Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Pemerintah Indonesia (Instagram/bahlillahadalia)
Oktavia Ningrum

Setiap kali pemerintah mengumumkan proyek baru, pembangunan infrastruktur, program bantuan sosial, atau pembelian barang dan jasa, sering kali muncul satu kesalahpahaman yang masih mengakar di tengah masyarakat. Banyak orang tanpa sadar memperlakukan anggaran negara seolah-olah merupakan pemberian pemerintah kepada rakyat. Padahal, logikanya justru terbalik.

Negara tidak memiliki uangnya sendiri. Uang yang dikelola pemerintah berasal dari berbagai sumber penerimaan negara, terutama pajak, penerimaan negara bukan pajak, dividen badan usaha milik negara, penerimaan sumber daya alam, serta berbagai sumber sah lainnya yang pada akhirnya merupakan kekayaan publik. Pemerintah bukan pemilik uang tersebut, melainkan pengelola yang diberi mandat untuk menggunakannya sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat.

Karena itulah, setiap rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) harus dipandang sebagai amanah. Amanah bukan hanya untuk dibelanjakan, tetapi juga untuk dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Sayangnya, dalam praktiknya, masyarakat sering kali hanya menjadi penonton. Ketika ada proyek bernilai besar, pengadaan barang, atau program yang menelan anggaran triliunan rupiah, perhatian publik biasanya hanya muncul sesaat. Setelah itu, diskusi mereda tanpa diikuti evaluasi mengenai efektivitas, manfaat, maupun hasil yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Padahal, dalam negara demokrasi, pengawasan publik merupakan bagian penting dari tata kelola pemerintahan yang baik. Masyarakat berhak bertanya: mengapa sebuah program diprioritaskan, apa tujuan yang ingin dicapai, bagaimana proses pengadaannya dilakukan, berapa biaya yang dikeluarkan, dan bagaimana hasilnya diukur. Pertanyaan seperti itu bukan bentuk permusuhan terhadap pemerintah, melainkan wujud kepedulian terhadap penggunaan uang publik.

Di sisi lain, pemerintah juga memiliki kewajiban menjelaskan alasan di balik setiap kebijakan anggaran. Tidak semua belanja negara dapat dinilai hanya dari besar kecilnya angka. Ada program yang membutuhkan investasi besar karena manfaatnya baru terasa dalam jangka panjang. Ada pula pengeluaran yang mendesak karena berkaitan dengan pelayanan dasar atau keselamatan masyarakat. Karena itu, transparansi menjadi kunci agar publik dapat menilai kebijakan secara adil berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.

Transparansi juga penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Ketika informasi mengenai anggaran mudah diakses, proses pengadaan terbuka, serta hasil program dapat dievaluasi, ruang bagi penyimpangan akan semakin sempit. Sebaliknya, jika informasi sulit diperoleh atau pengawasan lemah, kecurigaan publik akan mudah tumbuh, bahkan terhadap kebijakan yang sebenarnya memiliki tujuan baik.

Di sinilah peran lembaga pengawas, aparat penegak hukum, media, akademisi, dan masyarakat sipil menjadi sangat penting. Mereka membantu memastikan bahwa penggunaan anggaran berjalan sesuai aturan dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika ditemukan dugaan pelanggaran, proses pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan bukti dan mekanisme hukum yang berlaku, bukan berdasarkan opini semata.

Lebih dari itu, masyarakat juga perlu menyadari bahwa hubungan antara warga negara dan pemerintah bukanlah hubungan pemberi dan penerima belas kasihan. Warga negara membayar pajak, mematuhi hukum, dan berkontribusi terhadap perekonomian. Sebagai imbalannya, negara berkewajiban menyediakan pelayanan publik yang baik, infrastruktur yang memadai, pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang layak, serta pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab.

Mengingat bahwa uang negara adalah uang rakyat bukan berarti menolak setiap kebijakan pemerintah. Sebaliknya, kesadaran itu mendorong kita untuk lebih aktif mengawasi, bertanya, dan menuntut akuntabilitas. Pemerintah berganti, pejabat berganti, tetapi uang publik tetap harus dikelola dengan prinsip yang efisien, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Setiap rupiah yang masuk ke kas negara adalah hasil kerja jutaan orang yang bangun sebelum matahari terbit, bekerja sepanjang hari, menghadapi kemacetan, tekanan pekerjaan, dan berbagai tantangan hidup. Mengelola uang itu bukan sekadar urusan administrasi. Ia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada seluruh rakyat.