Sekar Anindyah Lamase | Sherly Azizah
Ilustrasi skincare dan kosmetik (pexels/Skylar Kang)
Sherly Azizah

Bayangkan seorang anak sekolah dasar yang belum genap berusia sepuluh tahun, tetapi sudah hafal luar kepala urusan exfoliating toner, serum hyaluronic acid, hingga kandungan retinol yang biasa dipakai oleh orang dewasa?

Kemarin sore, seorang kawan lama mencurahkan keheranannya saat kami sedang minum kopi bersama. Dengan wajah campur aduk antara bingung dan prihatin, dia bercerita tentang adik bungsunya yang masih duduk di kelas 5 SD. Dulu, di usia segitu, ingatan kawan saya tentang masa kecil hanyalah bermain layangan, main karet, dan pulang ke rumah dengan baju kotor penuh keringat.

Namun, adiknya yang merupakan bagian dari Generasi Alpha kini punya rutinitas akhir pekan yang sangat berbeda, meminta diantar ke toko kosmetik demi berburu produk perawatan kulit (skincare) mahal yang sedang viral di TikTok. "Bayangin Bro, anak SD sekarang minta dibelikan skincare yang harganya ratusan ribu cuma gara-gara sering nonton video 'Get Ready With Me'. Padahal kulitnya masih halus banget, belum ada jerawat sama sekali," keluhnya prihatin.

Cerita tentang adik kawan saya ini bukanlah kasus tunggal, melainkan cerminan dari fenomena global yang kini ramai diperbincangkan dengan sebutan Sephora Kids.

Istilah Sephora Kids merujuk pada fenomena anak-anak Gen Alpha (kisaran usia 8–12 tahun) yang membanjiri toko-toko kecantikan modern untuk membeli produk perawatan wajah dan kosmetik kelas atas. Terpapar secara masif oleh konten Get Ready With Me (GRWM) dari para influencer di media sosial, anak-anak ini secara bertahap mengadopsi ritual kecantikan dewasa. Tempat bermain mereka yang tadinya berupa lapangan atau taman kini bergeser ke lorong-lorong toko kosmetik, di mana mereka berburu kemasan produk yang estetis demi meraih pengakuan di dunia maya.

Dinamika psikologis dan implikasi sosial-etis dari fenomena ini dibahas secara mendalam dalam studi ilmiah bertajuk "Are ‘Sephora Kids’ Real? A Bayesian and Socio-Ethical Analysis of Youth Cosmetic Culture". Penelitian tersebut menganalisis realitas budaya kosmetik usia dini dengan meneliti bagaimana dorongan komersialisasi digital dan komodifikasi penampilan membentuk perilaku konsumtif anak-anak. Studi ini menguraikan bahwa maraknya tren Sephora Kids memicu dilema etis yang serius: komersialisasi masa kecil secara prematur, erosi batasan perkembangan usia anak, serta risiko masalah kesehatan mental dan fisik akibat paparan standar kecantikan dewasa serta penggunaan kosmetik berlebihan yang belum sesuai kelompok usianya.

Menariknya, fenomena ini melahirkan benturan pola pikir dan kekagetannya tersendiri apabila ditinjau dari kacamata perbandingan generasi.

Bagi generasi terdahulu seperti Milenial dan Gen Z, masa kanak-kanak adalah fase kepolosan fisik di mana perawatan tubuh hanyalah sebatas sabun mandi, bedak tabur, dan minyak kayu putih. Standar kebahagiaan anak-anak zaman dulu diukur dari seberapa seru mereka bermain bersama teman sebaya di dunia nyata. Ketika melihat Gen Alpha sibuk memoles wajah dengan berbagai tahapan skincare rumit, generasi tua kerap merasa prihatin karena menganggap Gen Alpha terlalu cepat kehilangan "masa kecil" mereka yang berharga demi mengejar standar kecantikan semu.

Sebaliknya, Gen Alpha tumbuh sebagai generasi digital native sejati yang terpapar layar gawai sejak bayi. Dalam lanskap digital yang mereka huni, perawatan kulit tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan medis atau kebersihan diri, melainkan sebagai bentuk hiburan, gaya hidup, dan simbol status sosial (status symbol). Algoritma media sosial secara halus membentuk persepsi mereka bahwa tampil cantik dan memiliki kulit berkilau (glass skin) seperti orang dewasa adalah kunci utama untuk diterima dan dihargai oleh lingkungan sekitar.

Memiliki kesadaran untuk merawat kebersihan diri sejak dini tentu merupakan hal yang baik. Mengajarkan anak-anak pentingnya mencuci wajah setelah beraktivitas dan menggunakan tabir surya (sunscreen) saat berada di luar ruangan adalah bentuk edukasi kesehatan yang sangat tepat. Namun, ketika edukasi tersebut berbelok menjadi obsesi mengoleskan bahan kimia aktif yang belum saatnya, di situlah batas kewajaran telah dilanggar.

Anak-anak Gen Alpha sebenarnya tidak membutuhkan rangkaian skincare mahal sepuluh langkah untuk membuat kulit mereka tampak sehat; yang mereka butuhkan adalah perlindungan dari paparan media sosial yang terlalu dini serta ruang yang aman untuk menjadi anak-anak seutuhnya.

Jadi, ketika kita melihat fenomena Sephora Kids ini marak di sekitar kita hari ini, cobalah bertanya pada diri sendiri, apakah kita sedang menyaksikan generasi masa depan yang makin cerdas merawat diri, atau justru generasi yang sedang dirampas masa kecilnya oleh algoritma media sosial?