M. Reza Sulaiman | Dimas Rahmat Naufal Wardhana
Ilustrasi Karhutla masih Mengancam Kesehatan dan Kehidupan Warga (pexels.com/Marek Piwnicki)
Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Degradasi lingkungan oleh karhutla mengakibatkan kita menjalani bangun pagi dan yang pertama kali kamu hirup bukan udara segar, melainkan asap pekat yang menusuk paru-paru.

Itulah yang dialami jutaan warga di Sumatra dan Kalimantan sepanjang Agustus hingga Oktober 2026. Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga merenggut hak dasar kita untuk menikmati bernapas dengan udara bersih.

Pasti banyak pekerja di keluarga baik itu seorang Ibu atau Ayah di Kalimantan yang harus menghirup, menggendong anaknya yang sesak napas karena asap. Rumahnya ada yang dekat maupun jauh dari titik api tetap terkena imbasnya. Setiap malam harus memastikan jendela tertutup rapat, meski udara di dalam rumah terasa pengap.

Data Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dari 50.891 orang pada 1 September menjadi 113.336 orang pada 9 September 2026 hanya dalam kurun waktu sekitar sepekan. Di Kalimantan Barat saja, angka ISPA menembus 165.747 kasus per akhir Agustus 2026.

Kenapa Karhutla tak kunjung tuntas? Pertanyaan ini sering muncul. Jawabannya tidak sederhana. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Soewarso, menyebut bahwa karhutla adalah akibat, bukan penyebab utama. Akar masalahnya ada pada aspek sosial-ekonomi yang merugikan dengan pembukaan lahan dengan cara membakar dianggap paling murah dan cepat .

Ditambah lagi, banyak lahan berstatus open access atau dikuasai tanpa kepastian tata ruang, sehingga pemicu kebakaran sulit terkontrol. Sipongi Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla dari Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare, meningkat 69 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.

Saat Agustus, angka itu melonjak menjadi 1,32 juta hektare . Lebih dari separuh area terbakar berada di wilayah izin dan konsesi, dengan perkebunan kelapa sawit sebagai penyumbang terbesar.

Dampak paling terasa adalah pada kesehatan. Luasnya paparan asap dalam durasi panjang memicu serangan akut bagi penderita asma, bronkiektasis, dan PPOK. Degradasi lingkungan akibat karhutla merugikan banyak orang dari segi aktivitas terhambat, mudah terkena penyakit.

Di Sumatera Selatan, penderita ISPA hampir mencapai 50.000 orang, dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) menyentuh angka 1.206. Angka ini sangat jauh di atas ambang normal 0-50 dan batas berbahaya 500. Sementara di Riau, 28 ribu jiwa terdampak ISPA sepanjang Agustus hingga Oktober 2026.

Karhutla tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga mobilitas. Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan mencatat 180 penerbangan terdampak asap sepanjang 28 September hingga 4 Oktober 2026 di Kalimantan Timur, Tengah, dan Utara. Jarak pandang terendah mencapai 100 meter .

Di Sorong, penerbangan Garuda Indonesia ditunda hingga lima jam akibat kabut asap. Wisatawan asing yang hendak mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting pun mengeluhkan gangguan jadwal perjalanan mereka. Karhutla telah menjelma menjadi bencana yang mengganggu denyut nadi ekonomi dan pariwisata.

Degradasi lingkungan pasti merugikan warga, karena mereka yang paling terdampak adalah kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas. Di Kalimantan, perempuan menanggung beban ganda mulai dari membersihkan abu, merawat keluarga yang sakit, hingga membeli masker dan obat.

Padahal peran perempuan tidak seharusnya seperti itu, sayangnya karhutla berkepanjangan semua kebutuhan hidup sehari-hari lebih banyak hingga membuat pendapatan keluarga menurun. Lalu penyebab karhutla membuat krisis air bersih juga, kemudian mati lampu secara bergilir.

Kerugian ekonomi akibat karhutla diperkirakan mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun, dengan potensi kehilangan pajak daerah sekitar Rp269,86 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, melainkan krisis multidimensi yang menggerogoti perekonomian dan kesejahteraan rakyat.

Presiden Prabowo Subianto bahkan telah mengkategorikan karhutla sebagai terorisme ekologi dan memerintahkan penguatan aturan hukum. Namun, regulasi saja tidak cukup. Diperlukan perbaikan tata kelola lahan, penguatan penegakan hukum hingga ke korporasi, serta restorasi ekosistem gambut yang selama ini terabaikan.

Selama akar masalah sosial-ekonomi tidak diselesaikan, asap akan terus kembali setiap tahun. Dan setiap kali ia datang, kita kembali bertanya sampai kapan rakyat harus menahan napas? Di balik bencana asap yang kasat mata, ada kerusakan yang jauh lebih dalam dan permanen. Ini bukan sekadar soal hutan yang hangus, melainkan hancurnya fondasi ekologis yang menopang kehidupan.

Pakar Ekologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Dr. Elham Sumarga, mengungkapkan fakta yang mengerikan penyebab degradasi lingkungan ini membuat setiap hektare lahan gambut yang terbakar melepaskan hingga 300 ton karbon ke atmosfer. 

Bayangkan, dengan luas karhutla yang mencapai jutaan hektare, berapa ratus juta ton karbon yang telah kita lepaskan ke udara hanya dalam beberapa bulan? Ini bukan lagi soal polusi lokal, melainkan kontribusi nyata Indonesia terhadap percepatan perubahan iklim global.

Karhutla saat ini sampai membakar gambut yang berbeda dengan pohon biasa. Berbeda dari sifatnya yang membara di bawah permukaan tanah (subsurface smoldering). Api tidak terlihat, tetapi terus menyala, menghabiskan bahan organik yang tersimpan selama ribuan tahun. Inilah mengapa karhutla gambut sangat sulit dipadamkan dan terus menghembuskan asap pekat selama berbulan-bulan, bahkan hingga menyeberang ke Malaysia dan Singapura.

Sayangnya degradasi ini bersifat permanen. Pengeringan gambut memicu penurunan lapisan tanah (land subsidence) yang tidak bisa dipulihkan. Berdasarkan pemodelan hidrologis ITB, fenomena ini berisiko menciptakan genangan air dan banjir permanen dalam jangka waktu 50 hingga 100 tahun ke depan. Artinya, apa yang kita bakar hari ini akan menjadi warisan bencana bagi anak cucu kita.

Puncak dari degradasi ini adalah kehancuran habitat. Banyak satwa orangutan di Kalimantan banyak yang terdesak dan terjebak akibat kebakaran. Beberapa foto bahkan menampilkan satwa liar yang ikut terbakar karena tidak mampu bertahan dari kebakaran yang hebat. Ini bukan sekadar kehilangan spesies, tapi runtuhnya rantai kehidupan yang telah terbangun selama jutaan tahun.

Dampak degradasi lingkungan ini juga merugikan warga secara langsung. Warga di Kubu Raya, Kalimantan Barat, mengalami keterbatasan air bersih selama berbulan-bulan. Seorang warga mengaku sudah sekitar dua bulan mandi menggunakan air asin karena sumber air tawar mereka tercemar.

Kita berbicara tentang hancurnya ekosistem gambut oleh karhutla yang membutuhkan ribuan tahun untuk terbentuk, tentang karbon yang terus terlepas ke atmosfer, tentang satwa liar yang kehilangan rumah, dan tentang warga yang kehilangan akses air bersih.