi spora menghasilkan geosmin, yang menyumbang aroma tanah basah ketika terkena air hujan.
- Aktivitas tumbuh-tumbuhan yang memproduksi senyawa minyak selama musim kemarau, kemudian senyawa minyak tersebut terlepas ke udara begitu kena hujan.
- Aktivitas petir yang memecah molekul-molekul oksigen menjadi atom-atom individual, kemudian bergabung dengan molekul oksigen lain untuk menghasilkan ozon, dan menguarkan aroma segar.
Maka nggak diragukan lagi, bahwa petrikor dan hujan adalah duet serasi alam yang nggak mampu diingkari oleh manusia. Jujur saja, aku selalu mencari-cari aroma petrikor ini setiap kali mendung mulai gelap.
Bisa Menjadi Healing Gratis dan Tanpa Effort
Terkadang saking introvert-nya aku, mau healing keluar pun malah terkendala overthinking. Apa ya, takut ketemu oranglah, takut repotlah, malas keluarlah. Pokoknya absurd sekalilah. Tapi kalau di rumah terus, nanti disangka nolep dan madesu.
Alhasil, aku kerap memanfaatkan waktu hujan sebagai momentum me time dan healing pribadi. Nggak harus mandi hujan. Cukup mengamati hujan dari balik kaca jendela sambil menyesap kopi, atau mengamati sarang laba-laba kena hujan yang malah jadi cantik karena mirip butiran mutiara, hingga rebahan di kamar.
Sambil mendengarkan rintik hujan yang membentur genting, aroma petrikor yang menusuk hidung, dan memori-memori manis yang perlahan menyundul ingatan, maka jadilah healing gratis tanpa effort sama sekali.
Hujan adalah Anugerah
Terkadang aku mendengar ada beberapa orang yang mencemooh hujan. Bikin beceklah, bikin basahlah. Namanya juga air. Walau untuk beberapa kasus, aku memahami keresahan mereka.
Semisal pemilik hewan ternak macam sapi atau kambing. Di musim penghujan, mereka cukup resah karena nggak bisa merumput. Mau nekat mencari rumput pun, terkadang hewan ternaknya rewel nggak mau makan karena rumput kotor berpasir. Yah, begitulah setidaknya keluhan yang kudengar dari para tetangga yang memelihara hewan ternak.
Namun, mau diingkari seperti apa pun, hujan adalah wujud siklus alam yang menjanjikan masih ada air di bumi ini. Hujan adalah anugerah Sang Pencipta, yang diturunkan gratis tanpa dipungut biaya. Dia hadir sebagai eksistensi kehidupan yang berjalan, sekaligus momentum healing sebagaimana kubahas di atas.
Memangnya mau seperti tahun 2023? Saat kita kena El Nino dengan suhu panas dan tanpa hujan sama sekali?
Baca Juga
-
Ritel Adalah Cermin Sosial: Membaca Karakter Pelanggan dari Gaya Belanja Mereka
-
Lebih dari Sekadar Kungfu: Mengapa Tai Chi Master adalah Film Jet Li yang Paling Ngenes?
-
Jangan Dibuang! Ternyata Tempe "Bosok" adalah Rahasia Kelezatan Masakan Jawa
-
Seni Menghadapi Tetangga Cerewet dan Julid: Manfaatkan Situasi dengan Baik!
-
Lebih dari Sekadar Nasi Sisa, Sego Karak Adalah Simbol Kehangatan Masa Lalu
Artikel Terkait
-
Perubahan Iklim Ancam Sistem Kelistrikan Indonesia, Mengapa Reformasi Jaringan Mendesak?
-
Payung Biru di Ujung Musim Hujan
-
Tren Baru Generasi Urban: Jadikan Rumah Tempat Healing dan Isi Ulang Energi
-
Catat Tanggalnya! Danamon Siapkan "Hujan Kejutan" Sambut HUT ke-70
-
Waspada El Nino hingga 2027, Megawati Keluarkan Instruksi 'Siaga Satu' Pangan dan Air
Kolom
-
Syarat Segunung, Nasib Menggantung: Wajah Birokratis Rekrutmen di Indonesia
-
Ironi Demokrasi: Ketika Pembelaan Hanya Milik Mereka yang Berkuasa
-
Apa Itu Soft Saving? Tren Keuangan yang Bisa Bikin Kamu Lebih Waras
-
Jebakan YOLO: Saat Hidup Hanya Sekali Berujung Utang yang Menghantui
-
Korupsi dan Seni Menyembunyikan Kekayaan: Saat Asalnya Berhasil Disamarkan
Terkini
-
4 Ide OOTD Minimalist Casual ala Seo Su Min yang Timeless dan Youthful!
-
Mengapa Remake '402 Rumah Sakit Angker' Gagal Memikat Seperti Gonjiam Versi Asli?
-
Pemuda Trash Ranger Indonesia sebagai Delegasi Puncak IGYLS 2026
-
Sinopsis Mile End Kicks, Film Romcom Berlatar Dunia Musik Indie Rock
-
Bye Kusam dan PIH! 4 Brightening Serum Aman Bagi Pemula Berusia 20 Tahun