Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Lari dengan Strava (Official Strava Image)
Fairus Farizki

Dulu orang berlari karena ingin tubuhnya menjadi sehat. Sekarang urusannya jauh lebih rumit. Setelah berlari, seseorang perlu memastikan jaraknya tercatat, pace-nya bagus, rutenya terlihat menarik, tempatnya sangat instagramable, lalu hasilnya layak untuk diunggah. Lima kilometer rupanya belum cukup kalau belum diketahui orang lain. Keringat memang tidak pernah meminta validasi  orang lain. Manusianya saja yang tampaknya terlalu rajin memberi.

Fenomena ini muncul bersamaan dengan semakin ramainya budaya lari di Indonesia. Strava dalam laporan Year in Sport 2024 mencatat partisipasi klub lari di Indonesia meningkat 83 persen. Pada April 2025, Strava juga menyebut jumlah pengguna Indonesia yang mengunggah aktivitas ke platformnya meningkat sepuluh kali lipat dalam lima tahun. Jumlah pengguna Gen Z bahkan hampir tiga kali lipat dari tahun ke tahun. Lari sedang tumbuh. Ekosistem digital yang mengiringinya ikut tumbuh.

Garmin memperlihatkan gambaran yang sama. Garmin Connect dalam press release-nya mencatat 5.560.506 aktivitas lari dari pengguna Indonesia sepanjang 2024. Angkanya meningkat menjadi 10.622.601 aktivitas pada 2025. Data tersebut tentu tidak berarti jumlah pelari Indonesia mendadak berlipat dua, sebab satu orang dapat mencatat aktivitas berkali-kali. Setidaknya, angka itu menunjukkan bahwa aktivitas lari semakin ramai masuk ke ruang digital.

Strava lalu menyediakan istilah untuk mengukur semuanya. Ada jarak, waktu, pace, elevasi, segments, personal best, sampai Kudos. Lari yang semula merupakan pengalaman tubuh berubah menjadi kumpulan angka. Angka itu dapat dibandingkan, dapat dibagikan, dapat memperoleh apresiasi. Tubuh berlari beberapa kilometer, aplikasi kemudian mengurus bagian sosialnya.

Penelitian Rob Franken, Hidde Bekhuis, dan Jochem Tolsma berjudul “Kudos make you run! How runners influence each other on the online social network Strava” yang diterbitkan dalam Social Networks pada 2023 menganalisis 329 pelari dalam lima klub virtual Strava. Hasilnya menunjukkan bahwa pelari yang menerima lebih banyak Kudos cenderung meningkatkan frekuensi dan volume larinya. Artinya, apresiasi sosial memang dapat memengaruhi perilaku berlari.

Di titik ini Strava menjadi menarik. Ia bukan sekadar aplikasi pencatat olahraga. Ia menjadi ruang tempat seseorang menunjukkan dirinya sebagai pelari. Penelitian tentang pelari klub perguruan tinggi yang dilakukan Hayley C. Russell juga menemukan tiga tema penting dalam penggunaan Strava: self-presentation, social pressure, dan motivation. Dengan kata lain, orang tidak hanya berlari. Orang juga belajar bagaimana dirinya terlihat ketika sedang berlari.

Maka lahirlah persoalan kecil yang sebenarnya agak lucu. Kalau sebuah aktivitas tidak diunggah, apakah aktivitas itu benar-benar terjadi? Pertanyaan semacam ini terdengar konyol sampai seseorang mulai merasa kurang percaya diri karena pace temannya lebih cepat. Lima kilometer yang kemarin terasa hebat mendadak terasa memalukan setelah melihat orang lain berlari sepuluh kilometer. Tubuh sehat, harga diri babak belur.

Penelitian di Indonesia berjudul “Technostress in Motion: How Social Features in Running Apps Trigger Anxiety through Social Comparison” juga menunjukkan hubungan antara intensitas penggunaan fitur sosial aplikasi lari dengan kecemasan terkait performa pada pelari rekreasional Indonesia. Peneliti melibatkan 58 pelari. Sampelnya memang kecil. Temuannya tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh pelari Indonesia. Namun, ia memberi petunjuk bahwa fitur sosial olahraga tidak selalu menghasilkan motivasi. Perbandingan sosial juga dapat menghasilkan tekanan.

Di sinilah istilah “komodifikasi keringat” menjadi menarik sebagai metafora. Keringat tentu bukan komoditas dalam pengertian ekonomi klasik. Yang terjadi adalah pengalaman tubuh diterjemahkan menjadi data, data menjadi performa, performa menjadi bahan perbandingan, perbandingan menghasilkan pengakuan. Keringat akhirnya memiliki nilai sosial yang sebelumnya tidak diperlukan.

Haruki Murakami menawarkan cara pandang yang jauh lebih sederhana. Dalam bukunya berjudul “What I Talk About When I Talk About Running”, lari ditempatkan sebagai pengalaman yang berkaitan dengan disiplin, ketekunan, tubuh, dan kehidupan personal. Lari tidak harus menjadi perlombaan melawan manusia lain. Ada hubungan antara seseorang dengan tubuhnya sendiri, antara ritme dan konsistensi.

Barangkali persoalannya memang bukan Strava. Aplikasi hanya menyediakan alat. Manusialah yang kemudian menjadikannya panggung. Lari untuk kesehatan berubah menjadi lari untuk konten. Lari untuk kebugaran berubah menjadi perlombaan angka. Lari untuk menjaga kewarasan malah berakhir sibuk menghitung berapa orang yang memberikan Kudos.

Tidak ada yang salah dengan mengunggah hasil lari. Tidak ada pula yang salah dengan mengejar personal best. Yang perlu dicurigai adalah saat angka mulai menentukan harga diri. Saat pace lambat terasa sebagai kegagalan moral. Saat lima kilometer tanpa unggahan terasa kurang sah. Pada titik itu, yang sedang berlari mungkin bukan lagi tubuh. Tetapi Ego juga ikut terlibat.