Sekar Anindyah Lamase | Dimas Rahmat Naufal Wardhana
Ilustrasi Kebijakan (Pexels/Markus Winkler)
Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Saat ini melihat banyak regulasi berasal dari kebijakan yang keputusannya terburu-buru, yang menyebabkan pelaksanaannya tidak sesuai dan mengandung elemen kepentingan, seperti kehendak politik yang tiba-tiba berubah.

Kemudian kita membayangkan bahwa sebuah keputusan yang dibuat di ruang rapat pemerintah dapat ikut menentukan isi dompet masyarakat? Ketika seseorang mengisi bensin sepeda motor, membayar uang kuliah, membeli beras, atau sekadar menghitung uang belanja sebelum pergi ke pasar, di balik setiap angka tersebut terdapat kebijakan publik yang bekerja.

Kebijakan publik sering kali terdengar seperti istilah yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, dampaknya justru paling mudah ditemukan di tempat yang paling dekat dengan masyarakat. Perubahan subsidi energi dapat memengaruhi harga bensin.

Terdapat gagasan ahli Hogwood dan Gunn untuk mencapai "Implementasi Sempurna", implementasi yang tidak sesuai dapat disebabkan oleh kondisi lapangan yang tidak pasti, kekurangan informasi, atau penolakan terselubung dari pejabat di tingkat bawah, seperti pejabat di tingkat jalan.

Menurut ahli Merilee S. Grindle, elemen kepentingan kebijakan merupakan implementasi kebijakan merupakan bagian dari proses politik yang lebih lanjut, yang melibatkan perebutan sumber daya dan kepentingan dan bukanlah akhir dari pembuatan kebijakan.

Satu kebijakan pajak dan distribusi pangan dapat memengaruhi harga pasar. Sementara itu, kebijakan pendidikan dapat menentukan seberapa besar biaya kuliah yang harus dipersiapkan sebuah keluarga.

Di sinilah persoalannya. Sebuah kebijakan mungkin terlihat baik dalam angka makroekonomi, tetapi masyarakat tidak selalu merasakan dampaknya dengan cara yang sama.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen. Secara bulanan, inflasi mencapai 0,21 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun berada pada angka 1,86 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga masih menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat.

Masyarakat sering menyalahkan pedagang ketika harga kebutuhan pokok naik. Tetapi pembentukan harga pasar adalah proses yang sulit. Biaya dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk distribusi, produksi, energi, pajak, iklim, dan kebijakan pemerintah.

Menurut BPS, indeks harga perdagangan besar nasional diproyeksikan meningkat 6,18% setiap tahun hingga Agustus 2026. Beberapa komoditas yang akan meningkat termasuk elpiji nonsubsidi, solar industri, beras biasa, minyak pelumas, dan laptop.

Dengan kata lain, pelanggan dapat merasakan konsekuensi peningkatan biaya di tingkat produsen dan distribusi. Pedagang mungkin menaikkan harga karena biaya yang harus mereka keluarkan berubah dan ingin mendapatkan keuntungan lebih besar.

Di titik ini, kebijakan publik sangat penting. Pajak, subsidi energi, transportasi, impor, dan distribusi pangan dapat memengaruhi harga pasar.

Misalnya, biaya bensin tidak terbatas pada kendaraan. Biaya transportasi dapat berubah sesuai dengan biaya energi, dan biaya distribusi barang mungkin meningkat sesuai dengan biaya transportasi. Pada akhirnya, harga sayur-sayuran, makanan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya mungkin naik.

Kebijakan juga memengaruhi pendidikan. Biaya kuliah bukan sekadar masalah kecil bagi keluarga kelas menengah dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Biaya dapat memengaruhi pilihan seorang anak untuk langsung bekerja atau melanjutkan pendidikan tinggi. Akibatnya, kebijakan tentang uang kuliah tunggal, bantuan pendidikan, beasiswa, dan pembiayaan perguruan tinggi memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan.

Perubahan kebijakan ini mungkin memberi orang kesempatan untuk kuliah, tetapi juga dapat menimbulkan beban baru jika tidak ada perlindungan bagi kelompok rentan. Masalahnya pemerintah suka tidak menyadari bahwa kondisi ekonomi masing-masing individu berbeda terutama yang menengah ke bawah.

Hal ini berhubungan dengan BPS menjelaskan ada sistem desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN digunakan untuk menunjukkan posisi relatif keluarga berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Desil bukan sekadar ukuran pendapatan, melainkan mempertimbangkan kondisi perumahan, pendidikan, pekerjaan, aset, konsumsi listrik, dan berbagai karakteristik lainnya. Per 10 Juli 2026, DTSEN Versi 3 Tahun 2026 mencakup 290,13 juta catatan individu dan 95,98 juta catatan keluarga.

Data tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa kebijakan tidak bisa lagi menggunakan pendekatan yang sama untuk seluruh masyarakat. Keluarga pada kelompok ekonomi bawah tentu memiliki kemampuan yang berbeda ketika menghadapi kenaikan harga dibandingkan kelompok yang lebih mampu.

BPS juga mencatat gini ratio Indonesia pada Maret 2026 sebesar 0,368. Sementara itu, 40 persen penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah hanya menikmati 19,22 persen distribusi pengeluaran nasional.

Di sinilah tantangan kebijakan publik sebenarnya berada. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan tersebut juga perlu diterjemahkan menjadi harga yang stabil, akses pendidikan yang terjangkau, subsidi yang tepat sasaran, serta perlindungan terhadap daya beli masyarakat.

Sebab, kebijakan publik pada akhirnya bukan hanya tentang pasal, anggaran, atau angka dalam laporan pemerintah. Ia hadir dalam keputusan seorang ibu ketika memilih barang di pasar, seorang pekerja ketika mengisi bensin, dan seorang mahasiswa ketika menghitung biaya kuliah.

Kebijakan memang dapat mengubah angka ekonomi. Namun, lebih dari itu, sebuah kebijakan juga dapat mengubah cara masyarakat menjalani hidup. Karena setiap keputusan yang dibuat pemerintah pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri, dari meja rapat hingga ke dompet masyarakat.