Hayuning Ratri Hapsari | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi demonstrasi [Pexels/Irgi Nur Fadil]
Dini Sukmaningtyas

Kalau saya perhatikan belakangan ini, gelombang kritik dan aksi protes ke pemerintah lebih banyak digerakkan oleh kelas menengah. Mereka riuh di media sosial hingga turun ke jalan, sadar ada yang salah dengan arah tata kelola negara. Namun di saat yang sama, banyak warga akar rumput yang justru belum tersentuh kesadaran politik yang sama.

Alih-alih ikut mengkritik kebijakan yang mencekik, sebagian warga di akar rumput masih sangat rentan dimanfaatkan. Uang 50 ribu atau 100 ribu rupiah sudah cukup untuk memobilisasi mereka turun ke jalan sebagai "massa bayaran" demi kepentingan kelompok tertentu. Himpitan harian membuat urusan perut hari ini jauh lebih mendesak ketimbang memikirkan masa depan demokrasi.

Kondisi ini memperlihatkan betapa timpangnya kedaulatan rakyat kita. Ini adalah potret pilu suara rakyat yang dibeli murah, sekaligus pertanda mati suri demokrasi akar rumput yang sesungguhnya.

Saat Kemarahan Kelas Menengah Bertepuk Sebelah Tangan

Kebanyakan, yang ramai turun ke jalan atau ribut di media sosial mengkritik pemerintah kebanyakan adalah anak-anak muda dan kelas menengah. Mereka punya waktu, akses informasi, dan gelisah melihat arah negara yang makin ngawur. Tapi sayangnya, gelombang protes itu sering kali berhenti di lingkaran mereka sendiri. Di akar rumput, situasinya beda cerita.

Bukannya rakyat di bawah tidak peduli, tapi realita harian mereka menuntut fokus yang berbeda. Saat kelas menengah sibuk memperdebatkan indeks demokrasi atau aturan yang melanggar konstitusi, warga di lapis bawah masih pusing memikirkan bagaimana caranya agar besok dapur tetap ngebul.

Perbedaan prioritas inilah yang menciptakan jurang pemisah. Kritik tajam yang diteriakkan di kota-kota besar maupun media sosial sering kali terdengar asing dan tidak nyambung dengan keseharian mereka.

Akibatnya, perlawanan terhadap kebijakan yang ugal-ugalan jadi berjalan pincang. Pemerintah bisa dengan tenang mengabaikan protes kelas menengah karena tahu mayoritas rakyat di akar rumput tidak bergerak di frekuensi yang sama.

Lemahnya Posisi Tawar di Tengah Gempuran Politik Uang

Di saat kelas menengah berbusa-busa bicara soal etika dan integritas pemimpin, para pemain politik di bawah menggunakan cara yang jauh lebih praktis, yakni menebar uang. Mereka paham betul celah kesempitan hidup rakyat. Cukup dengan lembaran lima puluh atau seratus ribu rupiah, kesetiaan politik bisa dibeli secara instan tanpa perlu repot-repot menawarkan program kerja yang masuk akal.

Fenomena "massa bayaran" yang gampang digerakkan bukan semata-mata karena rakyat suka disetir, melainkan karena sistem ekonomi kita memang gagal memberi mereka jaminan hidup yang layak. Ketika uang di dompet sudah habis dan perut lapar, uang tunai instan mendadak jadi dewa penolong paling nyata. Di titik inilah idealisme kalah telak oleh desakan hidup.

Politik uang akhirnya berubah jadi bentuk penindasan yang paling rapi. Para elit tidak perlu pusing memikirkan cara mengentaskan kemiskinan. Hubungan transaksional ini dipelihara terus-menerus supaya struktur kekuasaan mereka tidak pernah digugat dari bawah.

PR Besar Menghidupkan Demokrasi dari Bawah

Tentu saja tidak adil kalau kita terus-menerus menyalahkan rakyat akar rumput yang gampang goyah. Menuding mereka "bodoh" atau "mata duitan" tanpa mau melihat akar ketimpangannya adalah sikap yang naif dan jumawa. Perubahan besar tidak akan pernah terjadi jika kelas menengah terus merasa paling benar.

Langkah pertamanya sederhana, ubah cara merangkul. Kritik tidak akan pernah mempan kalau disampaikan dengan nada menceramahi atau merendahkan. Edukasi politik harus berjalan beriringan dengan kerja-kerja nyata yang menyentuh urusan perut dan penguatan ekonomi warga di lapangan.

Kalau jurang pemisah ini dibiarkan, siklus bobrok ini akan terus berulang dari pemilu ke pemilu. Suara rakyat akan selamanya menjadi komoditas murahan yang diperjualbelikan demi melanggengkan kekuasaan para oligarki. Sudah saatnya perlawanan ini digalang bersama, memadukan kegelisahan kelas menengah dengan kekuatan kolektif akar rumput yang utuh.