Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika aktivitas di pesisir Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, sudah mulai menggeliat. Jauh dari hiruk-pikuk pesta pantai di Kuta atau Canggu, desa kecil di utara Bali ini menyimpan warisan yang nyaris punah: tradisi pembuatan garam palungan. Di balik denyut nadi pelestarian budaya dan kebangkitan ekonomi desa ini, terdapat satu sosok penggerak utama, yakni Nyoman Nadiana.
Menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sekaligus Local Champion dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA), Nyoman menjadi jembatan yang menghubungkan kearifan lokal leluhur dengan peluang ekonomi modern.
Garam yang Tak Sekadar Dijemur
Bagi warga Desa Les, garam adalah warisan yang telah dihidupi hingga empat generasi. Banyak yang mengira pembuatan garam pantai hanyalah sebatas menjemur air laut. Namun, Nyoman menegaskan bahwa proses di Desa Les jauh lebih rumit dan mengandalkan kolaborasi murni dengan alam.
Prosesnya dimulai dengan menyiramkan air laut ke petak-petak tanah khusus agar kandungan garam dan mineralnya mengendap secara alami. Tanah yang telah jenuh garam ini kemudian dikerik dan dimasukkan ke dalam wadah kerucut bernama tinjung—yang dianyam dari bambu dan dilapisi daun lontar, kerikil, serta pasir sebagai penyaring alami. Tetesan cairan pekat dari saringan inilah yang disebut nyah (biang garam).
Nyah kemudian dijemur di dalam palungan, yakni wadah tradisional dari batang kelapa yang dibelah, hingga mengkristal menjadi garam siap panen.
“Proses produksi sangat mengandalkan cahaya matahari,” ujar Nyoman Nadiana, menggambarkan betapa hasil panen sangat bergantung pada cuaca.
Namun, seiring cuaca yang kian tak menentu, kearifan lokal ini juga harus beradaptasi. Penggunaan palungan kayu kini mulai didampingi oleh penggunaan membran plastik. Peralihan ini merupakan strategi bertahan hidup para petani garam.
"Kenapa membran menarik karena dia lebih praktis ketika cuaca datang tiba-tiba hujan bisa diselamatkan. Kalau di palungan tidak bisa," jelas Nyoman.
Sinergi Nyoman Nadiana dan Peran ASTRA
Selama bertahun-tahun, kendala utama para petani bukanlah pada cara berproduksi, melainkan pemasaran. Garam berkualitas tinggi ini dulunya hanya dijual dalam kemasan sederhana dengan jangkauan pasar yang sempit. Di titik kritis inilah, peran Nyoman dan intervensi PT Astra International Tbk (Astra) terasa sangat nyata.
Melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA) yang masuk pada tahun 2024, Astra membawa empat pilar utama pengembangan: pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan kewirausahaan. Dalam sektor kewirausahaan, Astra berkolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Nyoman sebagai penggeraknya untuk merevolusi wajah garam Desa Les.
Dukungan Astra yang digerakkan bersama warga meliputi:
- Modernisasi Produk: Garam dikemas lebih modern, diberi branding khas Desa Les, dan dikembangkan ke dalam berbagai varian rasa untuk menyasar pasar yang lebih luas.
- Bantuan Infrastruktur dan Alat: Injeksi dana, pengadaan mesin pengering, traktor mini, mesin pengupas kelapa, hingga kendaraan roda tiga untuk mengangkut sampah warga.
- Peluang Pariwisata Terintegrasi: Menjadikan desa sebagai lokasi acara korporat atau gathering perusahaan, yang secara langsung meningkatkan kunjungan wisatawan dan pembeli produk lokal.
Ketenangan yang Membawa Prestasi
Kerja keras kolektif ini berbuah manis. Pada tahun 2024, Desa Les sukses merengkuh predikat Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kementerian Pariwisata. Penghargaan ini memicu lonjakan kunjungan, baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara, yang datang untuk berwisata kuliner dan melihat langsung proses pembuatan garam yang langka ini.
Menariknya, di tengah isu gesekan antara turis asing dan warga lokal di wilayah Bali Selatan, Desa Les tetap mempertahankan harmoni dan ketenangannya.
"Sejauh ini aman ya. Memang tipikal wisatawan Bali Utara dari dulu lebih populer untuk orang-orang yang ingin retreat dari keramaian, mencari ketentraman," kata Nyoman.
Pada akhirnya, dari sebutir kristal garam di pesisir utara Bali, Desa Les membuktikan bahwa modernisasi tidak harus membunuh tradisi. Dengan kegigihan sosok seperti Nyoman Nadiana dan dukungan strategis dari Astra, warisan leluhur itu kini tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berlayar jauh menembus pasar modern, membawa serta kisah tentang ketekunan manusia, teriknya matahari, dan deru ombak utara Bali.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Mengulik Desa Les: Saat Tradisi Gerakkan Ekonomi, Anak Muda Siap Warisi?
-
Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului
-
Kang Edai dan Kemiren: Ketika Budaya Osing Menjadi Jalan Menuju Kesejahteraan Desa
-
Nyoman Nadiana, Les Grow, dan Astra: Modal Lokal VS Pendampingan Tepat
-
Desa Les Buleleng: Saat Tradisi Garam Kuno Berpadu dengan Inovasi Modern
News
-
Desa Les Buleleng: Saat Tradisi Garam Kuno Berpadu dengan Inovasi Modern
-
Merawat Syiar Islam Berkemajuan: Peringatan 666 Tahun Islam Masuk Papua di Fakfak
-
Ancaman El Nino 2026: Luas Area Terindikasi Terbakar Capai Tiga Kali Lipat Daratan Jakarta
-
Pariwisata Maju, Lalu Lintas Mundur: Sisi Gelap di Balik Viralnya Situ Kamojing Cikampek
-
Garam Palungan Desa Les: Menjaga Warisan Leluhur di Bawah Matahari Bali Utara
Terkini
-
Spider-Man: Brand New Day, Petualangan Baru Peter Parker Setelah No Way Home
-
Mingyu, Seungkwan, dan Dino SEVENTEEN Umumkan Tanggal Resmi Wajib Militer
-
Hasil MotoGP Inggris 2026: Kejutan dari Raul Fernandez yang Lama Menghilang
-
Mengulik Desa Les: Saat Tradisi Gerakkan Ekonomi, Anak Muda Siap Warisi?
-
Review Sterling Point: Refleksi Kehidupan dan Romansa Remaja Masa Kini