Indonesia adalah negara Ring of Fire. Hal ini seharusnya tidak terdengar mengejutkan bagi siapa pun yang pernah duduk di bangku sekolah. Sejak SD, kita sudah diperkenalkan dengan kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik dan memiliki banyak gunung api aktif. Artinya, risiko gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, tanah longsor, hingga bencana hidrometeorologi bukanlah kejadian yang sepenuhnya tidak terduga. Kita sudah tahu rumah ini berada di wilayah rawan bencana.
Yang ironis, setelah puluhan tahun menjadi negara merdeka, kesadaran tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi budaya kesiapsiagaan yang serius. Kita sering terlihat sangat sibuk setelah bencana terjadi. Bantuan dikirim, posko didirikan, pejabat datang, kamera bekerja, bantuan sosial dibagikan, lalu perlahan perhatian publik berpindah kepada isu lain. Berapa besar investasi yang kita siapkan agar korban dan kerugian dapat ditekan?
Bencana memang tidak selalu dapat dicegah. Gunung api akan tetap memiliki aktivitas vulkanik. Gempa bumi tidak dapat dihentikan. Tsunami tidak bisa dinegosiasikan. Tetapi dampak bencana dapat dikurangi. Inilah perbedaan antara sekadar hidup di daerah rawan bencana dan benar-benar memiliki negara yang tangguh menghadapi bencana.
Kesiapsiagaan membutuhkan anggaran. Bukan hanya anggaran untuk bantuan ketika bencana sudah terjadi, tetapi juga untuk pemetaan risiko, sistem peringatan dini, pemantauan gunung api dan gempa, edukasi masyarakat, simulasi evakuasi, pembangunan infrastruktur tahan bencana, penyediaan jalur evakuasi, hingga penguatan kapasitas pemerintah daerah.
Masalahnya, investasi semacam ini sering kalah menarik dibandingkan proyek yang hasilnya bisa langsung dipamerkan. Pembangunan fisik mudah difoto. Gedung baru bisa diresmikan. Jalan baru bisa dipotret. Tetapi sistem peringatan dini yang bekerja dengan baik mungkin tidak pernah terlihat oleh publik. Justru karena keberhasilannya berarti tidak terjadi tragedi besar.
Padahal, uang yang dikeluarkan sebelum bencana sering kali jauh lebih berharga daripada uang yang dikeluarkan setelah korban berjatuhan. Yang juga memprihatinkan adalah rendahnya literasi bencana di tengah masyarakat. Ketika terjadi fenomena alam yang tidak biasa, ruang publik dengan cepat dipenuhi mitos, ramalan, informasi palsu, bahkan teori konspirasi.
Erupsi beberapa gunung dalam waktu berdekatan, misalnya, dapat segera dikaitkan dengan berbagai dugaan yang tidak memiliki dasar ilmiah. Fenomena alam yang sebenarnya dapat dijelaskan melalui geologi dan vulkanologi justru dipenuhi cerita misterius.
Skeptis boleh. Bertanya boleh. Bahkan mempertanyakan pemerintah adalah bagian penting dari masyarakat demokratis. Tetapi skeptisisme tanpa bukti bukanlah sikap kritis. Itu hanya spekulasi.
Negara semestinya mengambil peran penting dalam situasi seperti ini: membawa publik kembali kepada ilmu pengetahuan. Ketika terjadi gempa, masyarakat perlu tahu bagaimana gempa terjadi. Ketika gunung api meningkat aktivitasnya, masyarakat perlu memahami status, ancaman, dan prosedur evakuasi. Ketika BMKG atau PVMBG mengeluarkan informasi, publik perlu dibiasakan memahami data, bukan mencari narasi sensasional.
Pemerintah juga harus berani mengakui bahwa Indonesia memang negara yang memiliki risiko bencana tinggi. Mengakui kerentanan bukan berarti menunjukkan kelemahan. Justru negara yang matang adalah negara yang mengetahui kelemahannya sendiri dan mempersiapkan diri menghadapinya.
Ironis jika anak-anak Indonesia sudah belajar sejak SD bahwa negaranya berada di kawasan Ring of Fire, tetapi negara seolah baru mengingatnya ketika gunung meletus atau gempa terjadi. Kita sudah tahu risikonya. Kita sudah memiliki ilmuwannya. Kita memiliki lembaga yang memantau. Kita memiliki pengalaman bencana yang panjang. Lantas, apa alasan untuk terus bersikap seolah-olah bencana adalah kejutan?
Sudah waktunya anggaran bencana tidak dipandang sebagai pengeluaran yang baru penting ketika tragedi terjadi. Kesiapsiagaan adalah investasi. Setiap rupiah yang digunakan untuk memperkuat sistem peringatan dini, edukasi, infrastruktur, dan mitigasi adalah upaya untuk menyelamatkan nyawa yang mungkin bahkan tidak pernah kita kenal.
Indonesia tidak bisa memilih untuk keluar dari Ring of Fire. Tetapi Indonesia bisa memilih untuk menjadi negara yang paling siap menghadapinya. Dan mungkin masalah terbesar kita bukan karena terlalu banyak bencana. Masalahnya adalah kita sudah tahu bencana akan datang, tetapi terlalu sering bertindak seolah-olah kita tidak punya waktu untuk bersiap.
Baca Juga
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
-
Nasehat Mbah Kakung yang Reformis: Kritik Tajam di Tengah Kemerosotan Moral
-
Dikeruk tapi Minim Pembangunan: Kenapa Masyarakat Pedalaman Tidak Bersuara?
-
Tampil Stand Out ala Profesional dalam Buku Presentasi yang Mencekam
-
Kemiskinan vs Menstruasi: Saat Kebutuhan Dasar Perempuan Tak Terjangkau
Artikel Terkait
-
Hashim Klaim Indonesia Negara Super Kaya, Sebut Mampu Biayai MBG & Kopdes Merah Putih
-
Jalani Sidang Perdana, Silmy Karim Didakwa Peras Izin Tinggal WNA Rp168,9 Miliar
-
Wantimpres Kumpul di Setneg, Bahas Sejumlah Isu untuk Prabowo
-
Beda Kewenangan, ITDP Sebut Integrasi Transportasi Jabodetabek Masih Jadi Tantangan
-
Suahasil Tetapkan Batas Defisit APBD 2027 Maksimal 2,5 Persen, Utang Pemda Makin Diperketat
Kolom
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
-
Tren Bahasa Gado-Gado ala Gen Z: Akankah Bahasa Indonesia Terasing di Negeri Sendiri?
-
Gen Z Bikin Bahasa Baru, namun Apa Kesalahan Menulis Harus Ikut Dimaklumi?
-
Parah Jadi Para, Gaji Jadi Gajih: Ketika Satu Huruf Mengubah Makna Bahasa
-
Nasib Bahasa Indonesia di Akar Rumput: Bersandar Enam Jam Sepekan, Tergerus Masifnya Konten Tayangan
Terkini
-
Connor Storrie Negosiasi Peran Antagonis di Film Ghost Rider MCU
-
Perjalanan Futsal dan Konser Musik di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Mindset Kelas Atas, New BIONS by BNI Sekuritas Siap Dampingi Penggunanya Sampai Menetas Tuntas
-
4 Moisturizer Berbahan Honey Extract Berikan Efek Hidrasi agar Wajah Lembap
-
Dari Aspal Kampung Ke Panggung Asia: 3 Bintang Muda Futsal AXIS 2026