Saya merasa hidup sekarang benar-benar dimanjakan oleh teknologi. Mulai dari pesan makanan, belanja, nonton, belajar, bahkan kerja pun semuanya bisa dilakukan dari kasur.
Rasanya hampir semua hal sekarang dibuat agar manusia tidak perlu banyak bergerak. Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, jujur saya juga menikmati semua kemudahan itu.
Kadang rebahan sambil pesan kopi, scroll media sosial, lalu menunggu paket datang terasa seperti definisi hidup nyaman. Terlihat nyaman dan memudahkan, bukan?
Namun, belakangan saya mulai berpikir, apakah semua kepraktisan ini benar-benar membantu hidup jadi lebih baik? Atau justru perlahan membuat kita semakin malas bergerak, baik secara fisik maupun mental?
Menurut saya, inilah dilema besar generasi sekarang: hidup semakin mudah, tapi rasa lelah dan kehilangan motivasi justru makin sering dirasakan.
Semua Bisa Dilakukan Tanpa Bangun dari Kasur
Kalau dipikir-pikir, kehidupan modern memang sangat mendukung budaya rebahan. Bahkan sekarang banyak aktivitas harian tidak lagi membutuhkan tenaga besar.
Mau makan, tinggal pesan online. Mau belanja, tinggal checkout. Mau ngobrol, tinggal chat. Mau hiburan, tinggal buka TikTok atau Netflix. Semua terasa instan dan cepat.
Saya sadar teknologi memang diciptakan untuk mempermudah hidup manusia. Dan memang, banyak hal jadi lebih efisien berkat perkembangan digital.
Namun, di sisi lain kemudahan ini juga membuat kita semakin terbiasa dengan kenyamanan instan. Sedikit capek langsung cari jalan paling praktis. Sedikit bosan langsung cari hiburan cepat.
Tanpa sadar, kita jadi semakin sulit menghadapi proses yang membutuhkan usaha dan kesabaran. Kita seolah dididik teknologi menjadi pribadi manja yang "hobi" rebahan.
Kaum Rebahan dan Budaya “Nanti Aja”
Saya merasa istilah “kaum rebahan” sekarang bukan cuma candaan internet. Banyak anak muda generasi ini benar-benar hidup dalam pola yang serba menunda.
Tugas nanti. Olahraga nanti. Belajar nanti. Produktif juga nanti. Akhirnya waktu habis untuk scrolling tanpa tujuan sambil bilang “sebentar lagi mulai”. Dan jujur saja, saya juga pernah ada di fase itu.
Masalahnya, media sosial membuat rebahan terasa normal bahkan lucu. Konten tentang malas gerak, overthinking di kasur, atau tidur seharian sering dijadikan hiburan yang relate.
Padahal kalau terus dibiarkan, kebiasaan itu bisa berubah menjadi pola hidup yang membuat kita makin sulit berkembang karena menikmati kemalasan yang dinormalisasi.
Kemudahan yang Diam-diam Membentuk Mental Instan
Menurut saya, tantangan terbesar dari era serba klik bukan cuma soal fisik yang jadi malas bergerak, tapi juga mental yang makin terbiasa dengan hasil instan. Kita jadi ingin semuanya cepat: sukses, kaya, viral, bahkan bahagia.
Kalau ada hal yang butuh proses panjang, rasanya jadi mudah menyerah. Padahal hidup nyata tidak selalu bisa diselesaikan secepat loading aplikasi.
Kadang kita perlu sabar, konsisten, dan menghadapi rasa tidak nyaman. Namun, budaya instan membuat banyak orang kehilangan kemampuan bertahan dalam proses hingga sedikit gagal saja sudah merasa tidak mampu.
Rebahan Kadang Jadi Bentuk Pelarian
Saya juga mulai sadar kalau rebahan tidak selalu soal malas. Kadang itu adalah bentuk pelarian dari rasa lelah, stres, dan tekanan hidup yang pebuh tuntutan.
Akibatnya banyak orang merasa capek secara mental bahkan sebelum memulai sesuatu. Di situ rebahan terasa aman. Tidak ada tekanan dan tidak perlu berpura-pura baik-baik saja, tapi juga semakin takut menghadapi dunia nyata.
Kemudahan Zaman Tetap Punya Sisi Positif
Meski begitu, saya tidak merasa teknologi atau kepraktisan adalah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Banyak kemudahan sekarang justru membantu hidup jadi lebih efisien.
Kita bisa belajar online, bekerja fleksibel, membuka peluang usaha digital, bahkan menghasilkan uang dari rumah. Jadi, masalahnya bukan pada teknologi tapi pada bagaimana kita menggunakannya.
Apakah kemudahan ini dipakai untuk berkembang? Atau justru membuat kita semakin tenggelam dalam rasa malas dan menunda hidup? Karena teknologi bisa menjadi alat yang membantu manusia maju sekaligus jebakan kenyamanan.
Generasi Sekarang Perlu Belajar Seimbang
Saya merasa generasi sekarang sebenarnya tidak malas sepenuhnya. Banyak yang hanya terlalu lelah dan overwhelmed dengan hidup. Namun, tetap saja kita perlu belajar membedakan antara istirahat dan keterusan nyaman.
Rebahan sesekali untuk mengisi energi itu wajar. Hanya saja, kalau semua hal terus ditunda karena terlalu nyaman, hidup juga tidak akan bergerak ke mana-mana.
Jangan Sampai Kehidupan Nyata Kalah oleh Zona Nyaman
Era serba klik memang membuat hidup lebih praktis dan mudah. Namun di balik semua kenyamanan itu, ada risiko yang diam-diam tumbuh: kebiasaan menunda, mental instan, dan rasa malas yang makin sulit dikendalikan.
Saya sekarang paham kalau hidup tetap membutuhkan usaha, proses, dan keberanian untuk bergerak. Karena pada akhirnya, teknologi seharusnya hadir untuk membantu manusia.
Keberadaan teknologi jangan sampai membuat kita semakin terjebak dalam zona nyaman yang perlahan menjauhkan dari tujuan hidup sendiri.
Baca Juga
-
Fenomena Gaji Numpang Lewat: Gaya Hidup dan Tekanan Sosial yang Bikin Boros
-
Fenomena HopeTok di Era Digital: Kenapa Konten Positif Semakin Dicari GenZ?
-
Hustle Culture Adalah Jebakan, Ini Alasan Kenapa Kamu Perlu Berhenti Sejenak
-
Lingkaran Pertemanan Mengecil? Jangan Panik, Kamu Justru Sedang Bertumbuh
-
Perempuan dan Tren Capsule Wardrobe: Bikin Hemat atau Cuma Hype Sesaat?
Artikel Terkait
Kolom
-
Berkaca dari Kasus Hotman Paris: Popularitas dan Jabatan Bukan Alasan Merendahkan Profesi Lain
-
Mengapa Kritik Akademik Lebih Sibuk Dipersoalkan daripada Masalahnya?
-
Nenek Renta Kelaparan Gigit Jari, yang Rumahnya Keramik Bagus Malah Asyik Kantongi Bansos
-
Radical Acceptance Semu: Benarkah Sikap Bodo Amat adalah Bentuk Kedewasaan?
-
Cuti dan Privasi Karyawan: Sejauh Mana Perusahaan Berhak Bertanya?
Terkini
-
Review The Hawk: Saat Will Ferrell Nggak Lagi Cukup Mengundang Tawa
-
4 Inspo OOTD Girl Crush ala Chiquita BABYMONSTER yang Kekinian Buat Dicoba!
-
The Maidens: Novel Psychology Thriller yang Melibatkan Dosen dan Mahasiswi
-
P.O Block B Alami Kecelakaan saat Liburan di Jeju, Agensi Ungkap Kondisinya
-
Review Film Zola: Ketika Kisah Media Sosial Berubah Menjadi Momen Mencekam!