Saya pernah punya hubungan yang cukup buruk dengan micro-drama China. Waktu mengerjakan skripsi dan kepala sudah terasa seperti cucian yang diperas berkali-kali, saya menemukan hiburan paling murah dan aksesibel di muka bumi, yakni drama China berdurasi sepersekian menit. Tidak perlu beli tiket konser. Tidak perlu keluar kamar. Cukup membuka ponsel, menonton iklan sebentar, lalu melihat seorang CEO menyamar sebagai rakyat jelata.
Masalahnya, cerita itu tidak pernah selesai. Baru saja si CEO menemukan istrinya, muncul musuh. Musuh selesai, muncul keluarga kaya. Keluarga kaya selesai, muncul batu giok yang ternyata bisa membuatnya kaya raya. Episode selesai, lalu muncul tulisan: “Lanjutkan episode berikutnya.” Ya sudah. Saya lanjutkan. Tiga menit lagi. Tiga menit terus. Tiga menit selamanya. Tahu-tahu satu jam lenyap. Skripsi tetap terbuka. Si CEO sudah punya perusahaan dan menikmati kebahagiaan.
Awalnya saya menganggap hal itu sekadar hiburan receh. Belakangan saya sadar, ternyata saya tidak sendirian.
Sensor Tower dalam Laporan State of Short Drama Apps 2026 mencatat aplikasi short drama mencatat lebih dari 850 juta unduhan global pada kuartal I 2026. Pendapatannya dari pembelian dalam aplikasi mencapai sekitar US$750 juta.
Asia Tenggara menjadi kawasan dengan pertumbuhan paling pesat, menyumbang 32 persen unduhan global pada periode tersebut. Waktu penggunaan hariannya bahkan mendekati 40 menit per pengguna di kawasan ini.
Angka itu membuat saya sedikit kesal dan payah. Ternyata masalah saya bukan masalah pribadi saja.
DramaWave, FreeReels, Melolo, DramaBox, ReelShort dan kawan-kawannya sedang bermain di ruang perhatian yang sama.
Sensor Tower mencatat short drama sudah berubah dari niche-entertainment menjadi kategori aplikasi global. Formatnya memang dirancang untuk konsumsi dengan skala yang cepat, cerita berseri, konflik emosional, pembalikan status, lalu cliffhanger yang membuat kita penasaran.
Di sinilah persoalannya mulai menarik. Kita sebelumnya sudah berkawan akrab dengan TikTok, Reels, dan Shorts. Kita sudah terbiasa untuk menikmati hiburan dalam potongan pendek.
Micro-drama datang membawa model scrolling yang memiliki cerita. Kita tidak lagi sekadar mencari the next video. Kita ingin tahu apakah CEO gadungan itu akhirnya membalas dendam kepada keluarga yang pernah merendahkannya.
Fenomena ini beririsan dengan istilah brain rot. Oxford University Press menambahkan istilah tersebut ke Oxford English Dictionary pada 26 Juni 2025.
Oxford mendefinisikannya sebagai persepsi tentang hilangnya kecerdasan atau kemampuan berpikir kritis akibat konsumsi berlebihan terhadap konten yang tidak challenging dan tidak bermutu. Istilah itu sebelumnya dipilih sebagai Oxford Word of the Year 2024 setelah penggunaannya melonjak tajam.
Tentu saja, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa otak kita benar-benar membusuk. Penelitian Tingting Yan dkk dalam “Frontiers in Human Neuroscience” pada 2024 memang menemukan hubungan negatif antara kecenderungan penggunaan short video secara adiktif dengan kontrol diri serta indikator executive control dalam fungsi perhatian. Penelitian itu melibatkan 48 partisipan dengan rata-rata usia 21,8 tahun.
Penelitian tersebut tidak meneliti micro-drama China secara khusus. Artinya, kita belum bisa mengatakan micro-drama menyebabkan otak rusak. Yang bisa kita katakan adalah bahwa kita sedang hidup dalam ekosistem hiburan yang semakin mahir merebut attention awareness kita melalui konten singkat dan berulang.
Saya merasakannya sendiri. Setelah terlalu lama mengkonsumsi micro-drama, membaca buku terasa lebih berat. Mendengarkan podcast yang membutuhkan konsentrasi terasa melelahkan. Membuka tulisan panjang kadang terasa seperti mendapat tugas tambahan. Padahal masalahnya mungkin bukan buku itu membosankan. Bisa jadi saya saja yang terlalu lama memanjakan kepala saya untuk meminta reward setiap beberapa menit.
Lalu ada efek yang lebih lucu. Kosakata dari tontonan ikut masuk ke percakapan sehari-hari. CEO menyamar, pewaris keluarga kaya, balas dendam, reinkarnasi, hingga tokoh utama yang tiba-tiba punya kekuatan super. Kita tertawa karena absurd, lalu mengulanginya dalam percakapan sehari-hari. Konten akhirnya tidak hanya mengisi waktu luang. Ia ikut mengisi bahasa dan imajinasi kita.
Micro-drama China mungkin bukan musuh. Cerita receh juga bukan dosa. Saya pun masih sesekali menonton. Persoalannya muncul ketika hiburan beberapa menit mulai terasa lebih mudah daripada aktivitas yang membutuhkan kesabaran.
Dulu saya membuka TikTok karena tidak tahu mau menonton apa. Sekarang saya membuka micro-drama karena ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya. Bedanya cuma beberapa menit. Dampaknya pada waktu kita bisa jauh lebih panjang.
Baca Juga
-
Kartun Edukatif atau Etalase Politik? Membongkar Agenda Terselubung di Film Melangkah dari Timur
-
Jelang PCS 2026: UU Konservasi Diuji di MK dan RUU Masyarakat Adat Disorot
-
Kenapa Warga Pati Rela ke Jakarta demi RUU Perampasan Aset? Ini Alasannya
-
Desil Bansos Bukan Takdir, Begini Cara Mengoreksi Datanya
-
Dari De Britto, Urban Social Forum 12 Bayangkan Kota Ramah dan Manusiawi
Artikel Terkait
-
"When Ya?" Bukan Cuma Komentar Iseng, tapi Jeritan Hati Gen Z?
-
Wajib Nonton! Alasan Remnants of Gold Jadi Drama China Paling Dicari Bulan Ini
-
Tren Ganti Provider Makin Ramai, XL Ikut Jadi Sorotan Warganet!
-
Gen Z Jepang Malas Menikah, Alasan Pertama soal Duit
-
Fenomena Downshifting: Saat Gen Z Mulai Memilih Hidup yang Lebih Sederhana
Kolom
-
Beban Tak Terlihat Sandwich Generation: Menanggung Dua Generasi Sekaligus
-
Kartun Edukatif atau Etalase Politik? Membongkar Agenda Terselubung di Film Melangkah dari Timur
-
"When Ya?" Bukan Cuma Komentar Iseng, tapi Jeritan Hati Gen Z?
-
Ketika Media Sosial Memaksa Kita Belanja: Saatnya Kembali Mencintai Pakaian Lama
-
Babak Baru Era 5G, XL Menyalip Jadi Operator Paling Ngebut
Terkini
-
Berhenti Cari Aman: 9 Potongan Rambut Wajah Oval yang Bikin Penampilanmu Berubah Total
-
Tak Cuma Dicukur, ini 4 Cara Menghilangkan Bulu Ketiak yang Wajib Dicoba
-
Tires Season 3: Kembali Menyajikan Humor Segar dan Cerita Kocak yang Lucu!
-
Wajib Nonton! Alasan Remnants of Gold Jadi Drama China Paling Dicari Bulan Ini
-
Kesendirian dan Seni Menjadi Pahlawan dalam Film Spider-Man: Brand New Day