Tragedi kemanusiaan kembali mencoreng bumi Cenderawasih. Penyanderaan sembilan warga sipil di Distrik Jila, Mimika, yang merenggut nyawa seorang perempuan, bukan sekadar kabar duka dalam barisan berita konflik. Ini adalah alarm keras yang memekakkan telinga kita semua. Ketika kekerasan politik-militer menyeret kaum perempuan ke dalam jurang maut, ada sesuatu yang sangat mendasar yang telah runtuh—bukan hanya hukum negara, melainkan fondasi tatanan adat warisan leluhur Papua.
Selama ini, narasi seputar konflik Papua kerap terjebak dalam dikotomi kaku: penegakan hukum versus perjuangan politik, atau aparat versus kelompok bersenjata. Namun, pernahkah kita melihat peristiwa ini dari kacamata nilai-nilai asli tanah Papua sendiri?
Perempuan dan Noken: Simbol Kehidupan yang Ternoda
Dalam kebudayaan masyarakat Pegunungan Tengah Papua, perempuan—terutama mama-mama—menempati posisi yang sangat sakral. Mereka adalah pilar kehidupan, penjaga keberlanjutan garis keturunan, sekaligus simbol kedamaian. Hubungan erat antara perempuan Papua dan noken—tas anyaman tradisional yang diakui dunia—bukan sebatas benda budaya, melainkan metafora rahim kehidupan yang mengayomi, memberi makan, dan melindungi.
Secara kultural, menyakiti perempuan dalam konflik perang atau perselisihan adat adalah tabu terbesar. Bahkan dalam tradisi perang suku masa lalu, perempuan dan anak-anak memiliki kekebalan alami. Mereka tidak boleh disentuh, dilukai, apalagi dibunuh.
Maka, ketika kelompok bersenjata seperti KKB/OPM menjadikan perempuan sipil sebagai sasaran penyanderaan dan pembunuhan, aksi tersebut bukan sekadar tindak kejahatan pidana biasa. Aksi keji itu adalah bentuk pengkhianatan paling nyata terhadap tatanan adat dan nilai kesakralan noken yang selama ini dihormati.
Melampaui Garis Merah Adat
Mengapa fenomena ini sangat memprihatinkan? Sebab, ketika pertikaian mengabaikan hukum adatnya sendiri, kekerasan tersebut telah kehilangan pijakan moral. Klaim memperjuangkan harkat dan martabat masyarakat Papua menjadi paradoks yang menyedihkan ketika warga sipil—terutama perempuan asli Papua—justru menjadi korban dari moncong senjata.
Melukai mama Papua berarti merusak tatanan customary law yang selama ini menjadi benteng pertahanan moral masyarakat. Ini membuktikan bahwa eskalasi konflik di lapangan telah merusak tatanan nilai lokal demi legitimasi kekuasaan atau teror semata. Jika norma adat paling mendasar saja dilanggar, lantas martabat siapa yang sebenarnya sedang diperjuangkan?
Menegakkan "Zona Merah Hukum Adat"
Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan narasi konflik ini berjalan tanpa arah. Penyelesaian konflik Papua tidak cukup hanya dengan pendekatan keamanan atau pembangunan fisik, melainkan harus melibatkan pemulihan tatanan budaya.
Sudah saatnya Dewan Adat Papua (DAP), para pimpinan gereja lokal, dan tokoh masyarakat mengambil posisi sentral dan bersuara tegas. Lembaga adat dan gereja harus bersama-sama menetapkan serta mendeklarasikan "Zona Merah Hukum Adat"—sebuah batas tegas yang melarang keras segala bentuk keterlibatan, penyerangan, dan kekerasan terhadap perempuan serta anak-anak dalam konflik politik-militer. Siapa pun yang melanggarnya harus mendapatkan sanksi sosial dan moral adat yang berat, di luar proses hukum pidana oleh negara.
Pada akhirnya, kedamaian di Papua tidak akan pernah terwujud jika simbol-simbol kehidupan tertingginya terus dilukai. Ketika mama-mama Papua tak lagi merasa aman di tanah kelahirannya sendiri, masihkah kita bisa menyebut tindakan itu atas nama perjuangan dan kemanusiaan?
Baca Juga
-
Kebakaran Gambut Jambi dan Perang Data: Citra Satelit vs Angka Resmi
-
Polemik Memburu Muhammad: Jangan-Jangan yang Kita 'Buru' Bukan Bukunya, Tapi Asumsi Sendiri?
-
Gerak Cepat Sarawak di Perbatasan: Ancaman atau Peluang Emas untuk Pembangunan IKN?
-
Bongkar Sel Mewah Tanpa Audit Forensik, Perobohan di Lapas Cibinong Blunder Hukum atau Kesengajaan?
-
Saatnya Algoritma Media Sosial Turut Bertanggung Jawab Mitigasi Bencana
Artikel Terkait
-
Bukan Operasi Militer Penuh, Menko Dudung Pilih Pendekatan Kultural di Papua
-
MPSI Dorong Pembentukan Badan Khusus Tangani Pengungsi Internal Papua
-
Menolak Tudingan HAM di PBB Saja Tidak Cukup: Butuh 'Diplomasi Terbuka'
-
Kemendagri Apresiasi Pemda Papua di Empat Sektor Pelayanan Dasar
-
Kontak Senjata di Intan Jaya, 4 Anggota OPM Tewas, 2 Jatuh ke Jurang
Kolom
-
Mitos Ikan Pembersih: Sapu-Sapu Monster Invasif Penghancur Ekosistem
-
Menakar Karisma Politik: Masuknya Rocky ke Istana Kuak Rapuhnya Warga Sipil
-
Paradoks Efisiensi: Menghemat Anggaran, Memperbesar Beban Sosial
-
Urusan Energi Hijau dan Panasnya Bumi yang Bikin Cemas
-
AI Membuat Kita Bingung Membedakan Realitas dan Kepalsuan Digital
Terkini
-
Lupakan Masa Lalu! XngHan&Xoul Semangat Gapai Masa Depan di Lagu High Beam
-
Kisah Ibu Misidah dan Perlawanan Sunyi Petani Karisma di Kulon Progo
-
Bye Dehidrasi! 4 Hydrating Pad Berikan Efek Wajah Auto Lembap dan Sehat
-
5 Eyeshadow Nude di Bawah 50 Ribu, Cocok Buat Daily Makeup Fresh & Natural!
-
Sinopsis Ebenezer, Kembalinya Johnny Depp Lewat Film Horor Gotik