Lintang Siltya Utami | Desi Nurcahyati
Pelestarian Alam Desa Les (Facebook/Nyoman Nadiana)
Desi Nurcahyati

"Mahasiswa adalah agent of change." Kalimat itu mungkin menjadi salah satu ungkapan yang paling sering didengar selama menjalani di bangku perkuliahan. Semakin lama di pelajari, semakin saya menyadari bahwa menjadi agen perubahan tidak cukup hanya dipahami sebagai teori di ruang kelas semata ataupun slogan di dalam organisasi. Perubahan akan lahir dari keberanian untuk bergerak, mengajak, dan mengabdi. Makna itulah yang ditemukan dari kisah Bli Nyoman, Local Hero Desa Sejahtera Astra (DSA) Desa Les, Kabupaten Buleleng, Bali. 

Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata dan modernisasi dari hulu ke hilir, Desa Les memilih jalan yang berbeda. Desa Les membuktikan bahwa pembangunan tidak harus dengan mengorbankan budaya dan kelestarian alam. Justru melalui Program Desa Sejahtera Astra, masyarakat mampu mengembangkan potensi desa dengan tetap menjaga identitas lokal serta mewujudkan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Di balik banyaknya perubahan tersebut, ada sosok Bli Nyoman yang menjadi penggerak masyarakat. Sebelum mengelola Desa Sejahtera Astra Desa Les, Bli Nyoman pernah bekerja sebagai pemandu wisata di kawasan Bali Selatan. Pengalaman itu memberikannya sudut pandang bahwa sebuah desa memiliki potensi besar apabila masyarakatnya diberi kesempatan untuk berkembang. Berbekal latar belakang sebagai seorang pengajar, Bli Nyoman percaya bahwa pembangunan desa tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya.

Bagi Bli Nyoman, masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama pembangunan. Keyakinan sederhana inilah yang kemudian menjadi fondasi dalam setiap langkah pemberdayaan yang ia lakukan bersama masyarakat. Sejak tahun 2024, Desa Les bergabung dalam Program Desa Sejahtera Astra.

Kehadiran program ini bukan sekadar memberikan pendampingan, tetapi menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan masyarakat, pemerintah, komunitas, dan dunia usaha untuk bersama-sama membangun desa. Bagi Bli Nyoman, Desa Sejahtera Astra menjadi penguat yang membuat berbagai gagasan pemberdayaan tidak berhenti sebagai harapan, tetapi berubah menjadi aksi nyata yang ikut dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Melalui empat pilar utama Desa Sejahtera Astra, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan, perubahan di Desa Les tumbuh secara menyeluruh. Pada bidang kesehatan, masyarakat bersama kader kesehatan aktif mendukung kesehatan ibu dan anak melalui kegiatan Posyandu, edukasi kehamilan, sampai dengan pemberian makanan tambahan bagi anak stunting dan gizi kurang baik. Program ini menunjukkan bahwa kesejahteraan desa dimulai dari masyarakat yang sehat juga memperoleh akses edukasi kesehatan yang baik.

Pada bidang pendidikan, generasi muda Desa Les dipersiapkan menjadi penerus pembangunan desa. Melalui kelas bahasa Inggris dan pengembangan kapasitas pariwisata, mereka dibekali kemampuan menjadi local guide bagi wisatawan mancanegara. Langkah ini tidak hanya meningkatkan keterampilan pemuda, tetapi juga memperkenalkan budaya, kearifan lokal, dan potensi Desa Les kepada dunia.

Komitmen terhadap keberlanjutan terlihat pada bidang lingkungan. Bersama masyarakat, Desa Sejahtera Astra Desa Les aktif melakukan konservasi dan transplantasi terumbu karang, pengelolaan sampah berbasis warga, hingga produksi pupuk kompos untuk menjaga ekosistem pesisir. Melalui program Les Grow, masyarakat juga diedukasi untuk mengelola dan memilah sampah sejak dari rumah. Kesadaran tersebut menjadi bukti nyata bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan budaya yang harus tumbuh di tengah masyarakat.

Sementara itu, pada bidang kewirausahaan, masyarakat didorong mengembangkan potensi lokal agar memiliki nilai (value) ekonomi yang lebih tinggi. Produk-produk khas desa mulai dikemas dan dipasarkan dengan cara yang lebih baik sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Kehadiran ruang kolaborasi dan pendampingan dari Desa Sejahtera Astra membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga. Potensi desa yang sebelumnya hanya dikenal secara lokal, kini perlahan menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat Desa Les.

Bagi Bli Nyoman, seluruh program tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk membangun manusia. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan, kesehatan yang baik, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan mengembangkan usaha, maka desa akan tumbuh secara lebih mandiri. Karena itulah ia terus mendorong sinergi antara masyarakat, komunitas, pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta agar pembangunan desa berjalan secara berkelanjutan.

Perjalanan itu tentu tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah banyaknya generasi muda yang memilih bekerja di kota. Padahal, desa membutuhkan anak-anak mudanya untuk melanjutkan estafet pembangunan berkelanjutan. Menurut Bli Nyoman, tantangan tersebut hanya dapat dijawab melalui kolaborasi dan pemberdayaan yang berkesinambungan, sehingga masyarakat memiliki alasan untuk tetap tumbuh dan berkarya di desa mereka sendiri.

Sebagai mahasiswa, dapat dilihat bahwa kisah Bli Nyoman merupakan cerminan nyata dari makna agent of change. Perubahan tidak selalu lahir dari proyek besar atau jabatan penting, melainkan dari kepedulian terhadap masyarakat dan keberanian untuk memulai. Hal tersebut juga sejalan dengan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat. Ilmu pengetahuan akan mempunyai arti ketika mampu menjawab persoalan nyata (problem solving), sementara kepemimpinan menemukan maknanya pada saat digunakan untuk memberdayakan sesama.

Desa Sejahtera Astra bukanlah sekadar program pemberdayaan desa. Program ini mampu menjadi ruang lahirnya para Local Hero yang mampu menggerakkan masyarakat untuk terus belajar, menjaga kesehatan, melestarikan lingkungan, serta mengembangkan potensi ekonomi desa. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya membangun infrastruktur atau meningkatkan pendapatan, tetapi juga membentuk karakter masyarakat agar percaya pada kemampuan yang mereka miliki.

Dari Desa Les, saya belajar bahwa menjadi mahasiswa tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Sebagai bagian dari generasi penerus bangsa, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat, mendengar kebutuhan masyarakat, dan menghadirkan solusi melalui ilmu yang dimiliki.

Kisah Bli Nyoman dan Desa Sejahtera Astra menjadi pengingat bahwa perubahan terbesar sering kali dimulai dari kepedulian terhadap kampung halaman. Ketika seorang Local Hero dipertemukan dengan program yang tepat, harapan tidak lagi berhenti sebagai mimpi, melainkan tumbuh menjadi gerakan bersama yang membawa desa menuju masa depan yang lebih mandiri, lestari, dan sejahtera.

Sumber: Hasil wawancara bersama Bli Nyoman, Pengelola Desa Sejahtera Astra Desa Les (5 Agustus 2026, via WhatsApp Call), serta publikasi resmi Astra mengenai Desa Sejahtera Astra Desa Les.