Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
ilustrasi mengobrol (Pexels/Mike Jones)
e. kusuma .n

Saat scroll sejenak di lini masa TikTok atau mendengarkan obrolan anak muda gaul zaman now, tak jarang kita akan menangkap ritme komunikasi yang unik. Mulai dari slang terbaru hingga campur bahasa telah menjadi soundtrack harian pergaulan Gen Z.

"Gua sebenernya suka banget sama konsepnya, which is secara estetika dapet banget, tapi at least alokasi budget-nya harus di-review lagi"

Penggabungan kata sambung bahasa Inggris “which is” dengan modifikasi lokal “secara” seperti kalimat di atas bukan lagi fenomena asing. Bahasa keseharian seolah sudah mengalami mutasi menjadi dialek siber yang hidup dan melekat erat di jempol serta lisan anak muda.

Namun, fenomena code-mixing ini kerap memicu perdebatan sengit. Di satu sisi, kelompok konservatif langsung menuduh tren ini sebagai perusak kemurnian bahasa nasional. Di sisi lain, anak muda sering didera kecemasan sosial akibat penghakiman tersebut.

Jika kita melihat isu ini dengan kepala dingin, Gen Z sebenarnya tidak perlu merasa berdosa saat mencampur bahasa demi ekspresikan diri selama bisa menguasai seni literasi konteks: tahu kapan dan di mana harus menempatkan bahasa Indonesia yang baku.

Validasi Ekspresi: Mengapa Kita Mencampur Bahasa?

Sebelum menghakimi, kita semua perlu memahami realitas psikologis di balik kebiasaan ini. Gen Z tumbuh di era globalisasi digital di mana mayoritas konsumsi informasinya—mulai dari tutorial pemrograman, tren mode, hingga meme—disajikan dalam bahasa Inggris.

Saat mencoba menarasikan emosi atau pemikiran kompleks di media sosial, otak secara otomatis memanggil kata yang paling cepat diakses dan dirasa paling presisi. Menggunakan “which is” sering kali dirasa memberikan penekanan logis yang instan, sementara “secara” digunakan untuk memberikan latar belakang penjelasan yang kasual.

Mencampur bahasa dalam ruang non-formal menjadi bentuk mekanisme alami dari adaptasi kognitif manusia modern terhadap lingkungan digitalnya. Menghakimi proses organik ini—lewat ‘razia’ tata bahasa atau penghakiman—hanya akan menjauhkan anak muda dari bahasanya sendiri.

Menjinakkan Gengsi dan Memahami Nilai Konteks

Kunci utama dari keseimbangan emosional dan kultural ini adalah kesadaran situasional. Masalah terbesar dari fenomena ini sebenarnya bukan aktivitas mencampur bahasanya, melainkan pada ketidakmampuan sebagian anak muda untuk menarik rem darurat saat situasi berganti.

Nongkrong di kafe, menulis caption Instagram, atau mengobrol di grup WhatsApp adalah ruang-ruang informal tempat kreativitas kebahasaan boleh menari dengan bebas. Di ranah ini, keautentikan rasa jauh lebih penting daripada kesempurnaan ejaan.

Namun, saat menyusun esai akademik, mengirim surel lamaran kerja, atau berbicara dalam rapat formal, bahasa Indonesia yang tertib dan baku wajib ditegakkan tanpa kompromi. Menjadi keren berarti tahu persis kapan harus mengenakan pakaian santai dan setelan jas formal.

Menjadi "Bilingual" yang Berdaya dan Bangga

Alih-alih melihat tren code-mixing sebagai ancaman kepunahan, kita bisa membalik sudut pandang. Gen Z memiliki modal besar untuk menjadi generasi "bilingual" yang sangat tangkas dalam menyerap instrumen komunikasi global tanpa menanggalkan akar budaya lokal.

Anak muda yang mahir menggunakan istilah bisnis atau teknologi internasional secara profesional sekaligus memiliki kebanggaan yang mendalam untuk menuturkan bahasa Indonesia yang bersih dan kaya saat ruang formal menuntutnya akan menjadi kombinasi yang ideal.

Eksistensi keren tidak dibangun dari ketidakmampuan menguasai salah satu bahasa hingga mencampurnya secara berantakan, melainkan dari penguasaan matang atas keduanya dan kecerdasan untuk menempatkannya sesuai.

Berdamai dengan Pilihan Kata

Pergeseran antara “which is” dan “secara” merupakan cerminan dinamika zaman yang tidak bisa dibendung dengan regulasi kaku atau penghakiman massa di kolom komentar. Bahasa Indonesia akan tetap hidup dan berwibawa saat terus digunakan dengan bangga, bukan dikurung dari pengaruh luar.

Untuk Gen Z, berhentilah merasa bersalah secara berlebihan saat mengekspresikan diri secara kasual di dunia maya. Berekspresilah dengan merdeka dan mainkan kata-kata dengan kreatif, tapi selalu rawat komitmen untuk menjaga wibawa bahasa persatuan saat ruang profesional memanggil.

Tampaknya, kita semua juga harus berdamai dengan pilihan kata baru tersebut. Karena identitas nasional yang sejati tidak rapuh oleh tren pergaulan sesaat, melainkan melenting kokoh bersama kedewasaan para penggunanya dalam menempatkan kata.