Belakangan ini, saya merasa harga makanan dan minuman di mal semakin tak terjangkau. Bukan hanya makanan berat, camilan dan minuman yang dulu masih terasa sebagai pembelian kecil kini bisa menghabiskan puluhan, bahkan ratusan ribu rupiah.
Jika dibandingkan dengan pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia, harga tersebut terasa semakin tidak masuk akal. Bagi banyak orang, Rp100.000 bukan uang kecil, apalagi jika hanya habis untuk satu makanan dan satu minuman.
Lantas, ketika harga makanan terus naik tapi gaji jalan di tempat, sampai kapan kita bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar?
Ketika Jajan di Mal Mulai Terasa Seperti Kemewahan
Dulu, pergi ke mal mungkin tidak selalu berarti harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Membeli minuman atau camilan bisa menjadi pengeluaran kecil yang dilakukan tanpa terlalu banyak pertimbangan.
Namun, sekarang, harga Rp40.000 untuk camilan atau Rp50.000 untuk minuman terasa semakin sulit disebut sebagai pengeluaran kecil jika dibandingkan dengan upah yang diterima banyak pekerja di Indonesia. Apalagi, nominal tersebut bisa mengambil porsi yang cukup besar dari pendapatan bulanan.
Bagi pekerja yang menerima upah sekitar Rp2 juta hingga Rp5 juta per bulan, misalnya, Rp50.000 untuk satu minuman tentu memiliki bobot yang berbeda dibandingkan bagi seseorang dengan penghasilan puluhan juta rupiah. Harganya memang sama, tetapi daya belinya berbeda.
Tentu saja membeli makanan atau minuman itu pilihan. Namun, kita patut mempertanyakan mengapa harga makanan dan minuman terus meningkat, sementara pendapatan rata-rata pekerja Indonesia masih relatif rendah.
Harga Global, Pendapatan Lokal
Saya juga merasa perbandingan dengan negara lain menjadi menarik dalam konteks ini. Di negara dengan pendapatan yang jauh lebih tinggi, harga makanan dan minuman memang bisa lebih mahal.
Namun, mahalnya harga tersebut sering kali tetap lebih masuk akal jika dibandingkan dengan pendapatan masyarakatnya.
Misalnya, harga minuman yang jika dikonversikan mencapai Rp100.000 hingga Rp150.000 mungkin terdengar mahal bagi orang Indonesia.
Namun, jika pendapatan masyarakat di negara tersebut juga jauh lebih tinggi, harga itu belum tentu memiliki beban yang sama terhadap dompet mereka.
Di Indonesia, minuman seharga Rp50.000 saja bisa terasa sangat mahal bagi banyak orang karena pendapatan rata-rata masyarakat masih jauh lebih rendah. Membandingkan harga secara nominal saja belum cukup.
Jadi, membandingkan harga secara nominal saja sebenarnya tidak cukup. Yang lebih penting adalah melihat daya beli. Daya beli juga perlu diperhitungkan.
Harga makanan Rp50.000 tidak memiliki arti yang sama bagi setiap orang. Persoalannya bukan apakah nominal tersebut mahal atau murah, melainkan berapa besar bagian dari pendapatan seseorang yang harus dikeluarkan untuk membelinya.
Di sinilah kesenjangan harga dan gaji menjadi semakin terasa. Harga makanan, sewa tempat, bahan baku, dan biaya operasional terus meningkat. Namun, kenaikan pendapatan tidak selalu mengikuti.
Akibatnya, makanan di mal perlahan-lahan menjadi sesuatu yang hanya bisa dinikmati sesekali oleh sebagian masyarakat.
Saat Menabung Makin Sulit, Benarkah Masalahnya Hanya Gaya Hidup?
Saya merasa ada yang keliru ketika setiap masalah keuangan selalu dikembalikan pada bagaimana seseorang mengatur uang.
Ketika seseorang tidak bisa menabung, penyebabnya dianggap karena terlalu sering membeli kopi, nongkrong, atau makan di luar.
Tentu saja, sangat disarankan untuk mengevaluasi pengeluaran dan mengurangi konsumsi yang tidak diperlukan. Namun, narasi bahwa semua persoalan finansial disebabkan oleh gaya hidup rasanya terlalu menyederhanakan masalah.
Bagaimana seseorang bisa menabung dengan leluasa jika sebagian besar pendapatannya habis untuk kebutuhan pokok? Bagaimana seseorang bisa memiliki dana darurat jika harga kebutuhan sehari-hari terus meningkat?
Sekalinya self reward dengan membeli jajan di mal, langsung disebut boros, padahal pada saat yang sama harga berbagai kebutuhan lain juga semakin mahal.
Saya merasa banyak orang sekarang bahkan sudah mulai mengubah kebiasaan ketika pergi ke mal. Kalau dulu bisa membeli makanan berat, minuman, dan camilan, kini sebagian orang memilih salah satunya.
Ada yang memutuskan hanya membeli makanan berat. Ada yang tidak membeli camilan sama sekali. Ada pula yang datang ke mal hanya untuk berjalan-jalan tanpa membeli makanan karena harga yang ditawarkan terasa tidak sebanding dengan isi dompet.
Mungkin itu sebabnya pengalaman pergi ke mal perlahan berubah. Dulu, kita datang untuk makan, jajan, dan menikmati waktu. Sekarang, sebelum membeli sesuatu, kita lebih dulu menghitung. Mal memang masih ramai, tetapi tidak semua orang datang dengan daya beli yang sama.
Baca Juga
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
Behind Every Star: Sisi Gelap Ambisi di Balik Gemerlap Industri Hiburan
-
Pemerintah Rajin Membuat Program, Apakah Hidup Rakyat Makin Membaik?
Artikel Terkait
Kolom
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2