Adulting di era mahal membuat Gen Z menghadapi berbagai tantangan, mulai dari finansial, pekerjaan, hunian, hingga tekanan sosial. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: mengapa menjadi dewasa terasa semakin sulit bagi Gen Z?
Dulu, menjadi dewasa mungkin terdengar seperti sebuah pencapaian. Punya pekerjaan, mendapatkan penghasilan sendiri, memiliki tempat tinggal, kemudian perlahan membangun kehidupan sendiri.
Namun, bagi banyak Gen Z, menjadi dewasa sekarang ini terasa seperti membuka satu per satu level permainan dengan tingkat kesulitan yang semakin tinggi. Begitu mendapatkan pekerjaan, muncul persoalan gaji. Ketika gaji sudah diterima, ada kebutuhan sehari-hari yang harus dibayar.
Ingin tinggal sendiri, harga hunian terasa berat. Ingin menabung, kebutuhan terus bertambah. Bahkan untuk sekadar menikmati akhir pekan, kita masih harus menghitung saldo rekening. Inilah realitas adulting di era mahal.
Bekerja Bukan Berarti Otomatis Mapan
Salah satu mitos tentang menjadi dewasa adalah ketika sudah bekerja, kehidupan akan terasa lebih stabil. Kenyataannya tidak selalu demikian sebab sudah bekerja bukan berarti otomatis punya kehidupan yang mapan.
Punya pekerjaan memang memberikan penghasilan, tapi tidak semua kebutuhan otomatis terpenuhi. Biaya makan, transportasi, tempat tinggal, komunikasi, pendidikan, hingga kebutuhan sosial terus membutuhkan anggaran.
Belum lagi jika ingin memiliki dana darurat atau menabung untuk masa depan. Kita harus belajar mengatur keuangan sejak awal memasuki dunia kerja. Persoalannya, kemampuan finansial tidak selalu tumbuh secepat tuntutan hidup.
Punya Rumah Terasa Seperti Mimpi Jangka Panjang
Bagi sebagian Gen Z, memiliki rumah sendiri bukan lagi target yang ingin dicapai dalam waktu dekat. Harga rumah, biaya hidup, dan kebutuhan lainnya membuat kepemilikan hunian terasa semakin sulit dijangkau, terutama bagi mereka yang baru memulai karier.
Tinggal bersama orang tua pun kemudian sering dianggap sebagai tanda belum mandiri. Menurut saya, cara pandang seperti ini perlu diubah. Mandiri seharusnya tidak hanya diukur dari apakah seseorang sudah tinggal sendiri.
Tinggal bersama keluarga tapi bertanggung jawab terhadap kebutuhan dirinya dan mampu mengambil keputusan sendiri tetap bisa disebut mandiri. Bukankah kondisi ekonomi setiap orang berbeda? Tidak semua orang harus mengikuti timeline kehidupan yang sama.
Media Sosial Membuat Adulting Terlihat Lebih Mudah
Masalah lainnya datang dari media sosial. Setiap hari kita bisa melihat orang seusia kita traveling, membeli kendaraan, menikah, punya rumah, membangun bisnis, atau mendapatkan pekerjaan impian.
Tanpa sadar, pencapaian orang lain berubah menjadi standar untuk mengukur kehidupan sendiri. Padahal, media sosial hanya menunjukkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang dan bahkan hanya sisi terbaiknya.
Kita tidak tahu berapa lama mereka menabung, apakah mendapatkan bantuan keluarga, atau menghadapi masalah yang tidak dibagikan. Membandingkan perjalanan hidup hanya membuat proses adulting terasa semakin melelahkan.
Tidak Malas, Gen Z Hanya Menghadapi Kondisi yang Berbeda
Ada anggapan bahwa generasi muda terlalu ingin nyaman dan tidak mau bekerja keras. Namun, menurut saya, persoalannya tidak sesederhana itu. Gen Z tetap bekerja, belajar skill baru, membangun karier, bahkan mencari penghasilan tambahan.
Hanya saja, mereka tumbuh dalam kondisi ketika biaya hidup dan tuntutan kehidupan dewasa terasa semakin kompleks. Karena itu, keinginan mendapatkan keseimbangan hidup seharusnya tidak selalu diterjemahkan sebagai kemalasan.
Bekerja keras memang penting. Namun, penting juga untuk memiliki batas, menjaga waktu istirahat, dan mempertimbangkan kesehatan finansial sebagai bagian dari menjalani kehidupan dewasa.
Adulting Bukan Perlombaan
Kita mungkin perlu mendefinisikan ulang arti menjadi dewasa. Konsep dewasa bukan lagi hanya tentang siapa yang paling cepat punya rumah, menikah, memiliki jabatan tinggi, atau menghasilkan banyak uang.
Dewasa juga berarti mampu mengenali kemampuan diri, membuat keputusan dengan bertanggung jawab, mengelola uang sesuai kondisi, dan menerima bahwa perjalanan setiap orang berbeda.
Di tengah biaya hidup yang semakin mahal, Gen Z mungkin memang menghadapi adulting dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Namun, bukan berarti mereka gagal menjadi dewasa saat tahapan perjalanannya berbeda dengan orang lain.
Kita mungkin perlu belajar kalau menjadi dewasa bukan memiliki semuanya secepat mungkin, melainkan tentang bagaimana bertahan, berkembang, dan tetap memiliki kehidupan yang bermakna di tengah realitas yang tidak selalu mudah.
Sebab pada akhirnya, adulting bukan ajang perlombaan untuk terlihat paling sukses menurut standar sosial. Adulting adalah proses belajar menjalani hidup dengan segala modal maupun keterbatasan yang kita punya.
Baca Juga
-
Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z
-
Sisi Gelap Solo Traveling yang Gak Ada di Algoritma Instagram, Perempuan Wajib Tahu!
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Bukan Anti-Bahasa Baku, Gen Z Hanya Belum Temukan Cara Belajar yang Relevan
-
Melawan Tekanan Jam Sosial: Hak Perempuan Menentukan Pernikahan dan Masa Depan
Artikel Terkait
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Bukan Anti-Bahasa Baku, Gen Z Hanya Belum Temukan Cara Belajar yang Relevan
-
Sisi Gelap Adulthood: Pergulatan Mental Gen Z Hadapi Ketidakpastian Hidup
-
Maknai Hari Sumpah Pemuda, Jasa Marga Dorong Regenerasi Kepemimpinan dan Inovasi Digital
-
Tren Bahasa Gado-Gado ala Gen Z: Akankah Bahasa Indonesia Terasing di Negeri Sendiri?
Kolom
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus
-
Sering Dianggap Remeh, Segini Mahalnya Biaya Menjadi Perempuan Setiap Bulan
Terkini
-
Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime
-
Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?