M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
ilustrasi ketika kerja kelompok di caffe [pexels/RDNE Stock project]
Sherly Azizah

Pernah nggak kamu diundang nongkrong yang katanya "cuma ngopi santai", tapi pas waktunya bayar, tagihannya malah membengkak kayak biaya cicilan motor? Kamu yang cuma pesan es teh manis dan kentang goreng seadanya, tiba-tiba harus patungan ratusan ribu hanya karena ada teman yang pesan steak, katsu, dan beberapa hidangan mahal lainnya.

Kejadian menyebalkan ini baru saja dialami teman saya dua hari lalu. Ia diajak reuni kecil-kecilan di sebuah kafe kekinian. Karena budget lagi tipis, ia dengan sadar diri cuma pesan americano seharga 25 ribu. Namun, begitu bill keluar, salah satu teman dengan santainya berteriak, "Bagi rata aja ya biar simpel!" Hasilnya? Teman saya harus merogoh kocek Rp150.000. Saat mau protes, ia malah kena gaslighting halus: "Alah, kaya sama siapa aja, hitung-hitungan amat."

Mendengar cerita itu, rasanya dada saya ikut nyesek. Kapan sih kita bakal paham kalau asas "yang penting kumpul" bukan berarti boleh mengorbankan dompet dan kenyamanan finansial orang lain?

Mari kita bedah secara jernih. Masalah patungan yang kabur dan tidak transparan ini bukan cuma soal nominal uang, tapi soal etika dan rasa saling menghargai. Di era sekarang, setiap orang punya kondisi keuangan dan batas kemampuan yang berbeda-beda. Memaksa skema "bagi rata" tanpa kesepakatan awal untuk pesanan yang timpang adalah bentuk kejahatan finansial berselimut pertemanan.

Secara psikologis, ketidakjelasan transaksi dalam lingkar sosial ini punya dampak yang nyata. Sebuah riset yang dipublikasikan oleh Journal of Social and Personal Relationships mengenai ketegangan finansial antar personal menyebutkan bahwa ketidakpastian dan ketidakadilan terkait pengeluaran bersama merupakan salah satu pemicu utama timbulnya rasa kebencian terselubung (resentment) dan keretakan dalam hubungan pertemanan. Kamu mungkin diam saat membayar, tapi di dalam hati, rasa percaya dan kenyamananmu pada teman-temanmu itu langsung merosot drastis.

Bayangkan kalau budaya "patungan abu-abu" ini terus dipelihara. Nongkrong yang harusnya jadi ajang melepaskan stres malah berubah jadi momen penuh kecemasan. Orang-orang yang budget-nya pas-pasan bakal pelan-pelan menarik diri dan takut buat diajak kumpul lagi. Bukan karena mereka melupakan pertemanan, tapi karena mereka tidak sanggup membayar "pajak kebersamaan" yang harganya ugal-ugalan dan tidak masuk akal itu.

Meminta transparansi bill sejak awal atau memilih membayar sesuai apa yang kita makan (split bill) sama sekali tidak membuatmu jadi orang yang pelit atau perhitungan. Itu adalah bentuk kedewasaan finansial dan ketegasan menjaga batasan pribadi. Berteman itu soal saling memahami, bukan saling memanfaatkan. Teman yang baik tidak akan merasa tersinggung saat kamu bilang, "Boleh dihitung sendiri-sendiri aja nggak? Soalnya aku lagi hemat."

Mulai hari ini, mari kita stop kebiasaan "nanti dihitung belakangan" tanpa kejelasan. Kalau memang niatnya makan mewah dan bagi rata, sepakati di awal sebelum pesanan diketik oleh kasir. Biar apa? Biar tidak ada yang merogoh kocek sambil mengelus dada.

Ingat, menjaga transparansi anggaran saat nongkrong itu bukan tanda kamu miskin atau pelit. Justru, kejelasan soal uang di meja makan adalah cara paling elegan untuk menjaga pertemananmu tetap awet dan bebas dari rasa makan hati.