Kembali pulang setelah sekian lama merantau, adakalanya dimaknai oleh sebagian orang sebagai tanda kekalahan dalam perjuangan mengadu nasib di tanah rantau. Padahal, ada pula orang-orang yang memutuskan pulang, justru untuk membangun kampung halaman. Sebuah impian dan semangat yang mungkin hanya dimengerti oleh orang-orang tersebut. Hanya mengurus diri sendiri di tanah orang, kemudian mengubah haluan dengan mengurus desa serta orang banyak. Tentu tak mudah, namun bukan berarti tak bisa. Seperti yang dilakukan Nyoman Nadiana ketika memutuskan untuk kembali pulang ke kampung halaman tercinta, Desa Les.
Rasanya kita semua setuju bahwa Bali merupakan salah satu daerah pariwisata di Indonesia yang telah mendunia. Kunjungan wisatawan dari berbagai negara, menjadikan profesi pemandu wisata sebagai salah satu pekerjaan yang cukup populer di sana. Begitu pula dengan Nyoman Nadiana, salah satu dari sekian banyak orang yang mengadu nasib sebagai pemandu wisata di Bali Selatan, seperti Pantai Kuta, Seminyak, Nusa Dua, dan kawasan wisata lainnya.
Menghadapi hiruk-pikuk dunia kerja dan pariwisata setiap harinya di Bali Selatan, terlintas dalam pikiran Nadiana tentang kampung halaman tercinta di Bali Utara—yang menurutnya juga tak kalah memukau dibandingkan kawasan populer yang ia jumpai setiap harinya.
Desa Les, Desa Tua di Bali yang Terus Terjaga Keasrian Alam dan Budayanya
Desa Les, pernahkah teman-teman berkunjung ke sana? Desa ini berada di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Bila berangkat dari Denpasar, perjalanan menuju Desa Les dapat ditempuh sekitar dua jam. Desa Les juga merupakan salah satu desa tua atau Desa Bali Mula di Bali yang sudah memiliki komunitas, bahkan sebelum Majapahit masuk ke Bali.
Berada di Bali Utara, Desa Les dianugerahi dua pesona alam sekaligus, yaitu wilayah pegunungan atau perbukitan dengan air terjun yang menumpah indah, serta pesisir pantai dengan suasana yang masih alami dan lengkap dengan terumbu karangnya. Kuliner lokal, serta masyarakat yang masih mempertahankan kehidupan tradisionalnya, makin melengkapi pesona Desa Les.
Namun sekembali pulang, ternyata Nadiana tidak langsung menggarap kampung halaman sebagai target pariwisata. Justru ia sibuk mengamati kehidupan masyarakat sekitar. Mulai dari petani garam yang setiap harinya bekerja di bawah teriknya Matahari, pengolah gula juruh atau gula merah cair khas Bali, pembuat minyak kelapa, penyuling arak tradisional, pengrajin anyaman bambu, hingga berbagai kesibukan masyarakat desa lainnya di perkebunan.
Observasi tersebut membuat Nadiana berpikir bahwa kegiatan demi kegiatan masyarakat tersebut, justru jauh lebih bernilai sebagai potensi wisata daripada membangun suasana modern ala kehidupan orang kota.
Menjadi “Tangan Kedua” UMKM Masyarakat Desa
Setelah memiliki keinginan membangun pariwisata yang berkonsep alam dan kehidupan masyarakat desa, Nadiana justru memulainya dengan menjadi “tangan kedua” bagi para pelaku UMKM.
Roda usaha memang berputar di Desa Les, namun salah satu kendalanya adalah terbatasnya lingkup pemasaran. Berbekal relasi yang sudah lama terbangun semasa menjadi pemandu wisata, Nadiana pun bergerak dengan sepeda motornya untuk memperkenalkan produk demi produk hasil UMKM; seperti garam palungan, gula juruh, minyak kelapa, serta berbagai produk lokal lainnya.
Tak hanya berkeliling di berbagai daerah di Bali, pemasaran pun juga dilakukan hingga ke Banyuwangi dan Lombok. Namun kendala kembali datang. Jangankan produk hasil UMKM, bahkan Desa Les sendiri pun belum begitu dikenal oleh masyarakat luas.
Tak patah semangat, justru kendala inilah yang membuat Nadiana semakin terpacu untuk membangun pariwisata alam dan budaya di Desa Les.
Tour de Les, Saat Impian Utama Diwujudkan
Tak seperti konsep tur pada umumnya, ketika pemandu wisata membawa wisatawan berkeliling menggunakan mobil atau bus, Tour de Les justru memiliki konsep “blusukan” atau berjalan kaki.
Perjalanan dapat dimulai dari pesisir pantai, menikmati suasana alam sekaligus melihat aktivitas masyarakat di kawasan tersebut. Wisatawan juga kemudian diajak melihat bagaimana garam palungan diproduksi secara tradisional.
Konsep inilah yang pada akhirnya membuat wisatawan tidak hanya melihat proses pembuatan garam, tetapi juga tertarik membeli garam palungan khas Desa Les sebagai oleh-oleh. Tak lupa, mereka juga dapat melihat suasana kehidupan para nelayan.
Puas menikmati hamparan pantai, perjalanan berlanjut dengan berkeliling desa. Wisatawan diajak mengetuk pintu rumah-rumah warga, khususnya mereka yang memproduksi berbagai UMKM lokal.
Mereka dapat melihat bagaimana gula juruh dibuat, penyulingan arak dilakukan secara tradisional, serta berbagai kerajinan yang dibuat oleh masyarakat desa. Walhasil, semakin banyak produk UMKM yang berpeluang dibeli wisatawan.
Kala tengah hari tiba dan perut mulai terasa lapar, wisatawan juga dapat beristirahat sambil menikmati makan siang, serta berbagai kuliner lokal khas desa, seperti Nasi Telang, yaitu nasi berwarna biru dari bunga telang, Jukut Blook yang terbuat dari pucuk labu muda dan singkong dengan bumbu khas masakan Bali, serta berbagai olahan hasil laut.
Hmm... betapa wisata kuliner yang juga dapat menjadi pengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan wisata berikutnya, yaitu menuju daerah perbukitan. Di “lantai atas” Desa Les, wisatawan dapat menikmati sejuknya Air Terjun Yeh Mampeh, yang juga dikenal sebagai Air Terjun Les, dengan air yang menumpah dari ketinggian sekitar 30 meter.
Bagi pecinta wisata budaya seperti saya, ketika sebuah wisata alam juga lengkap dengan pengalaman budaya dan kehidupan masyarakat, tentunya inilah destinasi liburan yang paling saya inginkan.
Perjalanan Baru Desa Les Menjadi Desa Sejahtera Astra
Seiring waktu berjalan, Desa Les semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata di Bali, tanpa harus mengubah apa-apa. Suasana desa tetap seperti adanya—alami, dengan adat dan budaya yang terus terjaga. Masyarakat pun tetap menjalani kesibukan yang sama sebagai petani garam, pengolah gula juruh, penyuling arak tradisional, dan berbagai pekerjaan lainnya.
Satu hal yang membuat Desa Les bersama Tour de Les semakin dikenal wisatawan adalah semangat gotong royong Nadiana bersama warga desa, kala menyambut rombongan wisatawan.
Bayangkan saja, bagaimana rasanya ketika kita sedang bekerja, kemudian datang serombongan orang untuk melihat-lihat, bertanya ini itu, bahkan memotret suasana pekerjaan kita. Namun, di balik kesibukan yang seakan bertambah tersebut, tentu ada nilai ekonomi yang perlahan ikut bertambah.
Keasrian alam, adat dan budaya, serta kehidupan masyarakat Desa Les yang masih alami ini kemudian membuat Astra tertarik menjadikan Desa Les sebagai salah satu Desa Sejahtera Astra (DSA). Hingga pada tahun 2024, Desa Les pun bergabung dalam program Desa Sejahtera Astra.
Garam Palungan Menjadi Bagian Penting Perjalanan Desa Les
Sejak awal kembali pulang hingga menjadi bagian dari DSA, garam palungan memang menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Nadiana membangun Desa Les. Bukan hanya tentang rasanya yang khas, garam palungan juga merupakan warisan pengetahuan leluhur yang nyaris hilang.
Seiring perkembangan zaman, jumlah petani garam palungan kian hari memang terus berkurang. Generasi muda pun mulai enggan meneruskan profesi ini. Karena itulah, Nadiana berusaha agar warisan budaya leluhur ini dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, sehingga generasi muda tetap memiliki alasan untuk mempertahankan profesi tersebut.
Selain penguatan kewirausahaan, juga ada empat pilar utama DSA juga perlahan diwujudkan Nadiana bersama masyarakat desa. Pada bidang pendidikan, anak-anak dan pemuda mendapat pelatihan bahasa Inggris. Tentu ini penting, mengingat Desa Les mulai banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.
Kemudian ada pula pelatihan untuk menjadi pemandu wisata. Seiring waktu berjalan, tentu tidak mungkin jika hanya Nadiana seorang yang menjadi pemandu wisata. Semakin berkembangnya pariwisata desa, tentu membutuhkan semakin banyak masyarakat yang memiliki kemampuan untuk menyambut dan mendampingi wisatawan.
Pada bidang kesehatan, DSA Les juga memperkuat program Posyandu, memberikan edukasi gizi kepada keluarga, serta semakin memfokuskan program kesehatan untuk ibu dan anak. Lalu pada bidang lingkungan hidup, Desa Les melakukan konservasi terumbu karang serta program pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program “Les Grow”. Sampah organik ini, nantinya dapat diolah menjadi kompos yang kembali dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi.
Kemudian pada bidang kewirausahaan, produk-produk UMKM unggulan memperoleh akses pasar yang lebih luas. Bila sebelumnya produk-produk tersebut banyak dipasarkan kepada wisatawan dan pemesan lainnya, kini Astra serta BUMDes Giri Segara turut membantu memperkuat pemasaran. Bahkan, Desa Les telah menjalin kemitraan dengan Pemerintah Provinsi Bali yang membuka peluang penjualan garam palungan, sekitar satu ton setiap bulannya.
Saat ini, sudah lebih dari 800 warga desa yang terlibat dalam berbagai program DSA. Pendapatan masyarakat pun dilaporkan meningkat sekitar 25 persen.
Ketika Desa Les Mendapat Penghargaan Nasional
Perjalanan panjang desa nan indah ini pun semakin indah, kala mendapat pengakuan di tingkat nasional. Desa Les berhasil meraih Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Penghargaan ini tentu menjadi salah satu pencapaian penting bagi Desa Les, setelah bahu membahu mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat, menjaga lingkungan, mempertahankan budaya, sekaligus menggerakkan ekonomi warga.
Di balik sebuah pencapaian, ada petani garam yang tetap bertahan dengan pekerjaannya, pelaku UMKM yang terus menghasilkan produk unggulan, masyarakat desa yang berkenan membuka pintu rumah untuk dikunjungi wisatawan, anak-anak muda yang semangat belajar menjadi pemandu wisata, serta warga yang bersama-sama menjaga desa.
Ada kalanya, takdir hidup membawa kita pada perjalanan yang jauh lebih indah dari yang direncanakan sebelumnya. Seperti perjalanan Nyoman Nadiana dalam membangun Desa Les. Berawal dari keinginan memperkenalkan wisata di kampung halaman sendiri, ketimbang “berdesakan” mencari nafkah di kawasan populer, siapa sangka niat tersebut justru mendapat dukungan dari banyak pihak di luar desa.
Semoga Desa Les semakin dikenal dunia, tanpa harus mengubah pesonanya sebagai desa di Bali Utara yang kaya akan pesona alam dan kearifan lokalnya.
Tag
Artikel Terkait
Kolom
-
Jebakan Narsisme Kebudayaan: Mengapa Delegasi Mahasiswa Harus Berhenti Sekadar Jadi 'Performer'
-
Mengulik Desa Les: Saat Tradisi Gerakkan Ekonomi, Anak Muda Siap Warisi?
-
Gen Z Fasih Bahasa Inggris, tapi Makin Asing dengan Bahasa Ibu, Mengapa?
-
Sudahi Kebiasaan Doomscrolling! Tak Semua Hal di Internet Perlu Diikuti
-
Indonesia Butuh Industri Alat Kesehatan, Bukan Sekadar Pasar Impor
Terkini
-
Dari Kemiren untuk Kemiren: Kiprah Kang Edai Bersama Astra
-
Nyoman Nadiana: Sosok di Balik Kebangkitan Garam Tradisional Bali yang Tembus Pasar Modern
-
Spider-Man: Brand New Day, Petualangan Baru Peter Parker Setelah No Way Home
-
Mingyu, Seungkwan, dan Dino SEVENTEEN Umumkan Tanggal Resmi Wajib Militer
-
Hasil MotoGP Inggris 2026: Kejutan dari Raul Fernandez yang Lama Menghilang