Baru-baru ini, sebuah unggahan tentang mindfulness dan keinginan untuk membatasi paparan berita buruk memicu perdebatan panjang di media sosial. Ada yang menganggap keputusan untuk menjauh dari kabar-kabar negatif sebagai bentuk menjaga kesehatan mental.
Di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, memilih untuk tidak mengetahui semuanya memang terdengar seperti cara yang simple untuk memberi jeda kepada diri sendiri. Namun, sebagian orang mempertanyakan bagaimana mungkin berita buruk diperlakukan hanya sebagai sesuatu yang bisa ditutup, di-mute, atau ditinggalkan sementara.
Di sisi lain, bagi kebanyakan masyarakat, kabar tentang bencana, harga kebutuhan yang naik, PHK, kebijakan publik, hingga masalah lingkungan bukan sekadar informasi yang lewat di layar. Ada yang hidup di dalam dampaknya setiap hari.
Perdebatan tersebut akhirnya membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar tentang self-care. Menjaga diri tentu sah-sah saja, tetapi apakah semua orang memiliki kemewahan yang sama untuk menjauh dari hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman?
Bisa Menjauh dari Berita Buruk itu Privilege
Kemampuan seseorang untuk menjauh dari berita buruk ternyata banyak dipengaruhi oleh seberapa dekat ia dengan masalah yang diberitakan. Kalau sebuah kabar hanya kita temui lewat layar, kita bisa saja menutup aplikasi, berhenti membaca, lalu mengalihkan perhatian ke hal lain. Namun, hal itu tentu berbeda bagi orang yang dampaknya benar-benar mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Bayangkan orang yang membaca berita tentang kebakaran hutan sambil tetap menghirup asapnya setiap hari. Atau mereka yang melihat berita tentang kenaikan harga sambil sibuk memikirkan bagaimana uang belanja bisa cukup sampai akhir bulan.
Oleh karena itu, nasihat untuk mengurangi konsumsi berita buruk bisa punya makna yang berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, kalimat tersebut mungkin terasa menenangkan karena memberi kesempatan untuk beristirahat sejenak dari informasi yang melelahkan. Namun, bagi orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan dampaknya, menjauh dari berita tidak serta-merta membuat masalahnya ikut pergi.
Ketika Punya Platform, Diam Juga Punya Arti
Perdebatan bisa lebih pelik kalau yang membicarakan soal self-care dan kelelahan menghadapi berita buruk adalah seseorang yang punya banyak pengikut di media sosial.
Bagi orang biasa, mengurangi konsumsi berita tentu merupakan pilihan pribadi. Kita punya hak untuk menentukan informasi apa yang ingin kita baca dan kapan ingin berhenti sejenak. Tidak mungkin juga setiap orang dituntut untuk mengikuti semua isu yang terjadi di sekitarnya.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi seorang figur publik. Apa yang disampaikan tidak sekadar sebagai pengalaman pribadi karena ada banyak orang yang mendengarkan, mengikuti, bahkan mungkin menjadikannya sebagai acuan. Wajar jika kemudian publik tidak hanya melihat apa yang dikatakan, tetapi juga mempertanyakan sikap yang muncul setelahnya.
Bukan berarti figur publik harus selalu ikut berkomentar setiap ada masalah. Kita juga tidak bisa menuntut mereka punya sikap terhadap semua hal yang terjadi.
Hanya saja, ketika punya pengaruh dan audiens yang besar, pilihan untuk diam, bersuara, atau mengangkat suatu isu tetap bisa membawa dampak. Bukan berarti setiap pilihan harus dianggap sebagai kewajiban, tetapi pengaruh yang dimiliki memang membuat pilihan tersebut tidak sepenuhnya berhenti sebagai urusan pribadi.
Self-Care Boleh, Tapi Jangan Sampai Kehilangan Empati
Menurut saya, tidak ada yang salah dengan self-care. Kita memang tidak mungkin terus-menerus menampung semua masalah yang terjadi di sekitar kita. Ada batas energi dan kapasitas emosional yang perlu dihargai.
Yang disorot adalah ketika self-care mulai dijadikan alasan untuk sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar kehidupan pribadi.
Kita juga tidak harus selalu ikut marah, membagikan setiap berita, atau turun langsung untuk menunjukkan kepedulian. Menurut saya, terkadang cukup dengan menyadari bahwa apa yang kita anggap sebagai gangguan di layar bisa menjadi kenyataan yang berat bagi orang lain.
Kesadaran seperti ini penting agar mindfulness bukan sekadar usaha membuat diri sendiri merasa tenang, tetapi tetap memberi ruang untuk memahami apa yang sedang dialami orang lain.
Baca Juga
-
Saat Program Andalan Memakan Korban, Bukankah Presiden Seharusnya Geram?
-
Menkeu Boleh Berganti, Beban Anggaran MBG Tetap Menghantui
-
Green Mothers' Club: Obsesi pada Anak Berprestasi dalam Standar Parenting
-
Ulasan Drakor Head Over Heels: Melawan Takdir Berbalut Romansa Remaja Supernatural
-
BGN Siapkan Sistem Marketplace MBG: Kejar Pengadaan, Keracunan Terabaikan?
Artikel Terkait
-
Tips Menyikapi Berita Buruk Menurut Psikolog agar Tetap Tenang dan Gak Panik
-
Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik Tone Deaf, di Mana Letak Masalahnya?
-
Memahami Privilege Blindness di Tengah Krisis dan Berita Buruk
-
Viral Maudy Ayunda Disebut Tone Deaf Gegara Konten Mindfulness, Apa Sih Artinya?
-
3 Poin Konten YouTube Maudy Ayunda Soal Bad News yang Dianggap Tone Deaf
Kolom
-
Modernisasi Keselamatan Kelautan: Dari Analisis Pascatragedi Menuju Pencegahan Dini Berbasis AI
-
Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik Tone Deaf, di Mana Letak Masalahnya?
-
Kalau Namanya Makan Bergizi Gratis, Mana Jaminan Gizinya?
-
Saat Program Andalan Memakan Korban, Bukankah Presiden Seharusnya Geram?
-
Menkeu Boleh Berganti, Beban Anggaran MBG Tetap Menghantui
Terkini
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Ultimatum Keras Erick Thohir! Timnas Indonesia Harga Mati Juara FIFA ASEAN Cup 2026
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi