Pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto mendadak mengguncang panggung politik nasional. Sosok yang selama ini dikenal sebagai pengkritik paling vokal terhadap kekuasaan kini resmi melangkah ke lingkar inti Istana Negara.
Publik dan media massa pun langsung riuh. Sebagian sibuk menuding ini sebagai jurus "penjinakan" oposisi, sementara yang lain berspekulasi tentang motif politik di balik perangkulan tersebut. Tapi, apakah keriuhan ini tidak justru melepaskan kita dari pertanyaan yang jauh lebih krusial?
Terjebak Drama Figur, Lupa Esensi Lembaga
Hampir seluruh sorotan publik tertuju pada drama personal Rocky Gerung atau gaya kepemimpinan merangkul ala Prabowo. Padahal, jika kita jujur menengok ke belakang, masalah mendasar Wantimpres selama bertahun-tahun bukanlah soal siapa yang duduk di sana, melainkan apa fungsi konkret lembaga ini bagi kualitas regulasi negara.
Wantimpres kerap dipersepsikan publik sekadar sebagai panggung kompensasi politik. Ia menjadi tempat berlabuhnya para senior kabinet atau sekutu politik tanpa beban teknis eksekutif.
Lantas, apakah penunjukan figur kritis ini akan bernasib sama menjadi sekadar ornamen demokrasi berikutnya? Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang. Isu utamanya bukan lagi tentang apakah sang filsuf akan "jinak" atau tetap "radikal", melainkan bagaimana kita memanfaatkan momentum ini untuk mereformasi tata kelola nasihat kepresidenan secara sistemik.
Melembagakan Devil’s Advocate di Ring 1 Kepresidenan
Dalam teori pengambilan keputusan strategis, organisasi besar yang sehat selalu membutuhkan fungsi Devil’s Advocate. Ini adalah posisi resmi yang sengaja ditugaskan untuk "menyerang", membedah, dan mencari celah dari setiap rencana keputusan sebelum resmi disahkan.
Tanpa adanya penguji ekstrem seperti ini, lingkar dalam pembuat kebijakan sangat rentan terjangkit bahaya groupthink (pemikiran seragam) dan budaya asal bapak senang.
Ketika seorang tokoh kritis masuk ke Istana, perannya tidak boleh disempitkan sekadar memberi masukan manis. Wantimpres harus ditransformasikan menjadi stress-test chamber (ruang uji stres) resmi bagi setiap rancangan undang-undang maupun kebijakan strategis pemerintah. Sebelum sebuah regulasi dilepas ke masyarakat dan memicu kegaduhan publik, kebijakan tersebut harus terlebih dahulu "dilabrak" oleh penguji internal di dalam Istana.
Solusi: Transparansi Dialektika dan White Paper
Agar gagasan ini tidak berhenti sebagai wacana, ada dua langkah solusi konkret yang patut didorong bersama:
- Pengakuan Status Penguji Ekstrem: Mendorong internal Wantimpres untuk melembagakan fungsi Devil’s Advocate secara resmi. Setiap rancangan kebijakan vital wajib melewati tahap pembuktian kelayakan etis dan rasionalitas dari sudut pandang yang berseberangan.
- Akuntabilitas Dialektika: Nasihat presiden memang bersifat rahasia, namun publik tetap berhak mengetahui keberadaan dinamika pemikiran tersebut. Wantimpres dapat merilis white paper berkala atau Indeks Dialektika Kebijakan tanpa membocorkan rahasia negara, guna menunjukkan bahwa suatu keputusan telah diuji secara matang.
Pada akhirnya, keberanian presiden merangkul pengkritik tidak boleh berhenti sebagai manuver pencitraan semata. Jika keberadaan figur kritis di Istana mampu diwujudkan menjadi sistem stress-test kebijakan yang akuntabel, bukankah masyarakat yang pada akhirnya paling diuntungkan oleh lahirnya kebijakan berakal sehat?
Baca Juga
-
Kebakaran Gambut Jambi dan Perang Data: Citra Satelit vs Angka Resmi
-
Polemik Memburu Muhammad: Jangan-Jangan yang Kita 'Buru' Bukan Bukunya, Tapi Asumsi Sendiri?
-
Gerak Cepat Sarawak di Perbatasan: Ancaman atau Peluang Emas untuk Pembangunan IKN?
-
Bongkar Sel Mewah Tanpa Audit Forensik, Perobohan di Lapas Cibinong Blunder Hukum atau Kesengajaan?
-
Saatnya Algoritma Media Sosial Turut Bertanggung Jawab Mitigasi Bencana
Artikel Terkait
-
Masuk Lingkaran Istana, Segini Gaji dan Fasilitas Setingkat Menteri yang Diterima Rocky Gerung
-
Survei Anjlok, Prabowo Mulai Tebar BLT Hingga Insentif Pajak Kelas Menengah
-
Dihadiri 326 Anggota, Rapat Paripurna DPR yang Dipimpin Puan Bahas 5 Agenda Strategis
-
Garuda Terbang Tinggi, Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
-
PDU TNI Disebut Mirip Seragam Korut, Panglima Beri Penjelasan
Kolom
-
Bukan Cuma Perkara Cinta, Ini 3 Batasan Wajib agar Gaya Pacaran Tetap Sehat dan Positif
-
Menyapa Diri Sendiri Lewat Tulisan: Langkah Kecil Merawat Kesehatan Mental
-
Mengenal Herkansing dan Herexamen: Bukti Bahwa Pendidikan Butuh Ruang untuk Gagal
-
Jeda Bukan Berarti Berhenti: Makna Self-Care di Tengah Hidup Serba Cepat
-
Koperasi Desa Merah Putih: Mau Jadi Apa Sebenarnya?
Terkini
-
Cyberpunk: Edgerunners 2 Rilis 20 Oktober di Netflix, Hadir dengan Kru Baru
-
Sering Ingin 'Menghilang' dari Dunia? Film One Million Yen Girl Punya Jawaban Menohok buat Kamu
-
Yoshihiro Togashi Tolak Proyek dengan Deadline demi Fokus Hunter x Hunter
-
4 Sabun Mandi Charcoal untuk Atasi Kusam & Bau Badan, Auto Segar Seharian!
-
Ibadah Alam GKJ Baturetno ke-9: Memaknai Api, Kematian, dan Daya Hidup dari Balik Area Makam