Apa kamu pernah berada di posisi harus memilih antara mengejar passion yang bikin matamu berbinar, atau mengambil jurusan dan karier aman pilihan orang tua demi label "anak berbakti"? Kalau kamu Gen Z, saya bertaruh setidaknya sekali dalam hidup, kamu pernah berada di persimpangan jalan yang menyesakkan ini.
Semalam, seorang teman dekat menelepon saya sambil terisak. Ia baru saja mengepak barang-barang di kamarnya, bersiap resign dari pekerjaan di divisi creative marketing yang sangat ia cintai. Alasannya klasik tapi menyayat hati: ibunya menuntut ia pulang kampung dan ikut tes CPNS untuk kesekian kalinya. Katanya, pekerjaan kreatif itu "nggak jelas masa depannya", sementara jadi ASN adalah puncak kejayaan hidup. Teman saya menyerah, bukan karena ia gagal di pekerjaannya, tapi karena lelah dicap sebagai anak pembangkang setiap kali mencoba mempertahankan mimpinya.
Mendengar tangisannya, ada rasa marah sekaligus sedih yang membakar dada saya. Kapan sih kita bakal melepaskan dogma bahwa bentuk tertinggi dari menghormati orang tua adalah dengan menumbalkan masa depan dan potensi diri kita sendiri?
Mari kita bedah secara jernih dari sudut pandang generasi kita. Menghormati orang tua adalah kewajiban moral yang tidak bisa ditawar. Tapi, menyamakan "rasa hormat" dengan "kepatuhan buta" terhadap jalan hidup yang mereka rancang adalah kekeliruan besar. Orang tua kita membesarkan kita di zaman yang jauh berbeda. Kacamata "aman dan sukses" versi mereka sering kali dibentuk oleh ketakutan masa lalu, bukan oleh realitas lanskap industri hari ini yang sangat dinamis.
Secara psikologis, memaksa anak berjalan di jalur karier yang tidak sesuai dengan minat dan potensinya membawa dampak destruktif jangka panjang. Hal ini sejalan dengan temuan dalam Journal of Counseling Psychology mengenai parental career expectations, di mana ketidaksesuaian antara harapan karier orang tua dan minat pribadi anak berkolerasi signifikan dengan tingkat stres yang tinggi, penurunan kepuasan kerja, hingga krisis identitas saat dewasa (burnout dan quarter-life crisis). Kita tidak cuma kehilangan motivasi kerja, tapi juga kehilangan rasa atas siapa diri kita sebenarnya.
Bayangkan jika logika ini terus dibiarkan. Kita akan memiliki generasi yang diisi oleh orang-orang yang bekerja tanpa jiwa—dokter yang tertekan karena sebenarnya ingin jadi musisi, atau PNS yang frustrasi karena passion-nya ada di dunia data science. Mereka menjalankan hidup bukan atas dasar panggilan jiwa, melainkan sekadar melunasi ekspektasi orang lain. Hasilnya? Hasil kerja yang ala kadarnya, rasa dendam terselubung pada orang tua, dan hidup yang diwarnai penyesalan berulang: "Coba dulu saya berani menolak."
Gen Z sering kali dicap egois atau tidak tahu diri hanya karena berani berargumen soal pilihan hidup. Padahal, yang sedang kita perjuangkan bukanlah bentuk pembangkangan. Ini adalah bentuk tanggung jawab atas hidup yang Tuhan titipkan ke pundak kita sendiri, bukan pundak orang tua kita. Orang tua memang yang melahirkan dan membesarkan kita, tapi yang akan menjalani sisa hidup 30–40 tahun ke depan dengan pilihan karier itu adalah kita, bukan mereka.
Menolak pilihan karier orang tua bukan berarti kita durhaka atau tidak menyayangi mereka. Justru, membuktikan bahwa kita bisa sukses, bahagia, dan berdaya di jalan yang kita pilih sendiri adalah bentuk bakti yang paling elegan.
Mulai hari ini, buat kamu yang masih berjuang di persimpangan ini, tegakkan kepalamu. Bicaralah dengan dingin dan tegas, tawarkan bukti bukan sekadar emosi. Ingat, bahagiamu adalah tanggung jawabmu. Menghormati orang tua itu pintu keberkahan, tapi mengorbankan seluruh potensi dan impian pribadi demi validasi mereka adalah bentuk kejahatan pada dirimu sendiri.
Baca Juga
-
Mengejar DP Rumah vs Beli Pengalaman: Mengapa Gen Z Memilih Realistis?
-
Kerja Keras Tak Lagi Cukup: Gen Z Mulai Melihat Kemiskinan secara Sistemik?
-
Absurditas Formalitas WFO: Saat Kerja Digital Wajib Dikerjakan di Kantor
-
Perangkap LinkedIn: Ketika Capaian Orang Lain Bikin Kita Merasa Tak Berguna
-
Mimpi Pensiun Dini Gen Z: Antara Ambisi FIRE dan Realita Gaji UMR
Artikel Terkait
Kolom
-
Menkeu: Tidak ada Anggaran Khusus Sekolah Gratis, Pendidikan Terabaikan?
-
Feed yang Membentuk Isi Dompet: Efek Budaya Flexing pada Perilaku Konsumsi
-
Seni Mematikan Notifikasi: Saat Ketenangan Menjadi Kemewahan Baru bagi Gen Z
-
Jebakan Gaji Tinggi: Saat Korban Loker Palsu Dipaksa Jadi Sindikat Love Scamming
-
Dari Ngajar Jadi Tukang Endus: Ironi di Balik MBG
Terkini
-
Novel Cake Shop: Aksi Stalk Crush Berujung Temukan Pelanggan dan Cinta Baru
-
Prediksi Timnas Indonesia vs Singapura: Misi Balas Dendam di SUGBK
-
Asian Games 2026: 28 Tahun Menanti, Bulu Tangkis Indonesia Raih Emas Beregu
-
Review Ketok Mejik, Warisan Bengkel dan Palu Sakti
-
MediaTek C10 Max Bawa Performa AI 55 TOPS, Siap Jadi Penantang Snapdragon X