Lintang Siltya Utami | Dini Sukmaningtyas
Drama Korea Juvenile Justice (Netflix)
Dini Sukmaningtyas

Apa yang harus dilakukan ketika seorang anak melakukan kejahatan yang begitu kejam? Apakah usia dapat menjadi alasan untuk mengurangi hukuman, atau setiap kejahatan tetap harus mendapatkan konsekuensi yang setimpal?

Juvenile Justice membawa dilema tersebut ke dalam ruang pengadilan anak. Drama Korea ini mengikuti Sim Eun Seok, hakim yang memiliki pandangan keras terhadap pelaku kejahatan anak, dan Cha Tae Ju, hakim lain yang percaya bahwa anak-anak masih memiliki kesempatan untuk berubah.

Melalui konflik tersebut, Juvenile Justice tidak hanya membahas soal hukuman untuk anak-anak. Serial ini juga mengangkat persoalan rehabilitasi, hak korban, peran keluarga, dan kegagalan sistem dalam mencegah kejahatan.

Lantas, sejauh mana Juvenile Justice berhasil menggambarkan rumitnya sistem peradilan anak? Simak ulasan lengkapnya.

Saat Usia Menjadi Pertimbangan dalam Persidangan

Salah satu aspek menarik Juvenile Justice adalah keberaniannya untuk tidak melihat kejahatan anak secara hitam-putih.

Drama ini memang memperlihatkan pelaku sebagai seseorang yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun, pada saat yang sama, penonton juga diajak melihat lingkungan yang membentuk mereka.

Tidak semua anak pelaku kejahatan lahir dari situasi yang sama. Ada yang tumbuh dalam keluarga yang penuh kekerasan, mengalami pengabaian, berada di lingkungan yang buruk, atau tidak pernah mendapatkan pengawasan dan perlindungan yang memadai.

Hal tersebut tentu tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan kejahatan. Namun, memahami latar belakang tersebut membantu kita melihat bahwa kejahatan anak sering kali dipengaruhi oleh bagaimana anak itu dibesarkan.

Meski demikian, Juvenile Justice tidak meromantisasi pelaku. Justru, drama ini menyoroti bahwa seseorang dapat menjadi korban sekaligus pelaku.

Ketika Dua Hakim Memaknai Keadilan secara Berbeda

Kim Hye Soo berhasil membuat karakter Sim Eun Seok menjadi pusat perhatian selama saya menonton. Ia bukan tipe hakim yang disukai semua orang.

Sikapnya dingin dan keras, bahkan cenderung membuat orang bertanya apakah kebenciannya terhadap pelaku anak dapat mengganggu objektivitasnya sebagai hakim. Namun, justru karena itulah karakternya terasa menarik.

Sementara itu, Cha Tae Ju berfungsi sebagai penyeimbang. Ia membawa perspektif yang lebih humanis karena percaya pada kesempatan kedua terhadap para pelaku kejahatan.

Konflik antara Sim Eun Seok dan Cha Tae Ju menjadi representasi dari dua pendekatan dalam menghadapi pelaku anak.

Sim Eun Seok cenderung melihat kejahatan dari dampaknya terhadap korban. Baginya, usia pelaku tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan penderitaan yang telah ditimbulkan.

Sedangkan Cha Tae Ju percaya bahwa seorang anak masih memiliki kesempatan untuk berubah dan tidak seharusnya dihakimi selamanya oleh satu kesalahan.

Dalam kehidupan nyata, perdebatan mengenai kejahatan anak juga sering kali terjebak dalam dua kubu yang berlawanan.

Ada pihak yang menuntut hukuman lebih berat karena menganggap pelaku harus bertanggung jawab. Ada pula yang menekankan pentingnya rehabilitasi karena anak masih memiliki masa depan yang panjang.

Masalahnya, tidak ada jawaban yang sepenuhnya memuaskan. Jika hukuman terlalu ringan, keluarga korban dapat merasa bahwa keadilan tidak pernah benar-benar ditegakkan.

Sebaliknya, jika hukuman terlalu berat, sistem peradilan berisiko mengabaikan fakta bahwa anak masih berada dalam tahap perkembangan dan masih memiliki kemungkinan untuk berubah.

Apakah Juvenile Justice Layak Ditonton?

Meski memiliki banyak kelebihan, Juvenile Justice bukan drama yang sempurna. Ceritanya cukup berat dan hampir tidak memberikan banyak ruang untuk humor.

Beberapa bagian juga terasa terlalu dramatis, terutama ketika hakim digambarkan terlibat langsung dalam proses penyelidikan yang dalam kenyataan bukan sepenuhnya menjadi kewenangan mereka. Menjelang akhir, beberapa konflik dan perkembangan karakter juga terasa sedikit terburu-buru.

Namun, menurut saya, kelemahan tersebut tidak menghilangkan kekuatan utama drama ini. Juvenile Justice tetap berhasil membuat penonton mempertanyakan kembali cara kita memandang kejahatan anak.