Sekar Anindyah Lamase | Fairus Farizki
Konten kreator lingkungan sekaligus aktivis asal Jakarta Selatan, Arief Kamarudin, memamerkan sejumlah ikan sapu-sapu berukuran besar hasil tangkapannya. (Instagram/Arief Kamarudin)
Fairus Farizki

Ikan sapu-sapu memang menyandang nama mulia layaknya petugas kebersihan, lengkap dengan reputasi rajin menyapu lumut di akuarium kita. Sayangnya, urusan jadi lain cerita ketika "ikan bersih-bersih" ini malah dibuang dan dibiarkan berkeliaran di sepanjang sungai. Alih-alih membersihkan, mereka justru menjadi calon preman penguasa perairan. 

Fenomena invasi sunyi ini belakangan rajin dipotret oleh Arief Kamarudin. Konten kreator asli bantaran Ciliwung ini hobi turun langsung untuk memanen ikan sapu-sapu, sekaligus dengan santai mengetuk kesadaran publik bahwa ikan yang selama ini tampak anteng dan tak berbahaya, diam-diam sedang menjajah ekosistem kita.

Sapu-sapu ini sebenarnya antek-antek asing, bukan ikan asli Indonesia. Data BRIN membuktikan mereka adalah petarung tangguh yang tahan banting, bahkan di air sekelas logam berat sekalipun. Menu makan nya pun necis abis, bukan cuma lumut kelas warteg, tapi merambah ke alga, cacing, hingga telur ikan tetangga. 

Di sinilah label "ikan pembersih" mulai terasa menyesatkan. Sungai kita jelas bukan akuarium raksasa. Ketika si antek-antek asing ini dilepas, ia langsung mengacaukan arisan ekologi setempat, membuat repot sepenjuru sungai.

Kemampuan reproduksinya membuat persoalan semakin serius. Pakar IPB University mencatat, si betina dari spesies ini bisa menelurkan hingga 19.000 butir dalam sekali siklus, dan itu dilakukan berkali-kali dalam setahun! Sembari si jantan sibuk menjaga sarang di dalam liang tebing sungai. 

Nah, hobi gali-menggali liang inilah yang menurut USGS kemudian bikin tebing sungai jadi ikutan rapuh dan rawan erosi. Tentu saja, sapu-sapu bukan satu-satunya terdakwa atas rusaknya sungai kita, tapi setidaknya, aksi-aksi penggerogotan mereka atas tembok sungai itu sukses bikin pening kepala para pencinta lingkungan.

Di saat ikan lokal megap-megap karena polusi, ikan sapu-sapu justru malah pamer kesaktian. Data BRIN menunjukkan mereka bisa hidup santai di air yang tercemar logam berat sekalipun. Alhasil, ketika ekosistem sedang krisis, si penjajah sungai ini malah makin asyik berkuasa. 

Republik ini sebenarnya tidak tinggal diam, lewat Permen KP Nomor 19 Tahun 2020, ikan sapu-sapu sudah resmi masuk daftar buron yang dilarang beredar bebas. Jadi, kalau ada yang melepas ikan ini ke sungai dengan niat "ikhlas-beramal", maaf-maaf saja, itu namanya salah alamat. Niatnya ibadah, jadinya malah menyumbang kerusakan lingkungan—sebuah tindakan yang jelas-jelas ditentang oleh Undang Undang Perairan kita.

Nah, ceritanya akan semakin pelik kalau sudah masuk dengan urusan perut. Riset Universitas Al Azhar Indonesia menemukan daging sapu-sapu Ciliwung ternyata sudah "kaya" logam berat—mulai dari timbal hingga merkuri—dan dicap tidak layak makan. 

Jadi, tolong jangan nekat menjadikan ikan ini eksperimen menu makan siomay hanya karena prinsip "mubazir kalau dibuang". Tubuh ikan ini memang bak spons yang hobi menyerap polutan lingkungan. Mengubah hama invasif menjadi hidangan meja makan rasanya bukan cara yang bijak untuk menguji ketahanan fisik masyarakat kita.

Bagi pemerintah daerah, urusan ini jelas tidak selesai begitu ikan ditangkap dan masuk jaring nelayan saja. Menangkap berton-ton ikan tanpa mengedukasi warga itu ibarat menimba air pakai keranjang. Okelah jika KKP memang sempat mencatat rekor menjaring 131 kilogram sapu-sapu di Yogyakarta baru-baru ini tahun 2026, tapi itu baru menyentuh permukaanya saja. 

Ingat, sungai kita bukan panti asuhan tempat menitipkan hewan peliharaan yang sudah bikin bosan. Ikan sapu-sapu mungkin tampak menggemaskan saat "bersih-bersih" di akuarium rumah, tapi di alam liar, mereka justru sedang sibuk menimbun bom waktu ekologis yang diam-diam membunuh di bawah air.