Fenomena beauty fatigue membuat perempuan mulai lelah mengikuti tren kecantikan yang terus berubah seolah tidak pernah ada habisnya. Benarkah tampil cantik harus selalu mengikuti standar dan rutinitas terbaru?
Apa kamu pernah merasa baru memahami satu tren kecantikan, tiba-tiba sudah muncul tren baru? Hari ini kulit harus terlihat glass skin. Besok muncul tren makeup tertentu lainnya.
Belum selesai mencoba satu rutinitas, media sosial sudah menawarkan produk, teknik, dan standar kecantikan berikutnya. Pada titik tertentu, semua itu bukan lagi terasa menyenangkan, tapi malah melelahkan.
Perempuan mulai merasa jenuh dan lelah pada banyaknya tren, rutinitas, informasi, produk, serta tekanan untuk terus memperbaiki penampilan. Kita akhirnya merasa lebih baik kembali pada rutinitas kecantikan yang sederhana.
Menurut saya, beauty fatigue bukan berarti perempuan berhenti menyukai kecantikan. Justru, ini bisa menjadi tanda bahwa semakin banyak perempuan mulai bertanya: sebenarnya untuk siapa kita melakukan semua ini?
Ketika Cantik Terasa Seperti Pekerjaan Tambahan
Merawat diri tentu bukan sesuatu yang salah. Makeup, skincare, menata rambut, atau memilih pakaian bisa menjadi bentuk ekspresi diri. Masalah muncul ketika semuanya terasa seperti kewajiban.
Seolah perempuan harus selalu terlihat segar, rapi, memiliki kulit yang sempurna, mengikuti tren terbaru, dan tampil menarik dalam berbagai situasi. Media sosial juga membuat tekanan tersebut semakin mudah muncul.
Padahal, paparan terhadap standar kecantikan digital justru berpotensi mendorong perbandingan penampilan dan membuat seseorang semakin “sadar” terhadap kekurangan yang dirasakannya.
Akhirnya, rutinitas kecantikan yang seharusnya membuat perempuan merasa nyaman justru berubah menjadi daftar pekerjaan tambahan yang tidak pernah selesai.
Tren Kecantikan Selalu Punya “Standar Baru”
Salah satu hal yang membuat beauty fatigue menarik adalah sifat tren yang terus bergerak. Ketika satu standar mulai terasa normal, muncul standar berikutnya. Energi FOMO pun membuat perempuan merasa harus terus mengikutinya.
Wajah harus terlihat sama seperti tren terbaru. Kulit harus memiliki tekstur tertentu. Makeup juga harus mengikuti gaya yang sedang hype. Bahkan tatanan rambut harus terlihat seperti baru keluar dari salon.
Masalahnya, standar tersebut sering kali tidak realistis jika dijadikan ukuran kehidupan sehari-hari. Apalagi, konten di media sosial merupakan hasil kurasi pasca efek filter, pencahayaan, sudut pengambilan gambar, dan penyuntingan.
Karena itu, membandingkan diri dengan gambar yang sangat terkurasi sempurna memang tidak pernah benar-benar adil. Bisa jadi wajah asli di balik kamera tidak sesempurna yang ditampilkan di media sosial.
Beauty Fatigue Bukan Berarti Berhenti Merawat Diri
Bagian terpenting dari fenomena ini adalah membedakan antara merawat diri dan mengejar kesempurnaan. Perempuan tetap boleh menggunakan makeup karena menyukainya, mencoba tren baru, dan menikmati skincare atau pergi ke salon.
Yang perlu dipertanyakan adalah ketika aktivitas tersebut dilakukan karena merasa tidak cukup baik tanpa mengikutinya. Sebab, merawat diri seharusnya memberikan rasa nyaman, bukan membuat kita terus merasa memiliki sesuatu yang harus diperbaiki.
Saat Rutinitas Sederhana Justru Terasa Membebaskan
Tidak mengherankan jika kemudian muncul kecenderungan kembali pada rutinitas kecantikan yang lebih sederhana. Bukan karena tren baru buruk, melainkan karena terlalu banyak pilihan juga bisa membuat konsumen lelah.
Ada sesuatu yang melegakan dari mengetahui apa yang memang kita perlukan dan tidak merasa harus mencoba semuanya. Di tengah tren yang silih berganti, rutinitas sederhana justru terasa membebaskan.
Sebab tren beauty fatigue juga sebuah ironi. Ketika industri kecantikan menawarkan semakin banyak produk maupun cara untuk terlihat cantik, sebagian perempuan justru mulai menginginkan lebih sedikit tekanan.
Tidak Harus Mengikuti Semua Tren
Menurut saya, perempuan perlu memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri seperti apa hubungan mereka dengan kecantikan. Tidak harus mengikuti semua tren. Tidak harus mencoba setiap produk yang viral. Tidak harus memiliki rutinitas panjang.
Dan yang paling penting, perempuan tidak harus merasa gagal ketika penampilannya tidak sesuai dengan standar yang sedang populer. Kecantikan bukan perlombaan. Jika standar terus berubah, mengejarnya tanpa henti hanya akan membuat kelelahan.
Pada akhirnya, beauty fatigue mungkin bukan tanda kalau perempuan sudah tidak peduli pada penampilan. Sebaliknya, fenomena ini bisa menjadi bentuk kesadaran bahwa kecantikan seharusnya menjadi pilihan, bukan kewajiban.
Di tengah algoritma yang terus mengatakan ada sesuatu yang selalu perlu diperbaiki, mungkin keputusan paling sederhana justru adalah berhenti sejenak dan berkata: “Aku tidak harus mengikuti semuanya.”
Sebab, tampil cantik boleh saja menjadi bagian dari hidup. Hanya saja, merasa cukup dengan diri sendiri juga seharusnya memiliki ruang yang sama besarnya agar kita tetap merasa nyaman, bukan kelelahan.
Baca Juga
-
Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?
-
Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z
-
Sisi Gelap Solo Traveling yang Gak Ada di Algoritma Instagram, Perempuan Wajib Tahu!
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Bukan Anti-Bahasa Baku, Gen Z Hanya Belum Temukan Cara Belajar yang Relevan
Artikel Terkait
Kolom
-
Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?
-
Pajak Bukan Uang Cuma-cuma: Rakyat Berhak Menuntut Pertanggungjawaban
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
Terkini
-
Ulasan Novel Loversation: Belajar Menerima Diri dan Berdamai dengan Masa Lalu
-
Paradoks Bingar: Dunia Remaja, Bisbol, dan Pertandingan Melawan Ketakutan
-
Tayang 26 November, Iron Girls 3 Kembali dengan Tantangan Olahraga Baru
-
The Midnight Library: Belajar Berhenti Berandai dan Menerima Realita Hidup
-
Ulasan Novel Pulau Pendidaktis: Selukis Pendidikan Indonesia