Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sering digadang-gadang sebagai salah satu upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah.
Tidak bisa dimungkiri, bagi sebagian keluarga, satu kali makan gratis di sekolah bahkan bisa membantu mengurangi pengeluaran harian. Namun, menurut saya, manfaat tersebut tidak lantas membuat semua kritik terhadap MBG menjadi tidak masuk akal.
Saat pulang sekolah, anak mungkin sudah kenyang setelah makan MBG, tetapi apakah satu rumah otomatis ikut kenyang? Tentu saja tidak. Setelah anak pulang, kebutuhan makan kembali muncul dan orang tua tetap harus berbelanja untuk memenuhi perut seluruh anggota keluarga.
Di rumah, kebutuhan makan tidak berhenti setelah anak menyantap menu MBG. Orang tua dan anggota keluarga lain tetap harus makan tiga kali sehari. Di tengah harga bahan pokok yang semakin mahal, kebutuhan sederhana seperti ayam dan telur saja bisa menjadi beban tersendiri bagi sebagian keluarga.
MBG Membantu Anak, tetapi Tidak Mengubah Isi Dompet Keluarga
Menurut saya, di sinilah kita perlu membedakan antara membantu dan menyelesaikan masalah. Bagi keluarga yang sedang kesulitan ekonomi, satu porsi makanan yang katanya "gratis" itu memang sangat berarti. Namun, bantuan tersebut tidak serta-merta mengubah kondisi ekonomi rumah tangga secara keseluruhan.
Keluarga tetap memiliki banyak pengeluaran lain yang tidak ikut hilang karena adanya MBG. Ketika pemasukan tidak banyak berubah, sementara harga kebutuhan terus terasa mahal, ruang untuk bernapas tetap sempit.
Oleh karena itu, saya kurang setuju jika kritik terhadap MBG dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap anak. Mengkritik cara sebuah kebijakan bekerja bukan berarti menolak tujuan baik di balik kebijakan tersebut.
Jangan Ukur Kesejahteraan Keluarga dari Satu Ompreng
Anak yang makan dengan lahap setelah menerima menu MBG seringkali dianggap sebagai tanda bahwa program ini memberikan manfaat. Namun, manfaat tersebut tidak bisa langsung disamakan dengan membaiknya kondisi pangan keluarga.
Kondisi keluarga jauh lebih rumit. Anak yang makan dengan baik di sekolah tetap membutuhkan makanan bergizi di rumah. Orang tua juga perlu makan agar bisa bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Artinya, masalah terkait gizi anak sebenarnya tidak bisa dipisahkan begitu saja dari kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan pangan.
Apalagi, makanan bergizi bukan hanya perkara kenyang. Keluarga juga perlu memikirkan kualitas lauk yang dikonsumsi, termasuk sumber protein maupun sayur dan buah. Ketika bahan-bahan tersebut semakin sulit dijangkau, keluarga berpenghasilan rendah tentu harus memutar otak dan menghemat pengeluaran dengan memilih makanan yang lebih murah.
Oleh karena itu, keberadaan MBG seharusnya berjalan bersama upaya memperbaiki daya beli dan kondisi ekonomi keluarga, bukan seolah-olah menggantikannya.
Jangan Jadikan MBG Jalan Pintas
Kalau ingin benar-benar memperbaiki persoalan gizi, pemerintah perlu melihat apa yang terjadi di luar pagar sekolah. Anak memang menjadi penerima manfaat langsung, tetapi kondisi yang membuat mereka membutuhkan bantuan pangan tidak muncul begitu saja.
Ada keluarga yang pendapatannya terbatas, ada pekerjaan yang tidak stabil, dan ada pengeluaran yang terus bertambah. Semua itu ikut menentukan makanan apa yang akhirnya tersaji di meja makan.
Dalam hal ini, pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana keluarga bisa memiliki kemampuan untuk membeli bahan makanan dengan layak. Sebab, keluarga yang punya penghasilan cukup tentu memiliki pilihan lebih banyak untuk menentukan makanan yang mereka konsumsi, tanpa harus menunggu bantuan datang.
Bantuan memang penting, tetapi bantuan seharusnya menjadi jaring pengaman, bukan satu-satunya cara keluarga bertahan memenuhi kebutuhan dasar.
Baca Juga
-
Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?
-
I Hate Going to Work: Realita Dunia Kantor yang Dikemas dalam Komedi Satir
-
Katanya Lowongan Kerja Banyak, Kenapa Cari Kerja Tetap Susah?
-
Feed yang Membentuk Isi Dompet: Efek Budaya Flexing pada Perilaku Konsumsi
-
Bos-bos Kecil di Negeri Besar: Potret Gagal Negara Membuka Lapangan Kerja
Artikel Terkait
Kolom
-
Dari Warkop DKI hingga Pandji: Menelusuri Komedi Sebagai Alat Perlawanan
-
Salah Kaprah Filosofi Teras: Menggugat Apatisme Gen Z Berkedok Stoikisme
-
Kritik Keras Paradoks Industrialisasi: Bangun Pabrik Bertebaran, tapi Teknologinya Tetap Milik Asing
-
Gonta-Ganti Aplikasi Birokrasi: Gen Z Butuh Efisiensi, Bukan Viral
-
Navigasi Quarter-Life Crisis: Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian
Terkini
-
Rela Lepas Cuan Jutaan Dolar demi Privasi Anak, Keputusan PewDiePie Patut Ditiru Ortu Zaman Now!
-
Mengupas 'Emanon', Manga Sci-Fi Santai yang Bikin Overthinking Soal Makna Kehidupan
-
Anime Welcome to Demon School, Iruma-kun Umumkan Proyek Film Pertama
-
Nasib Tragis The Transporter: Ditinggal Jason Statham, 2 Aktor Penggantinya Gagal Total!
-
Rangkul Kekurangan! KickFlip Ungkap Indahnya Masa Muda di Lagu Puzzle Piece