M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi karyawan melakukan cek stock opname (Unsplash/Alin Andersen)
Tika Maya Sari

Menurutmu, pekerjaan apa yang membuat kita bisa membaca karakter orang? Peramal? Cenayang? Psikolog? Mungkin benar, tapi pekerja ritel dan jasa ternyata kerap menjadi saksi atas sikap asli seseorang.

Menurut laman Dictionary of Cambridge, ritel adalah suatu usaha menjual barang ke konsumen akhir, atau ke masyarakat luas. Biasanya berbentuk berupa toko, swalayan, maupun e-commerce. Pekerja ritel sendiri pun memegang posisi berbeda antara satu sama lain. Ada pramuniaga, kasir, cleaning service, atau kepala toko. Namun, ada juga kok sistem yang merangkap jabatan tergantung tipe ritelnya.

Yang namanya ritel, otomatis ya menjual produk yang tentu mengedepankan transaksi jual beli produknya. Namun nggak jarang ada banyak drama yang melingkupi dunia ritel.

Drama Ritel yang Selalu Relevan

Bekerja di ritel tentunya memiliki beberapa benefit hingga konsekuensi. Benefitnya pastilah antara kenaikan pangkat, kenaikan gaji, atau bonus penjualan.

Sedangkan konsekuensinya?

1. Vibes lingkungan kerja

Ada beberapa komentar netizen di internet seputar pengalamannya bekerja ritel yang mana toko kedapatan minus berpuluh juta. Sehingga anak baru kena getahnya, kendati tidak melakukan apa-apa. Hal ini tentu saja bikin lingkungan kerja jadi nggak nyaman, belum lagi kalau dapat kepala toko yang kurang amanah. Pait!

2. Minus barang berarti potong gaji

Ada juga yang berbagi pengalaman potong gaji gara-gara toko selalu minus, entah pada kasir maupun stok gudang. Sebisa mungkin diminimalisir, entah sering melakukan cek stok barang, seteliti mungkin saat jadi kasir, sampai mengunci laci kasir dan pasang banyak CCTV. Hasilnya? Minus tetap terjadi kalau ada barang hilang, dan gaji terpotong demi menutup kerugian. Padahal, barang hilang tuh kalau nggak dicuri pengunjung toko ya diambil atasan sendiri sih.

3. Ujung tombak toko

Bekerja di ritel otomatis bakal langsung berhadapan dengan customer. Nggak jarang, ada customer ramah nan baik hati yang bak malaikat banget, kadang juga ada customer yang bikin stres. Nggak sekadar potong antrean kasir, tapi juga bikin senewen dengan kelakuannya yang ajaib.

Benefit yang Didapat Guna Upgrade Skill Survive Dunia

Kendati dunia ritel ada saja gebrakan dan halangannya, pun sering bikin stres baik oleh atasan maupun rekan kerja, ternyata masih ada benefit yang didapat. Aku akan bicara berdasarkan pengalaman pribadi ya.

Pertama, skill de-eskalasi konflik

Sebagai karyawan toko, kadang kutemui beberapa tipe customer yang aduhai. Ngotot minta diskon lah, sok tahu lah, sampai kadang mengatai fisik mentang-mentang aku nggak secantik Carmen Hearts to Hearts. Namun, dari situlah aku belajar mengatur mood dan diksi, melakukan de-eskalasi konflik dengan tepat, dan tentunya mendapatkan closingan barang dengan sentosa.

Kedua, skill membaca orang

Lewat interaksi dengan para customer, aku jadi bisa membaca gerak-gerik, mengetahui situasi keuangan, sampai kesukaan mereka. Seseorang yang baru gajian umumnya bakal petantang-petenteng dan membeli rokok termahal, sedangkan beberapa hari berikutnya bakal membeli rokok kretek termurah dengan ekspresi melas. Pun seorang ibu-ibu yang suka bercerita, tinggal diberi ‘pemantik’ sedikit maka langsung oversharing.

Ketiga, skill membaca kondisi sekitar

Terkadang beberapa customer yang saling kenal bakal membicarakan beberapa topik. Entah seputar ramainya desa wisata, soal pertanian, harga cabai, sampai berdiskusi mengenai barang yang mau dibeli. Bahkan, termasuk berita-berita besar yang terjadi di lingkungan sekitar. Hal itu dapat kita rangkum sebelum melakukan observasi lanjutan sebelum menentukan apakah beritanya valid.

Keempat, skill mengatur keuangan

Hal ini tentunya berlaku bagi semua orang ya. Namun untuk anak ritel, kemungkinan pasti berjaga-jaga semisal harus potong gaji karena minus toko. Alhasil, keuangan dan gaji diatur sedetail mungkin untuk kedepannya.

Kelima, skill pengelolaan toko

Hal ini mencakup pencatatan barang, cek stock opname, kasiran, SOP dalam pekerjaan, sampai ramah tamah saat melayani customer. Termasuk juga interaksi terhadap atasan ya.

Dunia Ritel dan Jasa adalah Cermin Sosial

Aku menulis artikel ini sebagai satu keluh kesah dalam menghadapi customer yang macam-macam. Tipikal orang temperamen yang bikin ngeri, yang sedang nge-fly sampai bikin takut, hingga yang melempar uangnya. Yah, namanya juga manusia, hatiku cukup tercubit tapi tetap tersenyum paksa.

Ada lagi yang merendahkan fisik, hingga sosok cabul yang bikin nggak nyaman. Berbagai kejadian ini semata-mata tersaji bak cermin sosial yang nggak perlu diverifikasi lagi.

Kendati demikian, masih ada banyak orang-orang asyik di luar sana kok. Yang hobi bercanda sampai ditegur istrinya, hingga yang suka berbagi kisah inspiratif dan motivasi relevan. So, menurut kawan-kawan sekalian, apakah dunia ritel dan jasa benar-benar cermin sosial paling akurat?