Belakangan ini, masyarakat Indonesia seperti punya banyak urusan tambahan hanya untuk memenuhi kebutuhan yang seharusnya masuk kategori bare minimum. Mau isi BBM saja harus siap antre berjam-jam. Di Makassar, misalnya, antrean BBM sempat mengular hingga ke jalan dan membuat pengemudi harus menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU.
Urusan makan pun ikut membutuhkan perhatian lebih. Orang tua tidak cukup hanya memastikan anak sudah makan, tetapi juga perlu memikirkan keamanan makanan yang dikonsumsi anak di tengah maraknya kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Belum selesai satu urusan, urusan lain sudah menyusul. Waktu tersita habis untuk mengantre, tenaga terkuras untuk mencari sembako murah, sementara uang belanja harus dihitung lebih cermat agar kebutuhan rumah tetap terpenuhi. Rutinitas yang seharusnya sederhana pun pelan-pelan berubah menjadi pekerjaan tambahan yang tidak ada habisnya. Lantas, kenapa memenuhi kebutuhan yang paling dasar saja rasanya sudah seperti menjalani mode survival?
Selamat Datang di Negeri Serba Antre
Kalau dulu antre identik dengan beli sesuatu yang memang sedang ramai, sekarang hal itu rasanya sudah menjadi bagian dari rutinitas. Seolah-olah masyarakat hendak menghadapi sebuah misi besar, padahal yang dicari cuma kebutuhan sehari-hari.
Antrean BBM di Makassar menjadi salah satu contohnya. Ironisnya, setelah selesai antre, hidup tidak otomatis menjadi lebih mudah. Masih ada pekerjaan yang menunggu, kebutuhan rumah yang harus dipenuhi, dan waktu yang sudah telanjur hilang.
Fenomena ini lucu sekaligus menyebalkan. Kita sering mendengar masyarakat diminta bersabar, tertib, dan menyesuaikan diri. Padahal, masyarakat hanya ingin membeli BBM tanpa harus mengorbankan waktu yang harusnya bisa digunakan untuk melakukan hal lain.
Kalau kebutuhan dasar saja sudah menghabiskan waktu sebanyak itu, sebenarnya yang sedang dikelola ini kebutuhan rakyat atau kesabaran rakyat?
Dapur Juga Jadi Medan Pertempuran
Setelah urusan BBM selesai, ternyata masih ada satu misi lain yang tidak kalah penting, yaitu memastikan isi dapur tetap aman sampai akhir bulan. Belanja kebutuhan rumah tangga sekarang rasanya tidak bisa lagi asal memasukkan barang ke keranjang karena pengeluaran harus dihitung ulang supaya uang yang ada cukup untuk semuanya.
Jadi, setelah suami sibuk mengantre BBM, giliran istri berjibaku memastikan kebutuhan rumah tetap tersedia. Lucunya, semua ini dilakukan bukan untuk mengejar sesuatu yang mewah. Orang hanya ingin kendaraan bisa digunakan, dapur tetap mengepul, dan kebutuhan sehari-hari terpenuhi.
Namun, untuk sampai ke titik itu, waktu, tenaga, dan uang harus sama-sama dihitung. In this economy, belanja kebutuhan dasar saja sudah terasa seperti menyusun strategi bertahan hidup.
Bonus Level: Anak-anak Dibayangi Keracunan MBG
Setelah berhasil melewati antrean BBM dan berburu sembako murah, rupanya perjuangan belum selesai. Ada level berikutnya, yakni memastikan makanan anak benar-benar aman.
Kekhawatiran ini muncul seiring berulangnya kasus dugaan keracunan dalam program MBG di sejumlah daerah. Bahkan, isu keracunan MBG tercatat sebagai salah satu masalah kesehatan yang dominan dalam pemantauan Kementerian Kesehatan pada awal September 2026.
Artinya, urusan makan yang seharusnya sederhana ikut menambah daftar kegelisahan masyarakat, terutama orang tua. Orang tua tidak hanya bertanya apakah anak sudah makan, tetapi juga apakah makanan yang didapatkan dari program tersebut benar-benar aman untuk dikonsumsi.
Kalau begini ceritanya, rakyat memang harus serba bisa. Bisa mengantre berjam-jam, bisa mengatur uang sampai receh terakhir, dan tentu saja harus punya mental tahan banting. Kalau satu level sudah berhasil dilewati, tinggal berharap hidup tidak lagi menaikkan level kesulitannya.
Baca Juga
-
Mati Suri Demokrasi Akar Rumput: Potret Pilu Suara Rakyat yang Dibeli Murah
-
Ulasan Stock Struck: Saat Pemula Nekat Main Saham dan Berujung Kena Mental
-
Budaya Tutup Mulut soal Gaji: Menjaga Privasi atau Celah Eksploitasi?
-
Ketimpangan Relasi: Rakyat Berjuang Tanpa Bantuan, Negara Menarik Pungutan
-
Ulasan Let Me Be Your Knight: Mengurai Burnout dan Sisi Rapuh Idol K-Pop
Artikel Terkait
Kolom
-
Sisi Gelap 'Magang': Kerja Profesional, Kenapa Dihargai Upah Sukarela?
-
Rakyat Diminta Berhemat, Pejabat Menikmati Fasilitas Negara?
-
MA Batalkan Suket SMA Gibran, Ada Apa dengan Syarat Cawapres 2024?
-
Fenomena Thrifting: Antara Gaya Hidup dan Ancaman Limbah Tekstil
-
Salam Tiga Jari Menggema, Simbol Perlawanan yang Menyimpan Pesan Besar
Terkini
-
Siap Garap Album Baru di Tahun 2027, My Chemical Romance Bakal Rehat Tur
-
Membaca Pikiran Orang Seperti Membaca Buku: Memahami Bahasa Tubuh Manusia
-
Sinopsis Love and Wifi in the Palace, Cinta Beda Zaman Lewat Smartphone
-
5 Toner Lokal untuk Menyamarkan Pori-pori dan Mengontrol Minyak Berlebih
-
3 Anime Netflix Terbaru November 2026, Ada Steampunk hingga Fantasi Gelap