Notifikasi ponsel saya dipenuhi ucapan selamat setelah sebuah kemenangan lomba. Namun, di antara apresiasi dan doa baik, ada kalimat yang berulang kali muncul: “Wah, makan-makan nih!” Candaan sederhana baik offline maupun online, barangkali. Namun, ketika ucapan selamat seolah sepaket dengan tuntutan traktiran, saya mulai bertanya: mengapa keberhasilan seseorang kerap dianggap sebagai kesempatan bagi orang lain untuk ikut menikmati hasilnya? Rupanya, menjadi juara bukan hanya soal memenangkan lomba, tetapi juga menghadapi ekspektasi sosial yang datang setelahnya.
Awalnya terdengar lucu. Sekali dua kali, barangkali memang sekadar candaan. Namun, ketika hampir setiap ucapan selamat diikuti permintaan serupa, saya mulai bertanya-tanya: sejak kapan keberhasilan seseorang otomatis menjadi agenda makan bersama?
Saya baru saja merasakan situasi itu setelah memenangkan sebuah lomba. Kemenangan yang ingin saya bagikan sebagai kabar bahagia mendadak memiliki buntut berupa ekspektasi sosial. Seolah-olah setelah seseorang naik podium, hal berikutnya yang harus dilakukan adalah membuka dompet.
Masalahnya, orang melihat hasil, bukan proses. Mereka melihat gelar juara, tetapi belum tentu tahu berapa biaya yang dikeluarkan untuk riset, mencari bahan, menyusun tulisan, mencetak kebutuhan lomba, atau menempuh perjalanan. Mereka melihat hadiah yang bahkan belum cair, lalu telanjur membayangkan meja makan penuh hidangan.
Lomba bukan mesin uang yang sekali ditekan langsung mengeluarkan rupiah. Ada tenaga, waktu, pikiran, dan kadang ongkos yang harus dikeluarkan sebelum hasilnya diketahui. Bahkan, ketika hadiah akhirnya cair, uang itu belum tentu sepenuhnya menjadi uang bebas pakai. Ada kebutuhan kuliah, biaya hidup, dan tanggungan lain yang menunggu giliran.
Akan tetapi, dalam pergaulan, urusan semacam itu sering luput dari percakapan. Kemenangan lebih mudah dibaca sebagai tanda seseorang sedang punya uang daripada sebagai hasil dari kerja panjang yang belum tentu murah.
Di sinilah candaan makan-makan menjadi menarik untuk dibicarakan. Secara individual, orang yang melontarkannya mungkin tidak bermaksud membebani. Bisa jadi ia hanya mengikuti kebiasaan yang lazim dalam lingkaran pertemanan. Kita memang akrab dengan tradisi berbagi ketika seseorang memperoleh kabar baik: ulang tahun, kelulusan, pekerjaan baru, sampai kemenangan lomba.
Berbagi tentu bukan persoalan. Justru ada kebahagiaan ketika rezeki bisa dinikmati bersama. Namun, ada perbedaan antara berbagi karena ingin dan berbagi karena merasa harus.
Ketika traktiran berubah menjadi sesuatu yang seolah-olah wajib, ucapan selamat berisiko kehilangan ketulusannya. Orang yang baru memperoleh kabar baik malah sibuk memikirkan cara memenuhi harapan orang lain. Ia tidak lagi leluasa menikmati pencapaiannya sendiri karena ada kekhawatiran dicap pelit jika tidak mentraktir.
Dalam psikologi sosial, persoalan ini dapat dibaca melalui norma timbal balik, yakni kecenderungan manusia merasa perlu membalas pemberian atau kebaikan. Norma tersebut tidak selalu buruk. Ia bisa merawat solidaritas dan membuat hubungan sosial tetap hangat. Namun, ketika ekspektasi balasan terlalu kuat, kebaikan berpotensi terasa seperti utang yang harus dibayar.
Riset tentang norma sosial dalam pemberian hadiah juga menunjukkan bahwa kebiasaan dan harapan lingkungan dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk memberi. Artinya, persoalannya tidak selalu terletak pada satu orang yang meminta, tetapi juga pada kebiasaan bersama yang pelan-pelan dianggap lumrah.
Barangkali kita perlu bertanya ulang: apakah teman yang menang lomba harus mentraktir agar dianggap tidak lupa diri? Apakah rasa syukur selalu perlu dibuktikan lewat makanan yang dibagikan kepada orang lain? Bukankah seseorang juga bisa bersyukur dengan berdoa, membantu keluarga, menyisihkan uang untuk kebutuhan penting, atau sekadar menikmati hasil kerja kerasnya tanpa harus membuat acara?
Syukur tidak semestinya dipersempit menjadi urusan konsumsi. Makan bersama bisa menjadi bentuk perayaan, tetapi bukan satu-satunya cara untuk merayakan keberhasilan.
Ada ironi lain yang sulit diabaikan. Kita sering mengingatkan orang agar pandai bersyukur, tetapi kadang lupa bahwa orang yang memperoleh rezeki juga perlu mengatur keuangannya. Seolah-olah uang yang datang membawa kabar baik otomatis kehilangan hak pemiliknya untuk menentukan ke mana uang itu harus pergi.
Padahal, menghargai seseorang tidak berarti ikut menentukan penggunaan uangnya. Teman yang baik tentu boleh bercanda soal traktiran. Namun, ia juga semestinya bisa menerima jawaban tidak tanpa mengubahnya menjadi ukuran kemurahan hati seseorang.
Saya sendiri memilih untuk tidak menjadikan kemenangan ini sebagai kewajiban mentraktir. Bukan karena membenci teman atau menganggap kebersamaan tidak penting. Saya hanya ingin menjaga batas antara keinginan berbagi dan tuntutan untuk menyenangkan semua orang.
Dulu, barangkali saya akan merasa tidak enak menolak. Sekarang saya belajar bahwa tidak semua harapan orang lain harus dipenuhi. Menolak satu ajakan makan-makan tidak serta-merta menjadikan seseorang pelit, sebagaimana mentraktir banyak orang juga tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang berhati mulia.
Toh, teman-teman saya tetap makan setiap hari, entah saya menang lomba atau tidak. Maka, kemenangan saya tidak harus menjadi alasan bagi mereka untuk makan dengan menu yang berbeda.
Kalimat itu mungkin terdengar sinis. Namun, ada hal yang perlu kita pahami: kebahagiaan orang lain bukan undangan otomatis untuk menagih bagian dari hasilnya.
Jika suatu hari teman kita menang lomba, mendapat pekerjaan, atau menerima kabar baik lainnya, barangkali cukup ucapkan selamat terlebih dahulu. Jika ingin bercanda soal traktiran, pastikan candaan itu tidak berubah menjadi tuntutan. Dan jika kita sendiri sedang berada di posisi orang yang menang, tidak ada salahnya berbagi ketika memang mampu dan ingin.
Sebab, kabar baik seharusnya membuat seseorang merasa lebih ringan, bukan menambah daftar kewajiban baru. Kemenangan sudah cukup melelahkan untuk diperjuangkan. Jangan sampai setelah berhasil meraihnya, seseorang masih harus berjuang melawan rasa bersalah hanya karena tidak membelikan makan untuk semua orang.
Baca Juga
-
Guru Honorer Bukan Cuma di Indonesia: Ironi dalam Dua Belas Pasang Mata
-
Jangan Anggap Remeh Trailer Kusuriya Season 3, Semua Adegan Punya Petunjuk
-
Bukan Musim Semi, Mengapa Bunga-Bunga Bermekaran Serentak di Jalanan Kota?
-
Kenanga: Ketika Adat Bali Mengikat Cinta dan Membatasi Kebebasan Perempuan
-
Pelukan Suzume dan Pelajaran tentang Inner Child yang Sering Disalahpahami
Artikel Terkait
Kolom
-
Guru Dituntut Mengurus Segalanya, Kapan Bisa Fokus Mengajar?
-
Belum 2040, Krisis Air Sudah Terasa: El Nino Ekstrem Tanda Peringatan Dini
-
Revisi UU Kehutanan Sekadar Tambal Sulam: Siapa yang Sebenarnya Dilindungi?
-
Efisiensi Anggaran Kesehatan Jangan Membuat Pasien BPJS Kehilangan Obat
-
Karhutla Membara, Komunikasi Krisis Para Gubernur Dipertanyakan
Terkini
-
RJ Mitte, Pemeran Walter White Jr. di 'Breaking Bad' Tutup Usia di 34 Tahun
-
Sinopsis Still a Family, Dracin Komedi Keluarga Fan Wei dan Jiang Xin
-
Kisah Fangirl Terjebak Cinta Segitiga di Drakor My Bias, My Boss
-
ADVAN X1 Neo Resmi Rilis: Ponsel Rp1,7 Jutaan, Usung Android 16 dan NFC
-
Call of Duty: Modern Warfare 4 Siapkan DMZ yang Jauh Lebih Ambisius