Sebagai seorang perempuan yang merintis karier dari bawah, momen interview kerja selalu berhasil membuat jantung saya berdegup kencang. Namun, pertanyaan soal ekspektasi gaji saat wawancara kerja sering membuat saya mendadak keringat dingin.
Dulu, respons pertama saya adalah panik. Pikiran saya langsung dipenuhi ketakutan: “Kalau saya minta terlalu tinggi, nanti mereka ilfil nggak ya?” atau “Bagaimana kalau mereka mengira saya angkuh dan akhirnya membatalkan penawaran ini?”
Ketakutan-ketakutan ini akhirnya membuat saya pasrah menerima angka berapa pun yang ditawarkan HRD. Hasilnya? Saya berakhir underpaid selama bertahun-tahun, mengerjakan beban kerja yang besar dengan apresiasi finansial yang minim.
Pengalaman pahit itu menyadarkan saya akan satu hal: ketakutan kita untuk bernegosiasi kerap menjadi alasan mengapa ketimpangan pendapatan berbasis gender atau gender wage gap yang masih langgeng hingga hari ini.
Menegosiasikan gaji saat interview bukan cuma soal uang, melainkan bentuk validasi atas nilai profesionalitas. Mungkin ini saatnya menganggap negosiasi gaji itu krusial dan mulai mengambil langkah berani tanpa rasa bersalah.
Menepis Stigma "Agresif" Menjadi "Profesional"
Secara sosial, perempuan sering kali dikondisikan untuk menjadi sosok yang penurut, akomodatif, dan menghindari konflik. Pria yang bernegosiasi dengan gigih sering kali dinilai sebagai sosok yang tegas dan berjiwa pemimpin.
Sebaliknya, saat perempuan melakukan hal yang sama, ada ketakutan terselubung akan dicap "terlalu menuntut" atau "agresif". Saya pun belajar untuk membalikkan mindset ini.
Ketika mengajukan penawaran gaji yang berbasis data, saya tidak sedang menuntut; saya sedang berbisnis. HRD yang berkualitas justru akan melihat kemampuan negosiasi ini sebagai indikator paham nilai diri dan skill komunikasi yang baik.
Riset adalah Senjata Utama Melawan Keraguan
Dulu saya takut bernegosiasi karena tidak punya dasar yang kuat. Sekarang, sebelum melangkah ke ruang interview, saya berusaha mempersiapkan "senjata" berupa data riset standar gaji yang sesuai posisi dan tingkat pengalaman.
Pertanyaan tentang ekspektasi gaji tidak lagi saya jawab dengan menyebutkan angka acak, tapi memberikan rentang angka yang rasional lewat argumen objektif yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan emosional.
Mengukur Value yang Kita Bawa
Sebagai perempuan, kita sering kali terjebak dalam imposter syndrome—perasaan bahwa kita belum cukup kompeten. Hal ini membuat kita ragu untuk meminta kompensasi yang layak.
Untuk melawannya, pastikan mendokumentasikan pencapaian-pencapaian di pekerjaan sebelumnya. Berapa persen efisiensi yang berhasil saya lakukan? Proyek apa yang sukses saya pimpin?
Ketika mampu menyadari seberapa besar dampak dan value yang bisa kita bawa ke meja kerja baru, keberanian untuk menolak tawaran underpaid akan muncul dengan sendirinya. Ingat, perusahaan membayar untuk solusi yang kita bawa, bukan untuk rasa sungkan kita.
Menghargai Masa Depan Finansial Sendiri
Satu hal yang perlu diingat oleh setiap first jobber maupun profesional perempuan: gaji awal kita menentukan persentase kenaikan gaji di masa depan. Pastikan untuk tidak memulai dari angka yang terlalu rendah karena takut bernegosiasi.
Sebab, kita akan butuh waktu bertahun-tahun untuk mengejar ketertinggalan tersebut, bahkan jika sudah mendapatkan promosi sekalipun. Keberanian menentukan titik awal apresiasi adalah bentuk penghargaan atas masa depan finansial sendiri.
Dengan memperjuangkan hak finansial sejak awal, kita sedang berinvestasi untuk masa depan. Uang tersebut adalah alat bagi kita untuk mandiri secara finansial, berinvestasi, dan memiliki kebebasan memilih dalam hidup.
Menolak Underpaid adalah Langkah Profesional
Menolak untuk underpaid adalah langkah awal bagi perempuan untuk setara di dunia profesional. Jangan biarkan rasa sungkan atau takut dicap buruk membuat kita menerima kompensasi di bawah standar kelayakan kerja.
Pintu negosiasi itu selalu terbuka; tugas kita adalah berani melangkah masuk dan menyuarakan apa yang menjadi hak kita. Bekerja keras itu wajib, tapi dihargai dengan layak adalah hak yang tidak bisa ditawar.
Baca Juga
-
Jangan Tunggu Burnout: Pentingnya Ambil Ruang Jeda Sebagai Kebiasaan Rutin
-
Dari Sebentar Saja Jadi Berjam-jam: Jebakan Doomscrolling Sebelum Tidur?
-
Pendidikan di Era ChatGPT: Apakah Budaya Menghafal Masih Relevan?
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?
-
Dari Racun OOTD ke Checkout, Apakah Ini Cara Medsos Dorong Budaya Belanja?
Artikel Terkait
-
Perkiraan Gaji Yoseph Jhon Ferry, Kasi Binadik Lapas Cibinong yang Dinonaktifkan
-
Manajer Kopdes Digaji Rp8,3 Juta, Setara Profesi Software Engineer di Jakarta
-
Perkiraan Gaji Wisnu Hani Putranto, Mantan Kalapas Cibinong yang Dinonaktifkan
-
Kabar Baik Guru dan Nakes! APBN 2027 Tanggung Gaji PPPK Daerah Rp23 Triliun
-
Pusat Siapkan Rp23 Triliun untuk Gaji PPPK Daerah pada 2027
Kolom
-
Solo Date: Saat Jalan-Jalan Sendiri Berubah Jadi Bentuk Perawatan Diri
-
Program Pemerintah Harus Punya Umur Panjang, Bukan Sekadar Anggaran Panjang
-
Jangan Tunggu Burnout: Pentingnya Ambil Ruang Jeda Sebagai Kebiasaan Rutin
-
Akun Cenblu Menjamur di X, tapi Kenapa Kontennya Justru Makin Tak Bermutu?
-
Dari Sebentar Saja Jadi Berjam-jam: Jebakan Doomscrolling Sebelum Tidur?
Terkini
-
Jangan Tunggu Akun Kebobolan! Kenali 8 Tanda HP Disadap dan Disusupi 'Malware'
-
5 Running Shoes Terbaik untuk 10K, Mana yang Cocok Buat Kamu?
-
Prediksi Timnas Indonesia vs Bangladesh: Misi Menang Besar demi Tiket Final
-
Sinopsis 'Okaeri, Hatsukoi', Drama Terbaru Higuchi Kouhei dan Hayashi Meari
-
Sinopsis Live Long and Prosper, Dracin Fantasi yang Dibintangi Dylan Wang